Puisi-Puisi Ulfatin Ch

Suara Karya, 8 Juni 2013
Rajawali Satu Sayap

terluka rajawali menunggu jeda
melangkah gontai sayapnya patah
berjalan tak penuh arah
meluka rajawali menyebrang harapan
langit cerah tertahan
laut yang ditempuh
tak sebatas pandanganrajawali sendiri menahan api
melingkar dan bersembunyi
seberapa sabar lagi ia bawa
mengarung laut menempuh badai

* 2012

epitaf

Hidup tak senantiasa
menyerah dan kalah
Kita jalani yang kita miliki
sebagaimana musim
dan musim berganti
kau ke pantai bermain pasir,
aku ke gunungmencari dingin
Kadang rasa rindu datang
mengungguli kenangan
seperti harapan,
hati pun bimbang

* 2012

Tawaran Cukai

Aku pengemis, kau raja budak
di rumah majikan
karena khilaf
dan terbawa angin,
aku pun menjadi peminta
karena ketakberdayaan
kau memeras nafasku hingga sumsumku merah
Aku berlari menghindar
kau justru mencakar
bergulat di bawah angin.
Dan kaubilang kembali
akan kusedekahkan sumsum air mata

dan ketika aku kembali
kau justru menatapkan
wajah hutan yang gundul
jerami busuk, kataku,
kau akan selalu mencari api
Tapi, aku bukan api
aku pengemis, kau raja budak di rumah majikan
Maka, kuputuskan untuk pergi

* 2011

Pelarian Malam

Malam terus menanjak
rasa kantuk yang kutahan
menjadi pelana
dalam pelarian
Tak ada sungai
atau danau pembasuh muka
semua sumur
terasa kering dan asin
tenggorokan pun tersumbat
Tapi, jangan bilang aku akan pulang
sebab jiwa sudah terhadang
apalagi yang bisa diharap
selain keberanian
melenggang pukang

Segala resah pasti
akan bercerai dari kenangan
melepas rindu meski jiwa memburu
Tapi beginilah perjalanan
tak bertujuan
hanya untuk menghilangkan jemu
sebelum ketemu kamu

* 2011

Menyebrang Badai

Aku menunggu
kapal tak juga sampai
hari sudah senja Di sepanjang pantai ini
hanya pasir
dan kecipak air asin
menghulu rindu
Tanganku getar melempar sasar
sampaikan aku pada hingar
jangan badai jejakku berkisar

Aku menunggulaut pasang tak sampai malam
kesabaran dan harapan tak menunda
waktu
kutegakkan layar menempuh jalan
menyebrang badai

* 2011

Aku Ingin lahir

Aku ingin lahir sebelum kauhadir
melewati sungai
dimana daun mahkotaku membuka jarak
limbah dusta Sebelum aku terlanjur buah
biarkan angin kesiur
menggugurkan daun
Aku ingin lahir sebelum kauhadir
menyebrangi sungai tanpa rakit
menaiki bukit
tanpa pendakian. biarkan

* 2011

Pagi, sebelum embun

Aku bangun
dan sayap itu sudah patah
Sebelum embun jatuh aku mesti beranjak kemana
meninggalkan barak
dan gegas ke pelabuhan
Pemberangkatan kapal belum mulai
entah, berapa lama lagi perjalanan
menguntit dan mengusungku
sampai

* 2011

Pada Pelabuhan

Pada pelabuhan
kutitip bunga mawar
yang harumnya sudah tersirap
Pada pelabuhan
kusimpan jejak
agar tak tersampai jarak
Pada pelabuhan
kusisihkan waktu kelak jika kurapat

* 2011

Jangkar Dan Kapal

Seperti jangkar dan kapal
aku tak pernah lepas bertautan
hanya keadaanlah membawaku
menunggu
menunggu muatandan berlayar
Entah, berapa lama.
Ketika engkau pergi
dan aku menanti

* 2011

Berapa lama lagi

Berapa lama lagi waktu memburu
hari tak menentu
Rajawali terbang membuka jarak
perjalanan retak
Berapa lama lagi menunggu detik itu berlalu
Kapal tak melaju
sebab ombak menderu
tipu
Berapa lama lagi sabar
kapal melepas jangkar
mengincar sasar

* 2011

Di Sebuah Perbatasan

Di sini tak ada api
Jalan-jalan masih saja sepi
batu-batu diam terpejam
Rajawali terbang mengekor angin
yang perlahan turun
di ranting blimbing
Di sini Rajawali istirah
mengukur gerah
dan entah sampai kapan
Jalan masih lengang untuk ia
pulang
merenda kembali hari
menjejakkan kaki
yang kian menepi

* 2012

Dijumput dari: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=328197