Membaca Gugusan Mata Ibu (Sekumpulan Sajak Raudal Tanjung Banua)

Andhika Dinata *
Harian Haluan, 15 May 2011

/i/
Membaca sajak-sajak Raudal Tanjung Banua (disingkat RTB) dalam antologi sajak Gugusan Mata Ibu seperti membaca di kolam yang te­nang. Itu kesan yang pertama hadir. Ber”rasa” dan bermakna. Pengandaian situasi semacam itu bukan dengan maksud melebih-lebihkan, membe­sarkan atau pula mengkerdilkan kadar penyair yang dimaksud. Tetapi lebih dari sebuah analog naratif yang muncul saat sajak itu berhasil disimak bait per bait, lembar per lembar, hingga ditutup pada sampul halaman paling akhir. Nyaris tak ada riuh, yang alir hanya riak, sesekali berpadu dengan sepoi angin yang lembut dan nyiur dalamnya.

Sebagian besar dari sajak RTB dalam kumpulan Gugu­san Mata Ibu adalah sajak-sajak yang tenang. Ia bukan sajak yang meletup-letup, bukan pula sajak kering dan gosong. Kesan yang muncul dalam sajaknya itu : kedamaian, kerinduan, silaturahim serta hubungan akrab antara anak manusia (aku lirik) dengan komunitas “kemanusiaan”nya. Yang pekat dari karyanya adalah tradisi rantau yang kuat tersirat dalam bait sajak yang diciptakan. Tradisi (rantau) itu yang dise­but­nya sebagai konsepsi perso­nal: rantau adalah jarak yang mendekatkan.

Membaca sajak-sajak RTB cukup mengesankan. Ada pertanyaan yang menyelinap, kenapa RTB memilih diksi Gugusan Mata Ibu sebagai judul antologi sajaknya itu. Kenapa bukan Gugusan mata ayah, mata anak, mata ikan, mata burung, atau mata yang lain?. Agaknya sebagai penyair, RTB hendak menyampaikan pesan moral yang hendak disiratkan kepada pembacanya. Mata ibu justru memiliki kesan yang kuat. Mata ibu berbeda. Ia mata yang sempurna. Mata yang dimaksud tentu bukan “mata” secara lahiriah, mata batin, bisa jadi itu yang lebih dekat. Mata ibu menyimbolkan kasih sayang, kerinduan, kegeli­sahan, kegamangan dan harapan yang membedakannya dengan mata-mata yang lain. Mata Ibu bukan mata pedang, ia mata kasih sayang yang mudah berderai dan lunglai, tak lapuk ditelan masa sebagaimana adanya: syurga di bawah tela­pak­nya.

Kesan keibuan menjadi vitalitas superlatif dalam sejumlah sajaknya itu. Beberapa sajak semisal ‘Rindu kepada Ibu, Aku Mendekap Kerakap di Batu’, Bulan untuk Ibu, Gaun untuk Ibu, hingga sajak Ibu di Sepanjang Puisiku mengambil tema yang tidak jauh-jauh dari kesan keibuan itu. Sajak Ibu di Sepanjang Puisiku dianggap cukup berkadar mewakili ruh “keibuan” sebagaimana ditulis­nya. ibu adalah ruh dalam diriku. di malam/penuh ilham, malam kemilau bintang-bin­tang/ibu selalu mengajakku berbincang

tentang sawah dan ladang-ladang/yang ditinggalkan.

Kalimat ruh dalam sajaknya lahir dari perbincangan batin, menggores dalam kata melarut dalam makna. Ruh berarti bayangan atau daya kayal (inspiring) yang mendorong aku lirik untuk menulis. Sajak yang ditulis tidak jauh-jauh dari tema alam, perjalanan, kerinduan akan ibu dan kampung hala­man yang ditinggalkan.

