Lembar-lembar Gelap Seorang Pram

Andari Karina Anom
tempointeraktif.com

SECARIK surat mendarat di meja panitia hadiah Magsaysay di Manila, Filipina, pada Juli 1995. Dua puluh lima sastrawan dan budayawan kenamaan Indonesia membubuhkan tanda tangan di lembaran itu. Mochtar Lubis, salah satu peneken surat itu bahkan mengembalikan hadiah Magsaysay yang pernah diterimanya sebagai tanda “berduka”.

Mereka memprotes diberikannya penghargaan sastra itu kepada Pramoedya Ananta Toer karena “peran tidak terpujinya pada masa paling gelap bagi kreativitas di zaman Demokrasi Terpimpin, ketika dia memimpin penindasan sesama seniman yang tidak sepaham dengan dia.” Continue reading “Lembar-lembar Gelap Seorang Pram”

Plagiat dan Kegersangan

Teuku Kemal Fasya
http://edukasi.kompas.com/

Wajah perguruan tinggi Indonesia kembali biru-lebam. Seorang guru besar Jurusan Hubungan Internasional Universitas Katolik Parahyangan dituduh melakukan plagiarisme atau penjiplakan tulisan Carl Ungerer, penulis asal Australia.

Menurut pernyataan The Jakarta Post, artikel ”RI as a New Middle Power” adalah copy-paste dari tulisan yang diterbitkan di sebuah jurnal politik dan sejarah di Australia, ”Middle Power: Concept in Australian Foreign Policy” (The Jakarta Post, 4/2). Kasus ini memang akhirnya membongkar praktik plagiarisme sang profesor yang telah dilakukan enam kali (Kompas, 10/2). Continue reading “Plagiat dan Kegersangan”

Cara Bode Membangun Khayalan

Abdul Aziz Rasjid
Radar Tasikmalaya, 16 Mei 2010

Tak jarang orang membangun khayalan sepanjang hidupnya. Tetapi sayang, ketika seseorang terus beranjak dewasa, khayalan hanya ditanggapi sebagai dunia permainan anak. Khayalan dipandang tak logis, kurang mendapat perhatian dan tanpa disadari ikut memutih bersama tumbuhnya uban di kepala.

Khayalan menjadi cara menumpahkan emosi, membayangkan dunia tersendiri yang diidamkan sambil membangun apa yang mewakili perasaan dengan memfungsikan segala sesuatu yang diterima oleh indera. Setiap khayalan dalam motif itu, berpangkal pada keinginan yang belum tercapai, bertujuan melakukan perbaikan dari kenyataan-kenyataan yang ada. Continue reading “Cara Bode Membangun Khayalan”

Pursuit of Happyness: Pengejaran atas Sebuah Kebahagiaan

Ary Wibowo
http://pawonsastra.blogspot.com/

DIILHAMI dari kisah nyata Chris Gardner seorang pialang saham sukses, film yang disutradarai Gabriel Muccino berhasil memotret realita kehidupan warga Amerika sebenarnya.

Pursuit of Happyness menceritakan sebuah pergumulan hidup seorang ayah muda dan anak lelakinya. Tak seperti film-film keluarga produksi Hollywood yang lain, film ini justru jauh dari nuansa keluarga yang ideal yang kondisinya mapan dan bahagia. Dalam film yang berdurasi 90 menit ini, anda akan diajak menyaksikan potret kehidupan sosial orang-orang jelata Amerika. Continue reading “Pursuit of Happyness: Pengejaran atas Sebuah Kebahagiaan”

Wates dan Sastra “Gado-Gado”

Marwanto *

Wates, kota kecil nan sepi di wilayah Kabupaten Kulonprogo (sekitar 30 kilometer sebelah barat kota Yogyakarta) itu, mungkin tak membayangkan bakal didatangi sejumlah sastrawan kondang negeri ini. Namun, demikianlah yang terjadi pada Minggu, 13/01/08. Dua komunitas sastra di kabupaten tersebut, yakni Lumbung Aksara (LA) dan Sanggar Seni-Sastra Kulonprogo (Sangsisaku) menggelar helat: Temu Sastra Tiga Kota (Purworejo, Kulonprogo, Yogyakarta). Continue reading “Wates dan Sastra “Gado-Gado””

Bahasa »