Mengenang Rendra (1)

Sastra Sebagai Perjuangan
Yohanes Sehandi *
Flores Pos (Ende), 5 Agu 2010

Kesadaran adalah matahari
Kesabaran adalah bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan
Adalah pelaksanaan kata-kata
(Rendra, Depok, 22 April 1984)

Hari ini, 6 Agustus 2010, sastrawan besar Indonesia, W.S. Rendra, yang dikenal dengan nama Rendra, genap satu tahun meninggal dunia. Almarhum yang bernama lengkap Wilybrordus Surendra Rendra meninggal dunia dalam usia 74 tahun. Lahir pada 7 November 1935 di Solo, Jawa Tengah, dalam keluarga dan lingkungan Katolik yang teguh. Ayahnya bernama Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo, guru bahasa Indonesia dan bahasa Jawa di SD/SMP Katolik Kanisius, Solo, di samping sebagai dramawan tradisonal Jawa. Ibunya bernama Raden Ayu Catharina Ismadillah, seorang penari serimpi di Keraton Surakarta. Rendra menyelesaikan SD, SMP, SMA Katolik St. Yosef, Solo. Tahun 1955 kuliah pada Fakultas Sastra dan Kebudayaan Universitas Gajah Mada (UGM) sampai Sarjana Muda (gelar BA). Tahun 1964-1967 mendapat beasiswa untuk belajar di American Academy of Dramatical Art, Amerika Serikat.

Penyair dan dramawan besar ini, dengan penuh kesadaran dan keberanian yang teguh, “memilih” jalan seni dan sastra sebagai perjuangan: //Aku mendengar suara/jerit hewan yang terluka/ada orang memanah rembulan/ada anak burung terjatuh dari sarangnya/orang-orang harus dibangunkan/kesaksian harus diberikan/agar kehidupan bisa terjaga//. Di mata guru besar filsafat Unika Atma Jaya dan STF Driyarkara, Jakarta, Alois A. Nugroho, W.S. Rendra adalah “suara lain,” katakanlah “suara hati nurani bangsa” yang sangat dibutuhkan bangsa ini. W.S. Rendra telah menyumbangkan “suara lain” atau “alteritas,” yang terkesan urakan dan bohemian bagi kehidupan dan aspirasi normal rata-rata manusia Indonesia. “Alteritas inilah yang memungkinkan manusia Indonesia lepas dari sikap one in one yang banal. Alteritas ini memampukan kita mengkritisi hidup yang normal” kata Alois Nugroho (Kompas, 8/8/2009).

Bagi Rendra, seni tidak berhenti pada estetika, tetapi ia menjadi “seruan hati nurani” yang berfungsi kritis dan profetik. Apapun bentuknya, seni selalu “terlibat” dan kontekstual. Karya-karya sastra Rendra, baik berupa puisi maupun drama/teater, membuat orang “menjadi” tercenung, berefleksi, bercermin diri, atau berani mengkritisi lingkungannya, masyarakatnya, bangsanya, dan negaranya. Dalam puisinya yang berjudul “Sajak Sebatang Lisong” (1978) ia menggugah kesadaran kita: //Inilah sajakku//pamflet masa darurat/Apakah artinya kesenian/bila terpisah dari derita lingkuingan/Apakah artinya berpikir/bila terpisah dari masalah kehidupan//.

Rendra adalah sastrawan besar Indonesia modern yang paling komplit menciptakan hampir semua genre (jenis) karya sastra (kecuali novel), yang tidak dimiliki oleh sastrawan manapun di negeri ini. Beliau terkenal dengan puisi-puisi epik/epika (syair panjang yang bercerita), yang antara lain, bercerita tentang orang-orang kecil tertindas dan terlempar, serta kegetiran perjuangan mereka dari lembah kubangan kutukan alam, penindasan atau sistem sosial yang bobrok.

Buku kumpulan puisinya yang pertama, Ballada Orang-Orang Tercinta (1957) yang salah satu puisi di dalamnya “Ballada Penyaliban” terasa kegetiran dan kedengkian menggupal merasuki anak-anak Adam di bawah kolong langit ini: //Ia melangkah ke Golgota/jantung berwarna paling agung/mengunyah dosa demi dosa/dikunyahnya dan betapa getirnya//Tiada jubah terbentang di jalanan/bunda menangis dengan rambut pada debu/dan menangis pula segala perempuan kota//Akan diminumnya dari tuwung kencana/anggur darah lambungnya sendiri/dan pada tarikan napas terakhir bertuba/ :– Bapa, selesailah semua!//.