Kedekatan personal tidak akan hadir begitu saja tanpa ada pengalaman batin yang menyertainya. Kedekatan itu pula yang semakin kentara dalam bait: ….// sebab bertemu dan berpisah / apalah bedanya bagi tubuh satu ruh //. Sajaknya sekilas pintas memang haru-menghiba, tetapi tidak cengeng. Tidak melulu berpantul pada cermin estetika, tetapi juga meninggalkan materi: pesan dan nilai yang kuat, sebagai­mana tampak :

Memang kami sudah lama berpisah badan/entah kapan bertemu. tapi lewat suara-suara lusuh itu/ibu selalu menjenguk­ku dengan berbait-bait/kalimat rindu–tempat aku menyusu

tak habis-habis kususuri hingga ke hulu/dari manakah berhulunya kalimat rindu?/dari pintu masuk ke kalbu/di mana­kah muaranya kalimat rindu?/dalam dada yang menjadikan­nya ruh/di sepanjang puisiku! (Ibu di Sepanjang Puisiku, Yogyakarta, 2001)

Begitulah semisal riak-riak sajak dalam larik yang diolah RTB, keteduhan dan kebersa­hajaan menjadi karakter khas dalam sajaknya itu. RTB tidak enggan menggunakan kata-kata yang sederhana di saat penyair lain merasa gagah memamer­kan idiom yang rumit-rumit. RTB tidak, ia berbaur dan bersahaja saja dengan kata-kata yang dibawanya. Baginya, (barangkali), sajak itu kontem­plasi, pijarnya estetika, kekua­tan­nya kata, materinya makna. Alur kata kait-berkait, menyu­sun dan meretas. Ia tak hadir sendiri-sendiri, melompat-lompat ataupun terpisah. Ia (kata) hadir seadanya saja, mengalir dalam riak dan ber “rasa”.

/ii/
Selain dari itu, pada sajak Ceritakan Padaku tentang Ikan muncul kesan yang agak ber­beda dari bahasan pertama. Saya cukup tersimak membaca sajak ini. Bagi saya, sajak RTB ini secara individu cukup berhasil. “Berhasil” bukan berarti mengaburkan kadar sajak sebelum dan sesudahnya, bukan pula untuk melebihkan kualitas sajak ini terhadap sajak-sajaknya yang lain. Tetapi kata “berhasil” di sini relatif, bukan berdasar asas suka atau tidak suka. Secara jujur, sajak ini memukau dari awal hingga akhir bait. Keberhasilan RTB itu sudah tampak pada kecer­dasan narasi yang konon meng­ambil tema ikan dalam sajaknya itu. Ceritakan padaku tentang ikan/yang tiap hari melintas menyapamu/Dari balik kaca tempatnya merentang sirip/Barangkali dirindukannya matamu/sebuah telaga sejuk berdayung nasib/

Lalu pada bait ke-2, ia dengan sangat jeli membuat metafora.

Apa yang terbayang/ketika ikan-ikan kecil dan lucu itu/akan menuju negeri yang jauh?

Retorika tersebut memantik perhatian pembaca untuk tidak berhenti di situ saja, ia berperan sebagai metafora untuk menghantarkan pembaca pada pesan puitik yang dimaksud.

Telah ditawarkan keinda­hannya/Kepada dunia yang tak dikenalnya/Dipaksa melupakan karang-ganggang/dunia seder­hana miliknya.

Dalam bait di atas, aku lirik sekarang bermain makna, tentu RTB tidak ingin sajak yang disampaikan luput dari materi, kosong dan berlalu begitu saja. Pengandaian ini dibuat dengan baik seolah-olah ia bercerita bahwa seekor ikan juga memi­liki intuisi rantau yang hampir sama dengan manusia, atau mungkin persis sama dengan pengalaman personal penyair­nya itu.

Jika pada bait sebelumnya, penyair mengetatkan estetika untuk menggiring daya imaji­natif pembaca, maka bait selanjutnya dimulai fase pende­dahan kreatif/klimaksasi dari alur yang sebenarnya ingin diceritakan.

Penggalan bait ….// Aku satu di antara mereka / yang merindukan matamu / jadi telaga paling setia / menadah lukaku // menunjukkan kedala­man rasa dan kepiluan aku lirik berbaur kerinduan. Barangkali, konotasi ini tidak hadir sendiri atau dipaksa hadir begitu saja, jika seandainya tidak ada pengalaman yang mendukung, mustahil akan lahir bait sema­cam ini. Karena bait yang lahir dari buah pengalaman si penya­ir justru lebih berbekas dan menyelimut. Daya olah perasaan dan kepekaan puitik kembali dihidupkan RTB.

