Judul Buku: Pemahaman Budaya di Tengah Perubahan, Sebuah Cenderamata untuk Prof. Dr. I Gusti Ngurah Bagus
Pengantar: I Made Suastika
Penyunting: I Gede Mudana
Tahun: 2003
Penerbit: Program S2 dan S3 Kajian Budaya Unud
Tebal: 166 + V
Peresensi: I Gede Panca
balipost.co.id Continue reading “Memahami Kebudayaan secara Baru”
Sang Bendesa Memetik Buah Karma
I Nyoman Tingkat
http://www.balipost.co.id/
Rubrik “Apresiasi” Bali Post Minggu sarat dengan kearifan lokal budaya Bali, tak terkecuali dalam pemuatan cerpen-cerpennya. Dari cerpen yang terang-terangan mengusung budaya lokal melalui cerpen berbahasa Bali (baca cerpen “Tresna Sujati”-nya Edy Suardiyana Putra), sampai dengan cerpen yang secara sembunyi-sembunyi mencoba mengkritisi kearifan lokal Bali sehingga memaksa pengarangnya membuat catatan kaki di akhir cerita untuk menjelaskan istilah-istilah dalam bahasa Bali ke bahasa Indonesia. Continue reading “Sang Bendesa Memetik Buah Karma”
Geguritan Bali sebagai Warisan Budaya Dunia….
I Nyoman Gede Sugiharta
http://www.balipost.co.id/
GEGURITAN, yang merupakan salah satu bentuk prosa Bali yang terikat perpajakan pupuh, dalam khazanah sastra tradisional dikategorikan sebagai sekar alit (bunga kecil). Sementara kakawin (karya sastra Jawa Kuna) disebut sekar agung (bunga besar). Pengkategorian ini, kalau dicermati, di dalamnya mengandung unsur ”menganggap enteng” geguritan. Saya banyak diberitahu oleh beberapa ”guru-guru”, juga lewat bacaan-bacaan yang tersedia, bahwa geguritan adalah batu pijakan untuk memasuki sastra besar (sekar agung), yaitu kakawin. Dengan kata lain, kakawin ”lebih tinggi” dari geguritan. Continue reading “Geguritan Bali sebagai Warisan Budaya Dunia….”
‘Elite Indonesia Merendahkan Bahasanya!’
Ajip Rosidi
Pewawancara: Muhammad Subarkah
Republika, 28 Juni 2011
AJIP Rosidi adalah sastrawan terkemuka Indonesia yang lahir pada 31 Januari 1938 di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. Ia menulis secara otodidak semenjak usia 14 tahun. Penerima gelar doktor honoris causa dari Universitas Padjadjaran, Bandung, ini juga disebut sebagai sastrawan Indonesia paripurna. Continue reading “‘Elite Indonesia Merendahkan Bahasanya!’”
Rumah Masa lalu
Sungging Raga
http://www.lampungpost.com/
KIAN renta rumah ini, ketika kupijakkan kaki di atas tanah berkerikil, kudengar suara angin yang seolah menyambutku. Sudah berapa tahun berlalu? Seperti baru kemarin ketika aku melihatmu menyirami bunga-bunga yang sekarang entah di mana bangkainya. Pot-pot telah jadi hitam, terbakar oleh cuaca yang berganti-ganti, sementara rumput dan daun sudah menyatu, kering dan berdebu. Continue reading “Rumah Masa lalu”
