Malang Tempo Doeloe Sebagai Fenomena Post-modernisme

Prof. Dr. H. Mudjia Rahardjo, M.Si
Malang Post, 22 Mei 2011

Ada pemandangan sangat menarik di sepanjang jalan Ijen di kota Malang setiap bulan Mei sejak lima tahun terakhir, yakni suasana serba ‘doeloe’ mulai dari gambar atau foto kota Malang, jajanan (seperti tiwul, cenil, jadah, gelali), minuman, pakaian para pelayan yang serba tradisional, pentas hiburan hingga warung-warung yang menjual makanan. Semuanya menggambarkan keadaan Malang tempo dulu. Continue reading “Malang Tempo Doeloe Sebagai Fenomena Post-modernisme”

Konsep Hidup Tak Jelas

Mufti
http://citizennews.suaramerdeka.com/

Paradigma kehidupan dari tahun ke tahun menuai permasalahan yang di luar dari keniscayaan, moral manusia semakin ngedrop perkembangan budaya dan pengaruh yang dimunculkan teknologi menjadi salah satu dari penyebabnya. Dan manusia pada era digital ini mengalami penurunan mentalitas dalam menghadapi dinamika kehidupan yang semakin keras. Continue reading “Konsep Hidup Tak Jelas”

Resensi Novel Herman Hesse, Peraih Nobel Sastra 1946

: “Steppenwolf; anak kandung Renaisance yang dilahirkan dengan dilema”

Sabiq Carebesth

—…ia adalah Serigala padang rumput, maka walau ia liar, ia tidak buas, bahkan penyendiri dan sangat pemalu; tinggal di sebuah loteng, ditemani dua koper dan sebuah lemari besar penuh buku.Yang pasti cerita tentang Steppenwolf menggambarkan sebuah penyakit dan krisis—tetapi tidak satu pun yang mengarah pada kematian dan kehancuran, justeru sebaliknya: pada penyembuhan. Continue reading “Resensi Novel Herman Hesse, Peraih Nobel Sastra 1946”

Kardus-Kardus Penopang Kehidupan

Latif Nur Janah
http://www.kompasiana.com/Latif-Nur-Janah

Matahari mulai merangkak meniti cakrawala, sementara ia masih menenteng karung plastik yang menjadi temannya mengais secercah kehidupan. Dengan bekal sebotol air mineral yang tinggal separo, ia masih saja berputar berkeliling jalan raya, berharap ada seseorang yang akan memanggilnya dan membutuhkan jasanya. Dan ketika ia mulai merasa lelah, ia bersandar pada sebatang pohon di pinggir jalan dengan aroma got yang senantiasa menjadi pendamping kala ia menguap, merasakan kenyamanan sesaat. Continue reading “Kardus-Kardus Penopang Kehidupan”

Si Tupai yang Tak Sempurna

Julio Nangkoda *
http://www.kompasiana.com/JulioMN

Ada dua ekor Tupai jantan di sebuah koloni atau desa Tupai. Mereka bernama Clichy dan Harmly. Pada hakikatnya setiap makhluk hidup harus berkembang biak dan saling memiliki pasangan. Clichy yang mempunyai 4 kaki lengkap lebih lincah dalam mengambil biji-bijian dari atas pohon. Sedangkan Harmly yang hanya memiliki 1 kaki depan dan 2 kaki belakang pasti lah lebih lambat untuk mengambil biji-bijian. Continue reading “Si Tupai yang Tak Sempurna”

Bahasa »