Hat Pujiati
http://www.balipost.co.id/
Emak menghempaskan pantatnya di balai-balai bambu di ruang tamu yang tak berkursi itu. Lantai tanah dan dinding bambu yang jauh dari sederhana itu membuatnya nyaman. Kakinya berselonjor terbalut kain batik selutut yang sudah lusuh dan kumal. Ada lumpur kering yang lolos dari awasnya saat ia membasuh betis hitamnya di kanal-kanal sawah sepulang dari kerja siang itu. Kuku-kuku kakinya hitam menempel pada jari-jari kaki yang pecah-pecah. Continue reading “EMAK”