Beliau juga menciptakan/menerjemahkan/menyadur naskah-naskah drama/lakon, terutama drama/lakon klasik Yunani, sekaligus memainkannya di atas panggung lewat Bengkel Teater, sehingga dikenal luas sebagai dramawan besar Indonesia. Selain itu, almarhum juga menulis cerita pendek (cerpen) dan menulis esai atau kritik sastra/kebudayaan. Membawakan pidato kebudayaan atau orasi kebudayan yang khas, menggigit dan menggugat, benar-benar suara lain atau “alteritas,” yakni “suara hati nurani bangsa,” sebagaimana dikatakan profesor filsafat Alois A. Nugroho.

Karya-karya sastra Rendra yang sempat saya telusuri dari berbagai sumber yang terserak, meliputi kumpulan puisi, naskah lakon/drama/teater sekaligus memainkannya, kumpulan cerpen, dan kumpulan esai/kritik sastra/kebudayaan. Tentu, masih banyak karya sastra Rendra yang luput dari penelusuran ini, karena mengalami kesulitan mendapatkan bahan-bahan tertulis yang terpublikasikan. Adapun rinciannya seperti berikut ini.

Pertama, kumpulan puisi dalam bentuk buku: (1) Ballada Orang-Orang Tercinta (1957); (2) Empat Kumpulan Sajak (1961); (3) Blues untuk Bonnie (1971); (4) Sajak-Sajak Sepatu Tua (1972); (5) Potret Pembangunan dalam Puisi (1983); (6) Nyanyian Orang Urakan (1985); (7) Disebabkan oleh Angin (1993); (8) Orang-Orang Rangkasbitung (1993), dan Pantun Jurnalistik (1998).

Kedua, naskah lakon/drama/teater sekaligus memainkannya, antara lain: (1) Orang-Orang di Tikungan Jalan (1954); (2) Bip Bop Rambate Rate Rata (teater Mini Kata, 1967); (3) Mastodon dan Burung Kondor (1972); (4) Perjuangan Suku Naga (1975); (5) Sekda (1977); (6) Penembahan Reso (1986); (7) Oedipus Sang Raja (terjemahan karya Sophokles, 1969); (8) Selamatan Anak Cucu Sulaiman; (9) Hamlet (terjemahan karya William Shakespeare); (10) Macbeth (terjemahan karya William Shakespeare); (11) Lysistrata (terjemahan karya Aristophanes); (12) Menunggu Godot (terjemahan karya Samuel Beckket, 1969); (13) Oedipus di Kolonus (terjemahan karya Sophokles; (14) Antigone (terjemahan karya Sophokles); (15) Kasidah Berzanji; (16) Sobrat (2005), (17); Kereta Kencana ( terjemahan karya Ionesco); (18) Buku Harian Seorang Penipu (terjemahan karya Alexander Ostrovsky).

Ketiga, kumpulan cerpen: (1) Ia Sudah Bertualang (1963); (2) Dua Jantan; (3) Hutan Itu. Sedangkan kumpulan esai/kritik sastra/kebudayaan adalah: (1) Mempertimbangkan Tradisi (1983); (2) Tentang Bermain Drama; (3) Seni Drama untuk Remaja (1977).

Karya-karya Rendra tidak hanya dikenal di dalam negeri, juga dikenal di luar negeri. Sebagian karyanya telah diterjemahkan dalam berbagai bahasa asing, antara lain dalam bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Jepang, dan India. Ia juga aktif dalam mengikuti sejumlah festival internasional, antara lain: The Rotterdam International Poetry Festival (Rotterdam, Belanda, 1971, 1979); The Valmiki International Poetry Festival (New Delhi, India, 1985); Berliner Horizonte Festival (Berlin, Jerman, 1985); The First New York Festival of The Arts (New York, AS, 1988); Spoleto Festival (Melbourne, Australia, 1989); World Poetry Festival (Kuala Lumpur, Malaysia, 1992); dan Tokyo Festival (Tokyo, Jepang,1995).

*) Pengamat Bahasa dan Sastra Indonesia
Dijumput dari: http://yohanessehandi.blogspot.com/2011/05/mengenang-rendra-1.html