Rosihan Anwar

Djadjat Sudradjat
Lampung Post, 17 April 2011

WARTAWAN ada karena ia terus menulis! Dan, Rosihan Anwar membuktikannya dengan konsisten. Penanya tetap tajam sepanjang zaman. Hanya maut yang bisa menghentikan ketajaman pena itu. Dedikasinya pada dunia jurnalistik adalah pesan kepada wartawan yang lebih muda, “Jangan mengaku wartawan kalau ‘penanya tumpul’ karena lebih sibuk mengurus dunia lain.”

Rosihan gugur pada usia 89 tahun dalam pergulatannya melawan penyakit jantung yang ia derita. Pria kelahiran Solok, Sumatera Barat, 10 Mei 1922, ini menghembuskan napas terakhir pada Jumat (14-4), pukul 08.15, di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center, Jakarta.

Ia menyusul istri tercinta, Siti Zuraida, yang berpulang Maret tahun lalu. Penulis in memoriam ratusan tokoh itu kini tiba gilirannya ditulis sebagai obituari oleh orang lain. Ia meninggalkan tiga orang anak, enam cucu, dan dua cicit.

Wartawan senior Jakob Oetama menjuluki Rosihan sebagai “Ayatullah” wartawan Indonesia. Ia lebih dari seorang guru. Sejarawan Taufik Abdullah memberi predikat “wartawan enam zaman”. Ia mulai menjadi wartawan sejak zaman Jepang (1942—1945), zaman Revolusi Kemerdekaan (1945—1950), masa Demokrasi Liberal (1950—1959), Demokrasi Terpimpin (1959—1965), Orde Baru (1966—1998), masa Reformasi (1999—sekarang).

Agaknya, hanya Rosihan Anwar yang layak menyandang predikat itu. Ia menulis di zaman yang berganti-ganti selama tujuh dasawarsa. Meskipun pendidikannya tak sampai jenjang perguruan tinggi, ia wartawan yang punya reputasi tinggi. Ia sosok multibakat, meliput perang, menulis sejarah, sastra, kritik film, kolom bebas, dan biografi. Rosihan wartawan dan juga sejarawan “nonformal”. Ia adalah penulis buku Sejarah Kecil Indonesia (2003).

Amsal Mohammad Haykal, wartawan kenamaan Mesir, benar adanya. Presiden bisa silih berganti. Para politisi datang dan pergi. Para menteri, gubernur, dan bupati juga berganti-ganti. “Tapi, wartawan bertahan. Ia seperti prajurit sejati, tidak pernah mati. Ia hanya surut mengikuti waktu (old soldiers never die, they fade way).”

Waktu untuk Rosihan memang habis. Tapi, saya percaya jejaknya akan terus menjadi inspirasi. Ia memberi teladan tetap menulis di zaman apa pun. Tetap kritis pada siapa pun. Rosihan melawan olok-olok “berusia tua adalah siksaan”. Ia membuktikan berusia tua adalah berkah. Ia memulai karier jurnalistiknya pada usia muda, 21 tahun di harian Asia Raya, redaktur harian Merdeka. Ia mendirikan dan menjadi pemimpin redaksi majalah Siasat dan harian Pedoman, juga masih amat muda (26 tahun).

Suara kritisnya pada pemerintah membuat Pedoman tak langgeng. Pemerintahan Hindia Belanda (yang ingin kembali), Orde Lama, dan Orde Baru, sama-sama gerah pada koran ini. Pedoman diberedel. Tetapi, justru ketika ia tak lagi punya media cetak, Rosihan kian berkibar menulis di banyak media, di dalam maupun di luar negeri. Untuk media luar negeri, antara lain ia kerap menulis di The Age (Australia), The Straits Times (Singapura), Hindustan Times (India), dan Asiaweek (Hong Kong), Het Vriye Volk (Belanda). Ratusan artikel dan tak kurang 20 buku telah ditulisnya.

Saya jarang bertemu sosok gaek yang bicaranya lantang, sorot matanya tajam, dan “hobi” berkacak pinggang itu. Kadang agak angkuh. Saya beberapa kali bicara padanya tetapi selintas-selintas. Pertemuan saya terakhir dengan Rosihan pada Maret 2001. Ketika melayat almarhum begawan ekonomi Sumitro Djojohadikusumo di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Saya tahu Rosihan dan Sumitro (sesama sosialis yang berselisih paham). Hubungannya dingin. Saling memendam prasangka. Tulisan in memoriam Rosihan tentang Sumitro pun sumbang.

“…di akhir hidupnya Sumitro tidak lagi secemerlang seperti di masa mudanya… Karena ingin selalu menjadi jagoan nomor satu, Sumitro sampai tidak bisa lagi bergaul harmonis dengan sebagian sahabat lamanya dari PSI dulu. Karena ingin tampil perkasa, sering dia kehilangan kearifan (wisdom).“ (Kompas, 9 Maret 2001).” Sudah barang tentu tulisan seperti ini membuat keluarga Sumitro merasa tidak senang.

“Kalau menulis obituari berisi pujian dan sanjungan semata dan mengabaikan aspek-aspek lain seperti kekurangan dan kelemahan orang yang wafat, pada hemat saya obituari itu kurang kredibel. Sesungguhnya, saya selalu berhadapan dengan dilema rumit, apakah menuliskan hal yang bagus-bagus saja ataukah tidak pula melupakan hal yang tidak enak?” kata penulis buku Menulis di Atas Air ini.

