Identitas Melayu dalam Sastra Serumpun

Ahmadun Yosi Herfanda
sembahyangrumputan.blogspot.com

Sastra, menurut Umar Kayam, adalah refleksi dari masyarakatnya. Karena itu, identitas suatu bangsa, antara lain dapat dilihat pada karya sastranya. Atau, sebaliknya, ketika suatu bangsa membutuhkan penguatan identitas, karya sastra berpeluang untuk memberikannya.

Maka, ketika suatu bangsa terancam kehilangan identitasnya akibat serbuan budaya-budaya global (Barat), revitalisasi nilai-nilai budaya melalui karya sastra menjadi sangat penting. Tetapi, karena nilai-nilai budaya dalam karya sastra bersifat dinamis dan menebar, maka diperlukan forum untuk mengkaji dan merangkum nilai-nilai itu, kemudian merumuskannya menjadi identitas bersama yang lebih pas.

Dan, itulah yang sesungguhnya saat ini diperlukan oleh bangsa Melayu yang menebar di negara-negara serumpun, seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Indonesia, Thailand dan Filipina. Karena itu, ketika sebuah forum sastra besar bernama //Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) XIII// melupakan masalah itu, penyair Binhad Nurrohmat mengingatkannya. ”Forum seperti ini lebih berguna dipakai untuk merumuskan identitas Melayu, daripada sekadar romantisme antarsastrawan,” katanya dalam seminar internasional PSN XIII di Graha Pena Surabaya, pekan lalu.

Pada forum dua tahunan yang berlangsung pada 27-30 September 2004 itu memang tidak ada sesi yang secara eksplisit ditujukan untuk mengkaji dan merumuskan identitas Melayu. Jelasnya, PSN tidak dengan terus-terang dipakai sebagai forum peneguhan ‘politik identitas’ seperti dikehendaki Binhad dan beberapa peserta lain.

Tetapi, dengan rutinnya diselenggarakan PSN dan banyak ditampilkannya karya-karya para sastrawan negara-negara serumpun, sejak yang berpola pantun sampai yang kontemporer, sebenarnya secara tidak langsung PSN telah menjadi ajang peneguhan politik identitas itu. Apalagi, para sastrawan Malaysia, Singapura dan Brunei, selalu getol membacakan pantun-pantun (Melayu) kontemporer hampir pada tiap pentas seni PSN, seperti yang terjadi di Surabaya.

Pertunjukan-pertunjukan seni PSN XIII di Taman Budaya Surabaya, seperti teaterikalisasi puisi oleh sanggar sastra asuhan I Gusti Putu Bawa Samar Gantang yang terpengaruh tari kecak Bali, tari zafin Raff Dance Company, musikalisasi //Bledhek Sigar// Bengkel Muda Surabaya, drama //Daerah Perbatasan// Teater Gapus, pembacaan puisi Diah Hadaning, Rusli Marzuki Saria, Aming Aminudin, D Zawawi Imron, dan Masruri, serta buku-buku sastra yang dipamerkan di lobi Graha Pena, barangkali juga dapat dianggap sebagai bagian dari proses peneguhan identitas Melayu itu.

***

Meskipun tidak eksplisit dan konseptual, persoalan identitas Melayu juga terbaca pada makalah-makalah yang disajikan dalam sesi seminar dua hari di Graha Pena Jawa Pos yang diikuti sekitar 200 sastrawan negara-negara serumpun itu. Sebab, selain membahas tema-tema universal yang menjadi persoalan bersama, seminar juga mengkaji tema-tema lokal yang menjadi perhatian masing-masing negara, bahkan kelompok etnis di dalam negara itu.

Dari penyair Negeri Singa Jamal Tukimin, misalnya, kita dapat melihat tradisi nusantara dalam sastra Singapura, yang sangat beridentitas Melayu. ”Pengaruh paling besar dan berkesan dalam perjuangan kreativiti dan penulisan sastera di Singapura adalah tradisi kemelayuan,” kata Jamal Tukimin. ”Sastrawan Singapura yang lebih tua, seperti Suratman Markasan, juga meletakkan isu kemelayuan sebagai //subject matter// karya-karya mereka. Begitu juga sastrawan yang lebih muda, yang kini sedang membina citra Melayu Baru,” tambahnya.

