Mengenang Sjahrir via Puisi Chairil

Moh. Samsul Arifin
jawapos.co.id

BUNG, aku bisa merasakan luka yang merasuk hingga tulang-tulangmu. Juga, luka yang menular di sekujur orang-orang terdekatmu: Siti Wahjunah, Soedjatmoko, dan dua anakmu -Kriya Arsyah (Buyung) dan Siti Rabyah Parvati (Upik). Saat kau ditahan di Rumah Tahanan Militer di Jalan Budi Utomo, Jakarta, kau menghuni kamar sempit dan lembap.

Pada suatu malam Februari 1965, kau terkapar di lantai kamar mandi. Semalaman kau menahan sakit. Mentari bersinar, kau dibawa ke rumah sakit. Sempat dioperasi, tapi setelah siuman kau tak pernah bisa bicara lagi. Stroke yang kau derita terlampau jurah. Sejak saat itu, kau kehilangan kontrol terhadap tubuhmu.

Ibu Poppy, istrimu, lalu minta izin kepada pemerintah untuk mengobatkanmu di luar negeri. Sempat terpikir negera Belanda. Lantaran dilarang ke Negeri Tulip itu, takdir membawamu ke Zurich, Swiss. Dalam sakit kau tetap tahanan politik pemerintah berkuasa. Sjahrir jadi tahanan politik setelah difitnah tengah merencanakan persekongkolan untuk menjatuhkan pemerintahan Soekarno. Dia ditahan bersama sejumlah tokoh pada 1962.

Sorot mata dan gerak tubuh menggantikan bahasa verbalmu. Kau yang dulu strategis di medan diplomasi akhirnya terkunci oleh tirani kekuasaan dan sakit yang membuncah. Itu jalan akhir yang mungkin tak pernah kau bayangkan Bung -seperti juga batalnya kau kembali ke Belanda untuk melanjutkan studi hukum di Amsterdam pada 1933. Belanda menerapkan hukum besi kepada aktivis PNI Pendidikan. Kau dibuang ke Boven Digul sekitar Januari 1935. Lalu dipindah ke Banda Neira hingga Jepang datang merontokkan kompeni Belanda. Di dua lokasi pembuangan itu, kau bersama kawan sejatimu, Mohamad Hatta!

Seandainya kemenakanmu, Chairil Anwar, tak mati muda, entah apa yang akan ditorehkan dalam bait-bait puisinya. Mungkin dia berteriak atau bahkan berontak keras. Sejak awal Chairil memahatmu dalam sajaknya, Krawang-Bekasi.

//Kenang/ kenanglah kami// Teruskan/ teruskan jiwa kami// Menjaga Bung
Karno/ Menjaga Bung Hatta/ Menjaga Bung Sjahrir// Kami sekarang
mayat// Berilah kami arti// Berjagalah terus di garis batas pernyataan
dan impian//

Chairil hendak berpesan kepada bangsanya bahwa Soekarno, Hatta, dan Sjahrir adalah tiga serangkai. Kepada Soekarno, penyair bohemian itu membuat Persetujuan dengan Bung Karno: //Ayo! Bung Karno kasi

tangan/ mari kita bikin janji// Aku sudah cukup lama dengar bicaramu/
dipanggang atas apimu/ digarami oleh lautmu//

Kata-kata Bung Karno menancap kuat dalam sanubari rakyat, termasuk bagi seorang Chairil. Beribu sayang Chairil mati muda -setelah menuntaskan dua puisi di atas pada 1948. Belum 26 tahun, Chairil mangkat pada 28 April 1949, setahun selepas dua puisi yang menunjukkan intensitas dan keintimannya ”menjaga” tiga serangkai pendiri Indonesia itu.

Berebut kemudi wajar belaka dalam politik. Bung, kau berada di garis depan antara 1945-1949. Pernah menjadi perdana menteri/menteri luar negeri hingga penasihat presiden. Bung Hatta pernah jadi wakil presiden, juga perdana menteri Republik Indonesia Serikat. Adapun Bung Karno terus-menerus menjadi kepala negara, mungkin eksekutif namun simbolis -setidaknya demikian di mata wartawan empat generasi yang hingga sekarang tetap intim dengan sejarah republik, Rosihan Anwar.

Bukankah politik bukan misi pertama dan pokok -apalagi tujuan bagimu, Bung? Politik meminangmu karena bangsa ini memerlukan sentuhan tanganmu untuk mengantar rakyat lepas dari penderitaannya. Maka kau ikhlas saja, ketika Belanda membuangmu ke Digul dan Banda Neira. Konon penderitaan rakyat makin membuatmu cinta kepada negeri ini. Adapun kekuasaan adalah sejarah menang dan kalah yang lebih banyak ditentukan angka statistik, kadang sedikit kelicikan. Ya, to?

