Pengantin Ular

Korrie Layun Rampan
Suara Karya, 4 Des 2005

KINI lou itu membayangkan masa kanakku yang hilang di rumah panjang itu. Atapnya yang melegam dimakan zaman, menandakan usianya yang uzur, bagaikan lelaki yang sudah melewati masa setengah umur. Tiang-tiangnya yang tinggi, kadang terendam air jika musim banjir tiba. Dinding dan lantainya yang dibuat dari papan taho memperlihatkan kuatnya arsitektur zaman nenek-moyang yang sepenuhnya tidak menggunakan paku. Papan-papan lebar lagi tebal itu begitu kuatnya, sekuat langit yuang membentang di atas kepala.

Sebagai rumah panjang yang dihuni seluruh warga, lou adalah sebuah kampung. Unik rasanya membayangkan sebuah rumah sekaligus sebuah desa. Kampung di Jawa atau di Jakarta memiliki penduduk puluhan ribu jiwa. Sangat sukar dibayangkan sebuah rumah menjadi sebuah kampung. Bagaimana mungkin manusia ribuan hidup di dalams atu rumah? Seperti sebuah apartemen di kota raya? Namun Kampung Beremai adalah sebuah kampung yang hanya memiliki satu rumah saja.

Lou dibangun membujur sepanjang sungai. Warga yang berdiam di rumah itu mandi dan mengambil air di Sungai Kedang Pahu. Ada rakit berupa gabungan gelondong kayu bundar yang dipasak menjadi sebuah hamparan datar tempat warga menambatkan perahu atau kapal, bahkan ketinting dan speed-boat.

Bagian belakang lou tanah berpaya dan bagus dijadikan sawah. Namun tak seorang pun yang mau mulai menggarap sawah karena mereka lebih suka berhuma di kawasan yang jauh di udik Sungai Piraq atau di pehuluan Sungai Kedang Pahu. Ada juga mereka yang membuka hutan di seberang sungai, meskipun tanah datarannya kurang subur, yang sering padi mengering, apalagi kalau tiba musim panas. Agak aneh kupikir, mengapa kampung itu bisa berdiri di situ, sementara tak ada sesuatu pun yang ditunggu di dataran berpaya itu. Semua huma dan kebun warga berada dalam jarak pukuhan kilometer dari lou itu. Seakan-akan mereka menunggu angin atau menanti musim untuk menebang pohon meranti dan kemudian menghilirkannya ke kota. Uang yang didapat itu dijadikan modal berjudi dan sebagian uang itu dijadikan modal menganggur berbulan-bulan sambil mengomel dan menyumpahi cuaca yang mengeringkan daun-daun padi dan palawija di huma. Sebagian mereka menyumpahi buaya dan pesut yang merusak jaring dan menyumpahi ikan-ikan yang sukar didapat karena habis disetrum oleh nelayan kambuhan yang datang dari hilir. Setelah uang habis dan tak ada lagi sesuatu yang bisa dijual, biasanya barulah mereka menghutan, naik menghulu ke udik sungai dan menghiliri lagi kayu-kayu gelondong.

Lama sekali kayu-kayu itu dapat tumbuh menjadi besar, dan akibatnya pencarian mereka makin hari makin jauh hingga tiba masanya pengusaha HPH masuk dan terjepitlah para penebang liar itu di antara ketiak meranti dan ketiak pengusaha HPH. Patok-patok hutan bersama pembangunan jalan logging menghumbalang sana-sini membuat hutan yang tadi sepi berubah menjadi ramai. Kawin-mawin antara pekerja HPH dengan gadis-gadis pehuma meninggalkan anak-anak belastran yang menciap bagaikan burung patah sayap ketika kontrak pekerja habis di hutan yang habis. Ibu-ibu yang reot kadang muncul di lou, kadang menghilang di huma yang makin sempit karena dikangkangi areal HPH.

Lama aku tak kembali ke Beremai. Setelah aku lulus kelas tiga SD di kampung sebelah.Di Beremai sendiri tak ada sekolah, semua anak yang ingin sekolah harus berjalan kaki di dalam lumpur becek jika musim hujan mengguyur jalan dan harus pula bertarung melawan gumpalan-gumpalan debu yang naik ke hidung, jika musim kemarau tiba. Aku kemudian harus pergi melanjutkan sekolahku ke Damai, di ibu kota kecamatan. Dengan berkayuh menggunakan sampan, kadang aku bermalam di tepi pantai sungai yang berpasir, kadang bermalamdi kampung yang ada di pesisiran sungai. Karena jaraknya sangat jauh, aku kadang tak kembali meskipun ada vakansi.

