Tag Archives: I Made Prabaswara

Pelajaran Supit Urang Jagaraga, 155 Tahun Silam

I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

JAGARAGA, Buleleng, sesungguhnya menghamparkan pelajaran kaya makna bagi Bali dalam menghadapi gelombang besar pengaruh asing modernisasi di kemudian hari. Pelajaran itu dipancangkan 9 Juni 1848. Dalam peristiwa 155 tahun silam itu, Belanda yang bersenjata tempur otomatis dan lengkap keok oleh laskar persekutuan segitiga Buleleng-Karangasem-Klungkung di bawah panglima perang Patih Agung I Gusti Ketut Jelantik.

Simpul-simpul Peradaban Air Bali

I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

HINGGA akhir dasawarsa 1970-an, sebagian lebih orang Bali pastilah masih menjadikan air sebagai satu simpul komunikasi, selain bale banjar, pasar, dan sejumlah simpul lainnya. Toh di antara begitu banyak simpul-simpul manusia Bali itu, air tetaplah menjadi simpul komunikasi paling luas. Tidak sebatas sebagai simpul komunikasi sosial, air juga dijadikan simpul komunikasi spiritual. Akibat ini: tiada terelakkan bila air lantas menjadi simpul peradaban Bali yang berpengaruh besar, luas.

Bali dan Wuzu: Kembali ke Dasar

I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

SUATU kali Lingyuan, pengikut Zen, menerima surat dari Wuzu, sang guru Zen. Isi surat bertajuk “Kembali ke Dasar” itu amat pendek: “Ladang telah hancur oleh kemarau, tapi aku tak cemas. Aku hanya cemas oleh kenyataan bahwa siswa-siswa Zen tidak memiliki mata. Musim panas ini terdapat lebih dari seratus, tapi tidak satu pun di antara mereka mengerti cerita perihal anjing tak memiliki hakikat pencerahan. Inilah sesuatu yang pantas dicemaskan.”

Agung Aji Pajenengan: Tonggak Ikon Topeng Tua

I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

ANDAI Anda tergelak-gelak menyaksikan ulah tari topeng tua yang berjalan terhuyung-huyung, napas tersengal turun naik, lalu menggaruk-garuk kepala sambil mencari kutu rambut, maka jangan pernah lupa: itulah ikon baru yang diciptakan mpu tari bernama Anak Agung Gede Raka, yang tenar dengan panggilan Anak Agung Aji Pajenengan. Ikon ini kemudian diturunkan mahaguru tari kelahiran Sukawati, Gianyar, tahun 1886 ini kepada sang murid I Nyoman Kakul, asal Banjar Pakandelan, Desa Batuan, tetangga Desa Sukawati.

Pedanda Ngurah: Yoga Gunung

Putra-putri Tradisi Utama Bali (2)
I Made Prabaswara
http://www.balipost.co.id/

DESA Blayu, Tabanan, sepanjang pertengahan abad ke-19 hingga paruh awal abad ke-20 menjadi salah satu simpul denyut aliran sungai susastra-agama klasik Bali. Denyut itu ditandai dengan keberadaan Ida Pedanda Ngurah sebagai mata air sastra-agama di Geria Gede Blayu. Dari kawi-wiku, pendeta sekaligus sastrawan, inilah kelak mengalir tidak hanya sejumlah teks-teks koleksi dan salinan penting dalam khazanah susastra-agama di Bali, tetapi juga lahir karya-karya baru yang memperkaya isi lumbung peradaban batin-rohani Bali.