Bung, kau sungguh flamboyan sebagai pria. Kau tuntas mengejar perempuan hingga bersama dalam pelaminan. Maria Johanna Duchateau kau ”rebut” dari Solomon Tas, karibmu. Di rumah Tas, asmara tumbuh antara kau dan Maria. Panggilan sayangmu pada perempuan peranakan Belanda-Prancis itu adalah Mieske. Saat Bung pulang ke tanah air pada 1932 untuk menyiapkan PNI Pendidikan, Maria ikut bersamamu. Tapi, kolonial Belanda campur tangan, bahkan untuk urusan asmaramu. Singkat cerita, Belanda memulangkan Maria ke negerinya. Meski begitu, kau tak kehilangan Maria seluruhnya. Justru korespondensi dengan Maria dari tempat pembuangan membuatmu punya kekuatan. Mungkin juga alasan untuk hidup.

Setelah terlempar dari medan kekuasaan alias tak lagi berada di pemerintahan, kau menjelajahi Eropa dengan misi utama menggamit pujaan hatimu, Siti Wahjunah. Perempuan itu sudah terlampau dekat dan tertanam kuat dalam hatimu. Pernah membantu tugas-tugas administrasimu. Kau terpikat, maka di depan adiknya, Soedjatmoko, kau nikahi Siti Wahjunah di Mesir pada 1951.

Kuterka pastilah kau yang menjadi inspirasi pujangga Sutan Takdir Alisjahbana menulis novel Grotta Azzura yang menceritakan pelarian tokoh sosialis ke Eropa. Tokoh utamanya seorang Indonesia bernama Ahmad. Dia seorang sosialis yang terjerat asmara dengan seorang perempuan Prancis, Janet. Dua sejoli itu kemudian menyambangi lokasi-lokasi wisata yang memikat di Italia. Itu dunia fiksi STA di mana Ahmad ”bertukar tangkap” dengan kau di dunia nyata. Apa pasal? Dikehidupan nyata, Bung dan Poppy-lah yang berbulan madu ke Italia. Berkunjung ke Pulau Capri, Kota Florence dan Venesia.

Setelah menjemput kebesaran di usia belia, kau memetik tragedi di akhir hayat. Dalam tahanan politik, kau berpulang di Zurich, Swiss, 9 April 1966. Dokter di sana tak lagi mampu membantu setelah dirimu koma tujuh hari. Saking jauh dari tanah air, kau baru bisa dikebumikan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, sepuluh hari kemudian. Entah basa-basi atau sungguh-sungguh karena melihat jasa dan baktimu bagi ibu pertiwi, penguasa memberimu gelar pahlawan lewat sebuah dekrit.

Dengan masygul, Bung Hatta berujar di depan pusara, ”Sjahrir yang mengandung dalam kalbunya cita-cita besar itu, hidupnya hanya berjuang, menderita dan berkorban untuk menciptakan supaya rakyat Indonesia merdeka dari segala tindasan. Dia berjuang untuk Indonesia merdeka, melarat dalam perjuangan Indonesia merdeka, ikut serta membina Indonesia merdeka, tetapi dia sakit dan meninggal dalam tahanan Republik Indonesia yang merdeka.”

Lalu Hatta berujar lagi, ”Penghormatan luar biasa yang diberikan pada upacara ini dan simpati berpuluh ribu orang banyak yang mengikuti pemakaman Sjahrir ini dari dekat dan dari jauh dengan khidmat, semoga menjadi obat daripada luka…Setelah sedih dan rindu, anak-anak dan turunan Sjahrir dapat merasa bangga bahwa mereka turunan seorang pahlawan.”

Bung, sejarah hidup dan kiprahmu menyantuni republik berujung ironi. Benar ucapan salah seorang yang dekat denganmu, T.B. Simatupang, ”Tragedi dan kebesaran memang bertemu dalam hidupmu.” Tapi, meminjam puisi kemenakanmu, Chairil Anwar, agar peranmu bergema dan punya arti, yang bisa kami lakukan saat ini adalah berjaga terus di garis batas pernyataan dan impian. Maklum, negeri kita belum mencapai adil, makmur, dan sejahtera seperti yang kau cita-citakan.

*) Penulis buku ”Perempuan Punya Pilihan!”

Istilah pencarian yang masuk:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*