Masa kanakku hingga kelas tiga SD kurasakan cukup memberiku bekal di kampung yang mulanya tumbuh dari pindahan para pehuma yang bermigrasi dari Muut, Benung, Mencimai, dan Kelian yang nun berada di dataran Idan hingga ke tepian Sungai Nyuatan. Karena jarakyang jauh, teratak awalnya lama kelamaan berubah menjadi rumah dan kemudian berubah menjadi lou yang tahan gempuran waktu selama ratusan tahun lamanya.

Aku kagum dengan lou itu. Bahan-bahan bangunannya sangat terpilih dan cara membangunnya yang khas model teknologi kuno, sama sekali tak menggunakan sarana modern yang dibeli dari kota. Semua sambungan kayu dipasak dengan bahan ulih, dan bagian tertentu diikat dengan pusar, suatu ikatan rotan yang seperti dianyam. Sambungan kayunya menjadi kukuh, dan oleh kelenturan bahan kayu dan rotan, bangunan itu takkan runtuh, meskipun bertubi-tubi digoyang oleh gempa berpuluh kali sehari!

Jika musim banjir tiba, sungai meluap hingga berada diatas ambang bantaran dan hampir menyentuh lantaitaho. Hanya sampan dan pengayuh yang berguna untuk membawa orang dan anak-anak sekolah ke kampung sebelah. Hubungan antara kampung menjadi macet,mirip kemacetan lalu-lintas di tengah kota Jakarta. Orang sukar bergerak, karena seluruh permukaantanah dilimpahi air yang merata. Para pekerja hutan kadang menganggur, tapi sebagian yang memiliki kerja di luar HPH, mereka dengan giat menghiliri gelondong untuk ditumpuk di logpond. Biasanya musim banjir adalah musim panen para penebang kayu gelondong, dan itu bermakna judi tongkok dan judi ceki bersama dadu gurak makin marak, bagaikan penyakit sampar yang menghabisi berkandang-kandang ayam peliharaan.

Memang bagaikan ayam terkena sampar, para penjudi, biasanya yang kalah, akan bermenung bermuram durja, karena menyesali kerja yang berat tapi uang habis begitu saja tanpa guna! Dan memang, sesal tak pernah datang duluan, selalu menyusul setelah semuanya ludes dan bahkan setelah kaum lelaki terkena raja singa.Ada juga yang menyesali seumur hidup, setelah istri mereka melahirkan anak cacat – tangan atau kaki -, buta, bisu, tuli, atau berbibir sumbing!

Masa kanakku hingga kelas tiga SD mengingatkan aku akan arus sungai dan deruan banjir jika musim hujan menyusuh di kawasan pehuluan sungai. Banjir bandang dengan arus yang deras kadang menakutkan. Kadangkala Nenek malah menakut-nakuti kalau banjir tiba bahwa hantu air yang berwujud kepala rusa bertandung tujuh akan muncul dari dalam air dan akan menanduk siapa saja yang dijumpainya. Jika anak-anak yang dijumpainya maka anak-anak itu akan ditusuknya, dan dibawanya ke dalam air untuk dipanggang dijadikan sate yang merupakan hidangan paling istimewa bagi makhluk lelembut di bawah air.

Aku kadang merasa ngeri mendengar cerita Nenek. Apakah memang benar ada hantu berwujud kepala rusa, atau cerita itu hanya dongeng Nenek untuk menakut-nakuti kami anak-anak, agar tidak bermain air di musim banjir?! Sebab kematian kadang tak terduga, seperti anak Sompoy yang bernama Ontu yang hilang ditelan sungai saat banjir mencapai setengah dinding lou. Apakah anak itu memang diambil hantu air, atau ia justru hanya keseret banjir bandang yang baru datang, saat tidur pulas di atas lantai taho dan banjir menderu datang menghanyutkannya ke arus sungai.

