Mendengar Nyanyian Penyair, Renungkan Kehidupan

Judul : Ketika Penyair Bernyanyi
Karya : Ngurah Parsua
Penerbit : Pustaka Ekspresi, 2010
Tebal : 157 halaman
Peresensi : Nuryana Asmaudi S.A.
http://www.balipost.co.id/

PENYAIR adalah manusia yang bergerak di dunia seni puisi, Puisi terlahir dari tangan penyair lewat aktivitas kreatif yang dia tekuni. Ia memilih, atau bisa jadi juga “terpilih”, masuk dalam wilayah kehidupan seni tersebut secara sadar maupun tak sadar, sehingga jiwa-pikiran-imajinasi-ucapan serta perilakunya selalu berada dalam kondisi kehidupan yang puitik. Dari tangannya mengalir karya sastra berkat perenungan, suara hati, dan bisikan alam-kehidupan, yang diekspresikan dalam bentuk puisi. Sebuah takdir, sekaligus anugerah, kehidupan yang tak hanya tak bisa dihindari melainkan juga harus disyukuri.

Ngurah Parsua adalah salah seorang penyair yang bersedia menerima dan mensyukuri takdir-anugerah kepenyairan tersebut. Karenanya dari tangannya banyak lahir puisi. Ia bahkan tak henti-henti menuliskan puisi yang dianugerahkan padanya setiap saat, sepanjang waktu, sejak semasih usia remaja hingga sekarang. Dalam keadaan apapun, termasuk di tengah kesibukannya saat masih berdinas kerja formal sebagai pegawai negeri widiasmara pada Kantor Dinas Koperasi Propinsi Bali, ia luangkan waktu untuk menulis puisi. Tak mengherankan kalau puisi buah tangan Ngurah Parsua tersebar di perbagai media massa baik koran, majalah, jurnal, hingga buku kumpulan puisi.

Buku Ketika Penyair Bernyanyi adalah salah satu rumpunan puisi Ngurah Parsua. Buku ini memuat 119 buah puisi goresan Parsua sejak 1969 – 1998, merupakan puisi yang ditulis (dan diseleksi) dalam rentang waktu tersebut. Di samping itu banyak puisi lainnya yang dia rangkum dalam antologi puisi yang lain pula. Mungkin itu salah satu cara yang ditempuh Parsua untuk mengumpulkan dan mengklasifikasi puisi-puisinya sesuai dengan tema, jenis, dan nafas puisi-puisi tersebut, agar lebih mudah didekati-dinikmati pembaca. Sebab penyair sepuh Bali tersebut menulis puisi dalam beragam tema dan jenis, baik yang terkait dengan alam-lingkungan, sosial, cinta, hingga relegius. Dengan perangkuman puiisi sesuai jenisnya, imajinasi dan pikiran pembaca bisa lebih terkonsentrasi dan tidak meloncat-loncat. Begitulah nampaknya maksud Parsua.

Kemasan Baru

Kumpulan puisi Ketika Penyair Bernyanyi (KPB) ini sudah pernah diterbitkan. Ini adalah terbitan (bukan cetakan) ke dua. Terbitan pertama oleh Balai Bahasa Denpasar bekerjasama dengan Lembaga Seni Indonesia Bali. Puisi dalam buku ini diklasifikasi menjadi tiga bagian. Bagian pertama, memuat puisi yang ditulis dari tahun 1969 – 1979, diberi tajuk (sub-judul) Lagu Petani Indonesia.Bagian kedua, puisi yang ditulis dalam rentang waktu 1980 – 1982. Bagian ketiga, memuat 44 buah puisi.

Puisi Ngurah Parsua dalam buku ini banyak berbicara tentang renungan hidup yang terbersit dari peristiwa alam dan pergaulan hidup sehari-hari, yang disajikan lewat bahasa ungkap yang jernih, santun dan jujur, bak perawan desa yang polos, jujur dan lugu, tidak tampil menor dan bergincu-gincu; juga seperti nyanyian-kidung yang dikumandangkan secara spontanitas mengungkapkan perasaan, pikiran, suasana hati dengan kata-kata atau kalimat yang tak direka-reka atau diindah-indahkan nada-suaranya. Kata-kata meluncur seperti rinai gerimis yang bikin nyaman dipandang, bukan hujan-deras (kata) yang menghentak dan bikin kalang kabut pembaca. Pembaca, terutama kalangan sastra dan penikmat-pengapresiasi puisi, bisa santai dan asyik memasuki dunia imaji sang penyair dalam puisi tersebut tanpa perlu tergopoh-gopoh dan memeras otak-pikirannya untuk memahaminya. Dengan kesederhanaan bahasa ungkap dan simbul yang dipakai, justru kita bisa merasakan dan menangkap-pahaminya kandungan makna-pesan yang terlontar dan justru disitulah indah-nikmatnya- seperti menikmati keindahan gerimis atau mendengarkan kidung-nyanyian di alam terbuka. Dengan kesederhanaan itu apakah pembaca bisa merasakan dan mengkap makna sampai saripatinya atau tidak, tergantung pembaca sendiri. Artinya, siapapun yang membaca puisi dalam buku ini bisa -dan boleh- menangkap-pahami sesuai keadaan, alam pikir dan pengalaman batin masing-masing. Bagi orang yang pengalaman batinnya dalam, tentu bisa mengkap-rasakan makna sampai saripatinya. Sementara, pembaca-penikmat puisi pemula, misalnya, boleh memahami sebatas kata atau bentuk luar dari buah puisi tersebut, serta mencecap isinya sesuai imajinasi dan pengalaman rasa lidah-batinnya.Setiap kerja manusia memang selalu ada kekurangsempurnaan. Yang pasti, Ngurah Parsua telah menghadirkan kembali puisi-puisinya dalam buku KPB terbitan kedua ini. Maka, kita berhak, boleh, juga ada baiknya mengoleksi, membaca dan nikmatinya lagi.