Bahasa Lampung, Tergerus di Tanoh Lampung

Laila Putri Rizalia
Siger Post, Edisi 25/TH I, 16-22 Agus 2010

WARISAN kebudayaan secara turun-temurun dihibahkan dari generasi ke generasi di tanah Sang Bumi Ruwa Jurai. Karena itu, bahasa, tarian, sastra, dan budaya Lampung lainnya seharusnya terpatri, baik di jiwa maupun raga setiap masyarakat Lampung. Ironisnya, di abad ini, bahasa Lampung justru terkucil di kandanynya sendiri.

Harus disadari, bahasa Lampung tidak membumi di Tanah Kopi ini. Hanya segelintir orang yang menguasai bahasa ini. Apalagi yang mau menggunakannya pada setiap kesempatan. Beragam alasan muncul terkait ketidakberdayaan bahasa Lampung.

Kantong Budaya Terkepung

Keprihatinan atas kondisi bahasa Lampung dirasakan Zulkarnain Zubairi, sastrawan peraih Hadiah Sastra Rancage 2008 lewat bukunya Mak Dawah Mak Dibingi. “Bahasa Lampung masih ada, tetapi kondisinya memprihatinkan. Saya rasa keadaan ini terjadi pada semua bahasa daerah yang ada di Indonesia. Hanya memang bahasa Lampung sangat parah,” katanya mengawali perbincangan.

Dia mengatakan, penutur bahasa Lampung dari tahun ke tahun menurun dari segi jumlah dan komposisi penduduk. Di Bandar Lampung sendiri, kata jurnalis yang memiliki nama pena Udo Z. Karzi ini, ada semacam kantong-kantong budaya pada beberapa tempat seperti Negeri Olok Gading, Kedamaian, Pakis Kawat, dan lainnya yang bertutur dalam bahasa Lampung dalam keluarga dan lingkungannya.

Namun, dia menyayangkan kantong-kantong budaya ini terkepung oleh kantong-kantong budaya lainnya yang jumlahnya lebih unggul. “Dari pemetaan bahasa, secara kuantitas jumlah penutur terus berkurang. Sebab, lokasi mereka berjauhan dan keengganan menggunakan bahasa Lampung,” duganya.

Disinggung mengenai keberagaman dialek dalam bahasa Lampung, Udo mengatakan hal itu tidak menjadi kendala berarti dalam perkembangan bahasa Lampung. Sebab, pada dasarnya lebih dari 80 persen seluruh logat dan dialek Lampung sama.

Terkait kebijakan yang baru diterapkan Pemerintah Kabupaten Tulangbawang mengenai penggunaan bahasa Lampung, Udo menyatakan hal itu sangat efektif. Terlebih di daerah Menggala yang masyarakatnya masih memegang era budaya. Jika kebijakan tersebut diterapkan di kota atau kabupaten lain, seharusnya bisa efektif pula, meskipun pada kota atau kabupaten tertentu merupakan kantong budaya non-Lampung seperti Metro, Pringsewu, dan Mesuji.

Dia menaruh harapan besar pada pada lembaga pendidikan seperti Universitas Lampung (Unila) untuk membuka kembali Program Studi S1 Bahasa Lampung. Kemudian kepada penulis dan pengarang untuk memperbanyak bacaan masyarakat dalam bahasa Lampung. Termasuk juga penerbit agar mau memberi kesempatan pada bahan bacaan berbahasa Lampung. Dan yang terutama pemerintah daerah dengan regulasi-regulasi yang mengarah ke pembumian bahasa Lampung.

Dia juga berharap pada pihak swasta untuk berkenan meluangkan dana tanpa mengharapkan keuntungan material. “Memang ini usaha nirlaba. Anggaplah menyebarkan kekhazanahan budaya dengan kekayaan yang tidak ternilai. Dalam prakteknya, saya sudah sampai mengemis-ngemis,” katanya galau.

Fokus pada Dua Bahasa

Pendapat senada dikemukakan Kepala Kantor Bahasa Provinsi Lampung Muhammad Muis. Dia melihat bahasa Lampung kurang gencar bergaung, terutama dalam tataran Kota Bandar Lampung. “Tidak setara dengan bahasa daerah lain. Saya lihat terkadang orang pribuminya sendiri bahkan tidak paham. Kalaupun paham, jarang yang mau menggunakan,” sesal Muis.

Mengenai kebijakan di Tulangbawang, secara pribadi ia angkat jempol. Sesuai denag slogan kantor bahasa, yaitu “Utamakan bahasa Indonesia dan lestarikan bahasa daerah”, dia tetap menyarankan dalam rapat atau acara formal, Pemerintah Kabupaten Tulangbawang tetap menggunakan bahasa Indonesia.

Ia mengaku belum mengetahui secara pasti regulasi pemerintah daerah terkait pelestarian bahasa Lampung. Namun, ia memastikan kantor bahasa memiliki program kerja terkait hal itu ke depannya. “Kantor bahasa merupakan pusat fokus bahasa Indonesia dan daerah. Di sinilah terjadi pembinaan dan pengembangan kedua bahasa tersebut, walau memang belum ada batas jelas mengenai pembagian perhatian antara dua bahasa itu,” jelasnya.

Media Ajar Interaktif Aksara Lampung

Di pihak lain, keberhasilan mahasiswa tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Teknik Elektro Unila dalam meraih juara dua PKM Teknologi dan Perancangan, juga Desain dan Presentasi Poster PKM Teknologi di Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-23 pada 24 Juli lalu, ternyata membawa harapan tersendiri bagi keberjayaan bahasa Lampung.

Tim yang dibimbing Hery Dian Septama ini berhasil unggul dengan Media Ajar Interaktif Aksara Lampung berupa software Sai Agung. Perangkat Lunak yang awalnya dibuat untuk siswa TK ini digadang akan berkembang pada tingkat SD, SMP, dan umum. “Sebenarnya software ini lebih pada aksara. Karena software yang kami buat belum bisa ke penerjemahan dari aksara ke bahasa. Tapi nanti fitur-fiturnya akan kami lengkapi,” kata Hery.

Dia mengungkapkan, saat ini jurusan Teknik Elektro sedang menggalakkan riset mahasiswanya pada bahasa (konten) lokal seperti prototipe pengenalan karakter tulisan tangan aksara Lampung dan software translator dari bahasa Lampung dialek A dan O ke bahasa Indonesia, dan sebaliknya.

Hery mengaku sedang mengusahakan audiensi ke dinas pendidikan untuk menjadi Sai Agung sebagai software standar pembelajaran dalam bahasa Lampung. Saat ini, tim Sai Agung sedang menyusun draf untuk pengajuan hak cipta ke Direktorat Jenderal HAKI Kementerian Hukum dan HAM.

Sumber: http://ulunlampung.blogspot.com/2010/08/bahasa-lampung-tergerus-di-tanoh.html