***

WARTAWAN ada karena ia menulis! Dan, Rosihan membuktikan ia menjadi wartawan terdepan. Bahkan, dalam keadaan sakit, menjelang ulang tahunnya ke-89, 10 Mei nanti, ia tengah menyiapkan sebuah buku berjudul Belahan Jiwa: Memoar Kasih Sayang Percintaan Rosihan Anwar dan Zuraidah Sanawi. Ini buku tentang istrinya. “Kompas-Gramedia siap menerbitkannya,” kata pendiri Kompas Jakob Oetama. Jakob adalah sekretaris jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) saat Rosihan menjadi ketua umumnya. Rosihan adalah salah seorang pendiri organisasi kewartawanan ini.

Tetapi, saya lebih menikmati tulisan-tulisan Rosihan dalam serial in memoriam-nya tentang aneka berbagai tokoh yang dimuat di banyak media. Tulisan-tulisan itu tak hanya memperlihatkan hubungan Rosihan yang luas dengan para tokoh itu—bahkan beberapa di antaranya sangat dekat—tapi kerap sarat dengan muatan sejarah yang tak terekam oleh pena-pena sejarawan.

Peristiwa besar dengan peristiwa kecil ia ramu menjadi padu. Bukankah wartawan memang dididik untuk memahami hal-hal besar tetapi juga cinta pada detail?

Misalnya, kenapa Bung Karno memilih perempuan-perempuan yang tidak berpendidikan tinggi sebagai istri? Karena sebagai tokoh yang supersibuk dengan aneka aktivitas politik, ia perlu pelayanan perempuan “istimewa”. “Si Bung” butuh wanita yang kalem, santun, hangat, romantik, dan total melayani. Kata Bung Karno, politisi dan intelektual hidup dalam ketegangan. Ia menghindari tipe perempuan seperti ini. Bung Karno pernah mengatakan soal ini pada cendekiawan Soedjatmoko. “Koko, kalau kamu menikah ambillah orang yang kurang intelektual.” (Ada-ada saja, Bung Karno!)

Rosihan mengungkapkan itu ketika menulis in memoriam Hartini Soekarno, istri keempat Putra Sang Fajar, setelah Oetari, Inggit Goenarsih, dan Fatmawati. Setelah empat perempuan itu, masih ada Naoko Memoto (Ratna Sari Dewi), Haryati, dan Yurike Sanger yang mengisi hati Bung Karno. Mereka memang bukan perempuan “sekolahan”, tapi punya andil besar dalam mendampingi “Sang Flamboyan” sebagai pemimpin kelas dunia. (Kata Bung Karno!)

Hingga 2002 Rosihan sedikitnya menulis 77 in memoriam. Ia terhimpun dalam buku In Memoriam, Mengenang yang Wafat (Kompas, 2002). Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Sjahrir menempati urutan pertama, kedua, dan ketiga. Meskipun kita telah membaca tiga tokoh besar itu, kita mendapatkan sisi lain yang tak tertulis dalam “sejarah besar”. Rosihan mengenang, suatu saat Bung Karno memanggil Rosihan untuk memberikan pendidikan seks. “Kalau pria mau kuat, dia mesti makan banyak taoge. Jangan minum bir,” kata Bung Karno pada Rosihan.

Juga menarik kesaksian Rosihan ketika menulis in memoriam Fatmawati Soekarno. Ia menjadi saksi pertemuan tiga janda, istri “Tiga Serangkai” itu (Fatmawati, Rahmi Hatta, dan Poppy Sjahrir) di Tanah Suci pada Mei 1980. Secara tak sengaja mereka bertemu di Tanah Suci untuk menjalankan ibadah umrah. Bertempat di Kedutaan Besar Indonesia di Arab Saudi, para istri orang besar itu seperti reuni. Wajah mereka berbinar-binar, mengenang masa silam ketika “Tiga Bung” itu masih “seiring-sejalan”. Rosihan ada di tengah-tengah mereka.

Berucaplah Fatmawati yang malam itu mengenakan busana warna merah. “Aku first lady, Rahmi second lady, Poppy third lady. Semua kita datang ke sini untuk berumrah,” kata Fatmawati dengan tawanya yang renyah. Tapi, dua hari kemudian ia mendengar warta duka berpulangnya mantan ibu negara itu di Malaysia. Rupanya, candanya di Tanah Suci, adalah “kenangan” terakhirnya.

Ada beberapa tokoh yang menjadi bagian amat dekat dengan Rosihan, antara lain cendekiawan Soedjatmoko dan sang adik, Yosar Anwar, mantan aktivis mahasiswa pada 1966. Koko, panggilan akrab Soedjatmoko, wafat di depan mata Rosihan ketika sama-sama mengikuti seminar sejarah di Yogyakarta. Serangan jantung mengakhiri hidup Koko. Rosihan larut dalam tangis tak terperikan.

Saat memberikan sambutan mewakili keluarga ketika Yosar hendak dimakamkan, dari tepi liang lahat Rosihan berucap, “Saya melihat adik saya ini lahir dan kini saya pula melihatkan dikuburkan.” Dan, kini giliran penulis warta duka itu yang menjadi berita duka. Saya akan mengenangnya sebagai “pejalan” yang tangguh; pelita yang tak pernah padam; inspirasi yang tak pernah mati. Saya percaya, dengan kehendak-Nya, Rosihan akan bahagia dan tetap “menulis” dalam kehidupannya yang baru di alam lain.

Sumber: http://cabiklunik.blogspot.com/2011/04/refleksi-rosihan-anwar.html