Identitas Melayu dalam sastra Singapura juga diungkap Mohd Pitchay Gani MA, dan Masruri SM. Sementara tentang identitas Melayu dalam sastra Brunei dibeberkan oleh Awang Kamis Hj Tua, Dr Hj Hashim bin Hj Abd Hamid, Dr Ampuan Hj Brahim bin Ampuan Hj Tengah, Hj Jawawi bin Hj Ahmad, dan Dr Hj Morsidi bin Muhammad. ”Genre sastra modern para penulis Brunei tetap mengakar kepada jati diri bangsa Melayu yang mempunyai pegangan ketuanan Melayu dengan tradisi agungnya sebagai sebuah negara Kesultanan Melayu Islam,” tutur Hj Hashim bin Hj Abd Hamid.

Agak berbeda dengan sastrawan Singapura yang sedang membangun identitas Melayu dan sastrawan Brunei yang kukuh pada tradisi ketuanan Melayu, para sastrawan Malaysia justru lebih banyak memotret berbagai pergeseran nilai akibat perubahan zaman. Ini terbaca pada prasaran-prasaran Dr Noriah Mohamed, Dr Siti Zainon Ismail, Prof Dr Dato Zainal Kling, Dato Dr Hj Ahmad Kamal Abdullah, Prof Zainal Abidin Borhan, dan Dr Hashim Ismail. Bahkan, menurut Kamal Abdullah, puisi-puisi Malaysia kontemporer cenderung menantang tradisi, dan kini terancam terpinggirkan oleh sastra Ingris Malaysia. Sementara, Siti Zainon melihat bergesernya pandangan para penyair perempuan Malaysia tentang etika dan budi pekerti.

Tema yang lebih beragam diangkat oleh para pembicara dari Indonesia. Abidah el Khalieqy, misalnya, membahas gagasan-gagasan feminin dalam sastra Indonesia. Sementara, Sri Widati lebih menukik pada feminisme dalam sastra Jawa, Viddy AD Daery mengungkap sastra zaman Majapahit dan zaman kesunanan Jawa, Akhudiat membahas sastra lisan pesisiran, D Zawawi Imron menyorot sastra pesantren, dan Taufik Ikram Jamil membahas pengaruh kelisanan dalam sastra Indonesia modern.

Pembicara lain, Ayu Sutarto membahas cerita-cerita rakyat Jawa Timur, dan Roell Sanre mengupas pemetaan sastra Melayu di Sulawesi Selatan, Taufiq Ismail membahas masalah sastra dan dunia pendidikan, Dendy Sugono membahas tentang sastra dan identitas bangsa, Budi Darma tentang sastra multikultural, dan Ahmadun Yosi Herfanda membahas tentang evolusi, genre dan realitas sastra koran.

***

Beragamnya tema yang diangkat, dan tidak adanya satu alur untuk merumuskan satu identitas bersama, memang mengakibatkan identitas Melayu dalam sastra negara-negara serumpun menjadi menebar dan kabur. Barangkali, baru anugerah kesamaan bahasa, yakni bahasa Melayu, seperti dikatakan Taufiq Ismail, yang menyatukan atau membingkai identitas Melayu dalam sastra negara-negara serumpun.

Tetapi, di Malaysia, seperti diungkap oleh Kamal Abdullah, identitas bahasa itupun kini terancam oleh makin menguatnya tradisi sastra Ingris Malaysia. Karena itu, memang ada benarnya usulan untuk mengemas PSN menjadi forum yang lebih serius dan terarah dalam membahas persoalan bersama guna merumuskan identitas bersama (Melayu) itu.

Identitas Melayu, tentu, tidak harus homogen, karena wilayah negara-negara Melayu serumpun didiami oleh berbagai etnis dan agama, yang masing-masing memiliki bentuk ekspresi budaya yang berbeda. Pemaksaan identitas yang homogen hanya akan mengakibatkan semacam ‘tragedi kultural’ seperti pemaksaan identitas budaya nasional yang terjadi di Indonesia pada masa orde baru yang mematikan banyak ekspresi budaya dan tradisi etnis. Akan lebih konyol jika pemaksaan identitas yang homogen itu terjadi pada budaya ataupun sastra negara-negara serumpun yang lebih membutuhkan identitas yang relatif berbeda sesuai dengan realitas masyarakat masing-masing negara. Identitas Melayu mestilah bersifat dinamis dan heterogen.

Dijumput dari: http://sembahyangrumputan.blogspot.com/2011/08/identitas-melayu-dalam-sastra-serumpun.html