Inong Tanpa Sekat; Membaca Karya Tulisan dan Akting Bengkel Sastra UNJ

Anjrah Lelono Broto *)
__Radar Mojokerto, 4 Des 2011

“Seharusnya kesadaran akan seni dan berkesenian dapat menempat pada ruang dan waktu yang terus musti ditanamkan.”(Agus Riadi).
Tanpa iringan musik Gambang Kromong khas Betawi atau pun ceceran riang senandung Lagu Kicir-Kicir, Teater Kopi Hitam Indonesia (TKHI) menapakkan kaki di tanah Si Pitung yang sekarang menjadi ibukota tanah air tercinta. Di bawah bimbingan inginan sederhana untuk men’silahturakhim’kan repertoar “Inong; Dongeng Rumah Jalang”, awak TKHI mengucap salam kekerabatan berkesenian dan berkebudayaan kepada kawan-kawan komunitas Bengkel Sastra Universitas Negeri Jakarta (Bengsas UNJ) di jantung ladang kerja kreasinya, Rawamangun. Continue reading “Inong Tanpa Sekat; Membaca Karya Tulisan dan Akting Bengkel Sastra UNJ”

Puisi Doa sebagai Tes bagi Otentisitas

Asarpin

Puisi pada dasarnya mengandung doa. Bahkan ada puisi doa. Jika kita bersua dengan puisi sejenis doa, maka jangan pernah menganggapnya remeh. Tak hanya puisi mantra yang baik, tapi puisi doa pun bisa sangat baik. Tapi soalnya adalah: tak banyak sajak doa yang baik di Indonesia. Padahal sajak berisi doa bisa digunakan untuk dipakai berdoa kepada Tuhan ketimbang doa-doa syariat yang selama ini sudah akrab digunakan. Continue reading “Puisi Doa sebagai Tes bagi Otentisitas”

Inferioritas Anak Negeri dalam ”Pipa Air Mata” dan ”Jalan Sumur Mati”

Dr Junaidi *
Riau Pos, 29 Nov 2009

Cerpen “Pipa Air Mata” (karya M Badri) dan “Jalan Sumur Mati” (karya Olyrinson) sama-sama menampilkan potret masyarakat tempatan yang menderita meskipun mereka tinggal di lingkungan perusahaan minyak yang sangat kaya. Kedua cerpen ini dihimpun dalam buku Pipa Air Mata terbitan Yayasan Sagang Pekanbaru. Tulisan singkat ini bertujuan untuk mengungkapkan kondisi inferioritas masyarakat tempatan berbanding dengan superioritas perusahaan minyak besar. Continue reading “Inferioritas Anak Negeri dalam ”Pipa Air Mata” dan ”Jalan Sumur Mati””

Generasi Pengeluh

Hary B Kori’un
Riau Pos, 06 Sep 2009

SUATU siang di hari Ahad, Pandapotan MT Siallagan, sastrawan yang pernah lama tinggal di Riau dan kini bekerja sebagai wartawan di Siantar, Sumatera Utara (Sumut), berkirim SMS. Isinya: “Bang, bacalah Horison edisi bulan ini, ada cerpenku dimuat di sana. Kasih masukan, ya…” Di lain waktu, dia mengirim SMS lagi: “Udah baca sajak saya di Kompas, Bang? Saya perlu masukan Abang…” Continue reading “Generasi Pengeluh”

Bahasa »