Aku lirik dalam sajak seo­lah menjadi pelakon tunggal yang hendak bercerita pada dan untuk dirinya sendiri, nyasar atau tidak, ia berhasil menjadi pesan eternal yang indah dan bersahaja. Pada akhir kutipan tercantum judul sajak, tahun penulisan dan dimana sajak itu ditulis: Den­pasar, 1996. Hal itu menun­jukkan bahwa RTB menulis sajaknya itu di negeri rantau (ia sendiri lahir dan dibesarkan di Desa Lansano, Pesisir Sela­tan, Sumatera Barat). Konon sajak itu ditulis ketika ia masih muda melanglang buana dalam petualangan estetika yang dapat disebut berembun dan berom­bak itu. Memang, sajak-sajak RTB dalam antologi Gugusan Mata Ibu bisa dibilang sebagai produk (sajak) “rantau”, karena di antaranya dikarang di Den­pasar, Yogyakarta, Jakarta, Lombok, Malang dan lainnya. Hanya satu dua sajak saja yang ditulisnya di ranah Minang, kampung halamannya itu, seperti Keberangkatan ditulis di Padang, 1995, yang kemu­dian menjadi sajak pembuka dan Teluk Bayur sebagai sajak perjalanan ditulis antara Pa­dang-Yogyakarta, tahun 1997-1998.

Keharuan tentang perpisa­han itu jelas terlihat pada bait terakhir ….// Jangan menangis, Dik! / Sebelum kapal bersauh / di pulau-pulau jauh / sepucuk sayapku yang kelabu / akan bangkit mengepak / kepadamu //. Sepintas sajak ini dimulai dari cerita // Kapal yang sauh / bertolaknya jauh // kemudian diikuti dengan pertemuan aku lirik dengan seseorang yang istimewa baginya, entah itu kekasih atau sosok yang lebih istimewa dari itu ….// di tepian pasang masih / engkau berdiri / gamang membatik kain selendang / di dadamu / selingkar bukit membayang / memantul di teluk cerlang //. Ekspresi keharuan itu terus berlanjut ….// Masih kulihat kereta bara / gerobak pedati tua / di tiap tikungan-lipatan air / genta digalu ikan-ikan //. Alur yang ringan jadi saling melengkapi dan jalin-berjalin dalam bait ….// Ditingkahi terompet lokan / awan meren­dah kian terbaca / gabaklah mata; tuntas sudah / camar terakhir / menyerahkan sepucuk sayapnya / pada cuaca //. Demikian salah satu sajak RTB yang kental akan bait kerinduan dan kebersahajaan.

(iii)
Sosok penyair rantau seperti RTB saat ini memang tidak banyak. Kehadirannya telah membawa bendera baru terha­dap khazanah kepustakaan sastra kita. Sajaknya memang sederhana, instrumen puitika digotong seadanya saja, tetapi pengadaan semacam itu pula yang kemudian menorehkan goresan bait yang tidak rapuh. Ada banyak alasan sebenarnya bagi anak manusia untuk merantau. Tetapi pemberlakuan bagi RTB bisa dibilang tersen­diri, unik dan menarik. Betapa tidak, baginya merantau bukan mencari pekerjaan, bukan pula untuk studi formal, dua hal yang umum dilakukan peran­tau. Tujuannya tidak lain untuk belajar (menulis) puisi, sekadar bertemu dan berguru dengan Frans Nadjira dan Umbu Landu Paranggi, yang digadang-gadangnya berjasa dalam proses kreatifnya itu [lihat Catatan Penyair hal. vii-viii, Gugusan Mata Ibu, Raudal Tanjung Banua, 2005]. Ada-ada saja, namun mengesankan.

Andhika Dinata, Pemerhati sastra tinggal di Padang.
Dijumput dari: http://www.harianhaluan.com/index.php?option=com_content&view=article&id=4742:membaca-gugusan-mata-ibu-&catid=41:kultur&Itemid=193