Ana Maria Matute, Penulis Terbaik Spanyol Pasca Perang Sipil

Yulia Permata Sari
http://www.mediaindonesia.com/

DI usianya yang senja, novelis Spanyol Ana Maria Matute berhasil memenangkan Cervantes Prize, sebuah kehormatan sastra tertinggi di dunia untuk karya berbahasa Spanyol, belum lama ini. Penulis berusia 85 tahun itu, dianggap sebagai salah satu penulis terbaik Spanyol pasca-Perang Sipil, dengan karya-karya yang sering berpusat pada konflik.

Matute adalah perempuan ketiga yang berhasil menyabet penghargaan itu sejak diciptakan pada 1974. Maria Zambrano asal Spanyol dahulu menerima penghargaan itu pada 1988, disusul oleh penulis Kuba Dulce Maria Loynaz pada 1992.

”Saya menganggapnya sebagai sebuah pengakuan. Jika bukan untuk kualitas pekerjaan saya, maka setidaknya atas upaya dan dedikasi saya yang telah mengabdikan diri untuk menulis sepanjang hidup saya,” tuturnya.

Matute dilahirkan di Barcelona pada 26 Juli 1925. Anak kedua dari lima bersaudara itu, berasal dari sebuah keluarga kelas menengah yang konservatif. Sebagian besar masa kecilnya dihabiskan di Madrid. Meski demikian, hanya sedikit kisah novelnya yang mengambil latar di sana.

Pada usia 4 tahun, perempuan yang kini menjadi profesor universitas itu pernah nyaris meninggal akibat infeksi ginjal kronis. Ketika usianya menginjak 10 tahun, pecah Perang Saudara Spanyol pada 1936, yang kemudia memberi dampak terbesar terhadap tulisan-tulisan Matute.

Sebagian besar fiksi yang tergurat dari penanya, mencerminkan pengalaman Matute sebagai remaja selama Perang Saudara Spanyol berkecamuk. Dalam prosa lembut dan sederhana, ia menuliskan tentang kekerasan, keterasingan, penderitaan, dan kesedihan mendalam yang mengiris sukma.

Sejumlah karya yang telah dihasilkannya termasuk ‘Los Abel’ (1948), ‘Fiesta al noroeste’ (1952; tr. ‘Celebration in the Northwest’, 1997), ‘Los hijos muertos’ (1958; tr. ‘The Lost Children’, 1965), dan ‘Los soldados lloran de noche’ (1977; tr. ‘Soldiers Cry by Night’, 1995).

Pengalaman masa perang Matute tecermin dalam tiga novel semiotobiografi yang ditulisnya, ‘Primera memoria’ (1963; tr. ‘First Memory in School of the Sun’, 1989), ‘La trampa’ (1973; tr. ‘The Trap’, 1996), dan ‘LuciErnagas’ (1993, tr. ‘Fireflies’, 1998). Sementara itu, sejumlah cerita pendeknya diterjemahkan dalam sebuah buku berjudul ‘The Heliotrope Wall and Other Stories’ (1989).

Novelnya diterjemahkan

Di antara sejumlah novel populernya yang telah diterjemahkan ke dalam 23 bahasa, termasuk ‘Los Abel’ (‘The Abels’), ‘Los Soldados Lloran de Noche’ (‘Soldiers Cry By Night’), dan ‘La Trampa’ (‘The Trap’), yang menggambarkan masa dan atmosfer kala Perang Saudara Spanyol.

Penulis yang dikenal dengan gaya lirisnya itu, sering berkisah seputar kehidupan anak-anak dan remaja. Ia juga dikenal berkat buku anak-anak dan novel dewasa muda yang ditulisnya, termasuk ‘Los Ninos Tontos’ (‘The Stupid Children’) dan ‘El Verdadero Final de La Bella Durmiente’ (‘The True Story of Sleeping Beauty’).

Pemenang Hadiah Nobel untuk Sastra tahun ini, Mario Vargas Llosa asal Peru, mengatakan Matute layak mendapatkan penghargaan tersebut sejak lama. ”Tapi, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali,” katanya.

Kesedihan

Pada 1952, Matute menikah dengan Ramon Eugenio de Goicoechea, yang juga berprofesi sebagai penulis. Pasangan tersebut dikaruniai seorang putra, Juan Pablo, kepada siapa Matute mendedikasikan berbagai kisah anak-anak yang ditulisnya.

Malangnya, pasangan itu bercerai pada 1965. Pascaperceraian tersebut, Matute dilarang menemui anaknya karena hukum memberikan hak asuh penuh kepada mantan suaminya, Meski kejadian itu menyebabkan kesedihan mendalam baginya, Matute menolak menggunakan kesengsaraan tersebut sebagai bahan untuk cerita mana pun.