Penyair Rendra

Jakob Sumardjo
newspaper.pikiran-rakyat.com

UNTUK masa-masa mendatang, Rendra akan lebih banyak dibicarakan sebagai penyair. Karya-karyanya di bidang ini lebih monumental dibandingkan dengan karya-karya drama dan fiksinya (cerpen-cerpen). Sekurang-kurangnya, ia telah menerbitkan sepuluh kumpulan puisi dalam bentuk buku. Memang sejak 1970-an dia dikenal pula sebagai orang teater. Akan tetapi, karier awalnya sebagai penyair sudah dimulai sejak 1950-an.

Saya mulai membaca sajak-sajaknya dalam majalah sastra Kisah yang terbit tahun 1953. Kumpulan sajaknya yang pertama adalah Ballada Orang-orang Tercinta yang terbit pada 1957 dan langsung dihargai hadiah Sastra Nasional dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional (BMKN). Sejak itu, mengalir sajak-sajaknya yang lebih personal sehingga karya-karyanya menjadi saksi zamannya.

Pendidikan Rendra adalah sastra Barat meskipun dia tidak menamatkannya. Ini gejala umum di tanah air bahwa mereka yang kritis dan kreatif sejak masa mahasiswa, jarang yang berhasil mendapatkan gelar kesarjanaannya. Akhirnya, Rendra dihormati dengan pemberian gelar doktor oleh almamaternya. Seniman pada dasarnya seorang penjelajah alam pikiran yang terus-menerus menggali realitas untuk menemukan pola-pola kehidupan budaya zamannya. Karya-karyanya selalu merupakan temuan tesis makna kehidupan bangsanya.

Rendra jelas seorang intelektual yang banyak membaca literatur dunia. Namun, ia selalu bersih dari pengetahuan buku-buku dan berusaha menemukan keautentikan dirinya dalam membaca gejala-gejala zaman. Saya ingat komentarnya ketika pementasan Bip Bop ramai dibicarakan kaum cendekia Indonesia, yakni ketika seorang pengamat tanpa malu-malu menggunakan pendapat Martin Esselin sebagai pendapat pribadinya. “Kalau saya sudah terkencing-kencing di celana,” kata Rendra, yang menunjukkan bahwa dia menguasai medan wacana dunia.

Seperti angkatannya era 1950-an, Rendra bertolak dari pengalaman nyata lokalitasnya. Ia menulis karena dia mengalami, melihat, dan membaca lingkungan hidupnya yang nyata, dan menemukan makna hubungan-hubungan dari struktur realitas. Dia melahirkan semacam “teori” dari realitasnya, dan bukan bermodel teori yang dikunyah dari bacaan-bacaan mondialnya.

Pada awalnya, Rendra memang bersyair agak berdasarkan buku, yakni dalam sajak-sajak baladanya. Bahkan, Subagio Sastrowadoyo menunjukkan banyak kemiripan sajak-sajaknya dengan Fredico Garcia Lorca yang pada 1950-an banyak diterjemahkan oleh Ramadhan K.H. Akan tetapi, dalam Empat Kumpulan Sajak, Rendra menggali makna pengalaman pacaran dan pernikahannya dengan Sunarti. Sajak-sajak itu begitu Indonesia. Ada peniti, bunga kemuning, kampung Bintaran, dengan peristiwa pacaran dan perkawinan yang biasa kita saksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Kemudian, sajak-sajak “Sepatu Tua” berisi kesaksiannya ketika berkeliling dunia sebagai perjalanan penyair, termasuk ke Rusia di zaman Perang Dingin. Dengan satu sajak saja, dia bisa bicara tentang Rusia di bawah Uni Soviet ketika itu, yakni “Gereja Ostankino, Moscow” yang “pintunya mulut sepi, rapat terkunci, derita lumat dikunyahnya”. Juga sajak-sajak sederhana dalam lingkup pergaulannya di Yogya. Semua itu bertolak dari pengalaman-pengalaman sehari-hari kita juga, namun selalu luput dari makna. Dan, Rendra tiba-tiba memperlihatkan nilai-nilai tersembunyi yang muncul dari apa yang biasa kita lihat.

Ketika dia lebih banyak aktif di ibu kota sejak 1970-an, sajak-sajaknya menjelajah pengalaman-pengalaman nasional. “Nyanyian Angsa” dan “Bersatulah Pelacur Kota Jakarta” disatukan dengan pengalaman dan pemaknaan ketika dia di Amerika Serikat. Puncak dari Rendra Menggugat Indonesia terjadi pada 1980-an, ketika sajak-sajaknya syarat dengan kritik ketimpangan kekuasaan Orde Baru. Saya kira di sinilah, dalam karya-karyanya ini, seperti Nyanyian Orang Urakan, Disebabkan oleh Angin, Orang-orang Rangkasbitung, Mencari Bapa, di samping karya-karya teaternya yang subur zaman itu. Rendra seorang sastrawan-cendekiawan yang berani menggugat ketidakadilan, kesemena-menaan, dan kepalsuan yang dilakukan rezim kekuasaan sehingga ia menjadi semacam “musuh negara”, seperti dilakukan Boris Pasternak atau Alexander Solzhenitsyn. Rendra berkali-kali berurusan dengan penguasa dan ditahan.

Penyair Rendra pada waktu itu sering dikecam oleh sesama penyair sebagai mengorbankan estetika-puitika demi masalah-masalah sosiopolitik. Dia termasuk kategori “sastra terlibat”. Akan tetapi, bukankah begitu banyak sastrawan dan penyair di dunia ini yang berkarya lantaran kepedulian mereka yang intens terhadap nasib dirinya dan nasib bangsanya yang sedang menderita tindasan-tindasan kekuasaan? Masalah-masalah psikologi-personal memang pernah juga dilakukan Rendra di masa-masa mudanya, tetapi setelah itu, masalah psikologi-personalnya lebih berkaitan dengan nasib rakyat umumnya.

Renda pernah menyatakan bahwa dirinya makhluk “di atas angin”. Memang dia di awang-awang kekosongan, dunia ide-ide yang diperasnya dari hidupnya yang lelah dan berkeringat di bumi Indonesia ini. Penyair, intelektual, mencari “pola-pola kosong” itu dari kenyataan yang dikenalnya. Dan, pola-pola inilah yang kemudian diwujudkan dalam karya-karyanya, baik sajak maupun teater. Karya-karya itu sekadar “pengisian wujud” agar muncul struktur-struktur yang mudah dikenali.

Selamat jalan, Mas Willy.***

*) Penulis, budayawan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *