kr.co.id 24 May 2003
MARI MENYANYI
mari bernyanyi
di antara langit dan bumi
tembang cinta yang terlupa
yang menjadi candu
ketika gigil rembulan
mengurai air mata Continue reading “Puisi-Puisi Ahmad Syauqi Sumbawi”
kr.co.id 24 May 2003
MARI MENYANYI
mari bernyanyi
di antara langit dan bumi
tembang cinta yang terlupa
yang menjadi candu
ketika gigil rembulan
mengurai air mata Continue reading “Puisi-Puisi Ahmad Syauqi Sumbawi”
kr.co.id 24 Mai 2003
PENGUNGSI
kami ini barisan
achordeon dada
dengan paru-paru separuh
rompi zirah indian
jajaran bilah rusuk
setiap saat didera cuaca Continue reading “Puisi-Puisi Beni Setia”
Idrus F. Shahab, Mustafa Ismail, Yuswardi A. Suud, Nurdin Kalim, F. Dewi Ria Utari
majalah.tempointeraktif.com
Allah hai do do da idi/ Boh gadong biye boh kaye uteun/ Rayeuk si nyak hana peu ma bri/ Aib ngon keji ureung donya keun. (lirik Do do da idi)
Suara perempuan itu seperti semilir angin: bertiup perlahan, hilang perlahan. Di layar kaca, tubuh-tubuh bocah berjajar rapi, mata dan rahangnya terkatup. Tubuh-tubuh kecil yang tak lagi bergerak, beku, tapi suara Cut Aja Rizka Syarfiza, personel kelompok Nyawoung, mendendangkan sebuah lullaby, satu dendang pengantar tidur, Do do da idi. Kita tahu, Do do daidi bukan lagu sedih. Nada-nadanya bergerak lambat dalam skala mayor, tapi pesannya mendalam: jangan pernah takut pada kematian, jika itu merupakan pengorbanan untuk tanah air. Continue reading “Requiem untuk Aceh”
Khalid Yogi
http://www.suaramerdeka.com/
Selama ini, seni sastra banyak didominasi oleh karya dari wilayah kota atau setidaknya pesisir pantai. Karya-karya yang muncul dari sastrawan pedesaan pun juga bermunculan menghiasi dunia kata-kata ini. Namun, meriahnya dunia sastra belakangan ini tampaknya kurang menyentuh kreativitas masyarakat pegunungan untuk menghasilkan karya tersendiri. Continue reading “Sastra Belum Membudaya di Masyarakat Pegunungan”
L.K. Ara
majalah.tempointeraktif.com
Wo wo wo Redines Lukup Sabun ku ine”. Baris ini merupakan pembuka nyanyian To’et dalam puisi yang berjudul Redines. Puisi ini menggambarkan tanah longsor di daerah perkebunan Lukup Sabun di dataran tinggi Gayo, Kabupaten Aceh Tengah. Digambarkan dalam puisi itu air tiba-tiba tercurah dengan deras lalu meluluh-lantakkan sekitar. Rumah-rumah roboh dan kebun kopi hancur. Dilukiskan juga secara detail bagaimana seorang petani Lukup Sabun ketika pulang dari kota terkejut menyaksikan bencana yang terjadi. Rumahnya hanyut, keluarga meninggal. Isyarat ini rupanya telah tergambar dalam mimpinya. Ia bersama istri naik perahu mengenakan kain putih lalu mendayung dan berputar-putar. Continue reading “Ekspresi Puitis Aceh Menghadapi Musibah”