Teks, Celah dan Kita

Misbahus Surur
Lampung Post, 14 Mei 2011

Sebagai jendela pengetahuan yang menumpu pada kemampuan daya (me)resepsi, habitus “membaca” lazim punya produktivitas ganda. Selain akumulasi dalam bentuk ujaran atau lisan (speaking), tabiat ini tentu saja dapat memantulkan resonansi dalam tulisan (writing). Dan, buku –salah satunya-, sebagai jantung di mana degup teks memompa darahnya, guna mendapatkan vitalitas. Juga ruang, di mana mekanisme “membaca” bekerja. Adalah tanda mata (reminder) bagi sesiapa yang tak letih menajamkan indra dan pikirannya. Continue reading “Teks, Celah dan Kita”

Keris Tameng Sari

Agus Sri Danardana
Riau Pos, 17 April 2011

Pendahuluan

Secara arkeologis dan historis, keris telah dikenal masyarakat Indonesia (Nusantara) sejak zaman kuno, sekitar abad ke-5. Prasasti Tukmas di lereng barat Gunung Merapi (Grabag, Magelang, Jawa Tengah) menjadi petunjuk awal keberadaan keris di Indonesia. Meskipun demikian, secara sosiologis, keris baru menjadi bahan perbincangan setelah tersebar laporan-laporan perjalanan laut lintas negeri, seperti Yin Ya Sheng Lan (Pemandangan Indah di seberang Samudera) karya Ma Huan dan Xing Cha Sheng Lan (Menikmati Pemandangan Indah dengan Rakit Sakti) karya Fei Xin, di zaman kerajaan Majapahit (lihat Kong Yuanzhi, Muslim Tionghoa Cheng Ho: Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara, 2000:100-101). Continue reading “Keris Tameng Sari”

Jimat Para Koruptor vs Jimat Teroris

M.D. Atmaja

Membicarakan masalah jimat, tidak semerta-merta membubuhi diri dengan pikiran kolot, atau rasa yang menolak logika. Masyarakat Indonesia, dimulai dalam tradisi animisme yang mana menempatkan posisi jimat dalam struktur sakral yang diminati. Jimat sebagai sesuatu yang logis bagi mereka yang mempercayai, namun kita tidak akan membicarakan mengenai ungkapan “jimat” yang sebenarnya. Akantetapi, lebih pada nilai keampuhan yang dibawa, ditunjukkan pada kita semua. Continue reading “Jimat Para Koruptor vs Jimat Teroris”

Nasib Sastra di Sekolah

Suheri
Lampung Post, 16 April 2011

…wahai Pak Guru, jangan kami disalahkan apalagi dicerca/bila kami tak mampu mengembangkan kosakata/selama ini kami hanya diajar menghafal dan menghafal saja/mana ada dididik mengembangkan logika/mana ada diajar berargumentasi dengan pendapat berbeda/dan mengenai masalah membaca buku dan karya sastra, Pak Guru/sudah lama sekali/mata kami rabun novel, rabun cerpen, rabun drama, dan rabun puisi/tapi mata kami kan nyalang bila menonton televisi. (Taufiq Ismail, Pelajaran Tata Bahasa dan Mengarang) Continue reading “Nasib Sastra di Sekolah”

Mari Menghargai Sebuah Dokumentasi

Riki Utomi
Riau Pos, 17 April 2011

KITA tentu sepakat bila suatu ilmu yang kita geluti menjadi bermakna karena kita mengamalkannya, karena juga oleh faktor tersedianya referensi yang menjadi sumber pengetahuan ilmu tersebut. Segala sumber ilmu itu dapat termaktub pada buku-buku, juga dapat berupa kliping-kliping koran yang terbit dari berbagai tahun silam. Tetapi tidak semua orang yang memiliki sebuah gagasan besar untuk mendokumentasikan semua literatur buku dan kliping-kliping itu secara konsisten agar orang lain dapat dengan langgeng belajar dari dokumentasinya. Hal itu tentu memerlukan kerja keras selama bertahun-tahun. Continue reading “Mari Menghargai Sebuah Dokumentasi”

Bahasa »