Puisi di Tanah Perburuan

Musmarwan Abdullah
http://blog.harian-aceh.com/

DAN begitulah kenangan suatu malam bersama Idrus K. Rani buyar karena sayup-sayup saya mendengar suara percakapan dari kegelapan kaki bukit. Kawan-kawan baru keluar dari hutan menuju ke arah saya. Ketika dekat, baru saya tahu, tak satu pun buruan mereka dapat. Mereka kasihan pada saya yang telah menunggu lama. Dan, tentu saya lebih kasihan lagi pada mereka yang telah berlelah-lelah tanpa hasil. Continue reading “Puisi di Tanah Perburuan”

Tradisi Yang Tak Diam: Pementasan Teater “Siti Baheram (bukan dunia luar pagar)”

Y. Thendra BP

Tiga tukang kaba di atas tiga level, tampak seperti tungku. Di tengahnya, para penari dengan rebana kecil memainkan tari Indang, serupa api yang sedang menyala. Ditingkahi dendang dan alat musik Minangkabau (Saluang, Bansi, Rabab, dan Talempong yang silih berganti). Tiga tukang kaba itu melantunkan kisah, sahut menyahut. Continue reading “Tradisi Yang Tak Diam: Pementasan Teater “Siti Baheram (bukan dunia luar pagar)””

Gola Gong, Jangan Ditiru!

Makmur Dimila *
blog.harian-aceh.com

Ketika berusia 41 tahun, Gola Gong yang mulai bertangan satu sejak berusia 10 tahun menulis autobiografinya. Ia merasa setengah hati menulisnya, namun hati lelaki bernama asli Heri Hendrayana H itu berteriak terus.

Tangan kanannya tak kuasa menahan gejolak jiwa. Kelima jarinya tak mau diam. “Aku ingin dibaca! Aku ingin dibaca!” Begitu batinnya saat itu, mengenang sebuah nama idamannya: Multatuli, nama pena dari Eduard Douwes Dekker, pengarang novel hebat Max Havelaar. Di mana di pengantar novel itu, Multatuli menggoreskan kata sakti, “Ya, aku bakal dibaca!”. Continue reading “Gola Gong, Jangan Ditiru!”

Karya dan Inspirasi

Thayeb Loh Angen
blog.harian-aceh.com

Deraan bencana buatan manusia (perang) dan bencana alam (hantaman laut) telah menjadi isi karya seni di Aceh. Percintaan pun mendominasi hasil karya-karya tersebut, tapi yang paling mendominasi adalah “gun and rose” (senjata dan bunga ‘gadis’).

Lahirnya novel-novel dan cerpen serta puisi bertema perang adalah sebuah contoh bahwa perang telah menjadi luka yang tidak terobati di Aceh. Tidak seorang pun bisa mengobati ini selain yang terluka memaafkannya. Continue reading “Karya dan Inspirasi”

PERNYATAAN SIKAP FORUM PEDULI BUDAYA ALAM MINANGKABAU (F-PBAM)

Setelah membaca dan mencermati laporan pertunjukan Teater Sakata di Harian Jogja, Senin, 4 Mei 2009, halaman 12 berjudul “Pentas 3 Perempuan: Angkat Konflik Perempuan di Rumah Gadang” ide dan sutradara Tya Setiawaty, Sabtu, 2 Mei 2009, bertempat di Studio Teater Garasi Yogyakarta, kami menemukan kejanggalan yang sangat fatal dalam paragraf pertama laporan tersebut, yakni pada kalimat: Apalagi, adat Minangkabau yang memperbolehkan perkawinan poliandri, satu perempuan menikah dengan banyak laki-laki. (dokumentasi terlampir) Continue reading “PERNYATAAN SIKAP FORUM PEDULI BUDAYA ALAM MINANGKABAU (F-PBAM)”

Bahasa ยป