Sepuluh tahun terakhir ini aku tak pernah sempat pulang, terakhir aku pulang saat selesai wisuda, danaku harus mengantar Ibu. Jarak Jakarta Beremai bukanlah jarak yang dekat. Aku harus menggunakan ketinting selama sehari setelah turun dari kapal di Damai. Untuk mencapai ibu kota kecamatan itu harus menggunakan kapal air selama dua hari semalam nonstop! Tak ada waktuku dapat dibuang percuma, karena kerjaku yang banyak mengambil waktu dan menguras tenaga, membuat aku lebih mementingkan membangun karier di tengah hutan belantara Jakarta.

Namun surat Ibu memintaku dengan sangat agar segera pulang. “Tak perlu lama, Mang. Tiga hari saja kau di Beremai sudah cukup. Kau bisa hitung, berapa hari kau pulang balik Jakarta-Beremai?”

Aku melayang di bawah sayap burung besi. Kebetulan akhir-akhir ini beberapa maskapai penerbangan bersaing dengan hebat sehingga pihak manajemen maskapai penerbangan pemerintah pun ikut menurunkan tarif. Harga tiket pesawat kadang lebih murah dari harga tiket sebuah feri. Aku pun ambil bagian tiket murah, dan aku melayang dari Jakarta ke Balikpapan. Dari situ aku ambil taksi untuk mendapatkan speed-boat di Kota Bangun untuk segera menderu ke arah hulu. Aku ingin bertemu dengan Ibu di Beremai. Apa gerangan yang hendak disampaikannya kepadaku?

“Ibu rasa kau sudah siap lahir batin, Mang. Jadi tak perlu waktu lama untuk urusan yang memang tak butuh waktu untuk dilaksanakan!” kuingat potongan surat yang ditulis dengan liukan halus gerak jari seorang pensiunan guru lulusan sekolah di zaman penjajah.

Aku merasa senang karena perjalanan dapat dipersingkat, meskipun biayanya cukup tinggi. Jika dulu aku harus membuang waktu dua hari semalam untuk mencapai Damai dari Samarinda dan sehari menghulu dengan ketinting, kini hanya sehari dari Jakarta dapat tiba di Beremai. Dengan cara estafet menggunakan pesawat udara, kendaraan roda empat, speed-boat, aku tak lagi membuang waktu percuma. Kurasa ini adalah suatu anugerah otonomi daerah, karena sebelum ada kabupaten pemekaran, semuanya sukar tak terkira, termasuk beratnya perjalanan ke pedalaman!
Aku segera memeluk Ibu.

Tak kukira Ibu sedemikian tua, seakan aku memeluk tulang-belulang tanpa daging dan lemak. Kurasa aku begitu berdosa, mengapa tega sedemikian lama baru kembali menengoknya di kampungnya yang sunyi? Apalagi setelah ia sendiri ditinggal Ayah yang terlebih dahulu pergi ke balik dunia yang tak bisa dilihat oleh mata manusia.

“Kau tak katakan pulang hari ini, Mang. Terlalu lama kau berkubang dalam keringat Jakarta. Sampai lupa ciri-ciri kampung sendiri,” mulut Ibu nyerocos dengan bau sepah sirih yang sangat kontras. “Kau berapa hari ada di sini?”

“Sesuka Ibu,” aku lepaskan pelukan hangatnya, seperti hangatnya pelukan dulu, saat ia melepaskan aku pergi setelah aku lulus kelas tiga SD dan harus melanjutkan sekolahku di ibu kota kecamatan. “Timangbura telah ambil cuti untuk beberapa hari!”
Banyak warga menyalamiku, dan di antaranya membuat mataku terpana.
“Jautnlemit?” suaraku hampir tercekik.
“Timangbura?” suaranya juga hampir tak terisi intonasi.
“Ehg, jadi kalian sudah kenal?” Ibu tampak curiga. “Di mana kalian pernah berkenalan?”
“Di Jakarta,” mulut kami bersuara bersama.

Ibu menuntun tanganku dan tangan Jautnlemit, membawa kami masuk ke dalam lou. “Halini sangat memudahkan Ibu,” suara ibuku sembari mendudukkan kami berdua di depan kamar lou. “Jautnlemit sudah lima tahun di sini. Dan kau Mang, Ibu ingin kalian berdua melanjutkan generasi kami. Meskipun tak memelihara lou, tapi kalian berdua dapat memberikan generasi baru.”

Mata Ja mengerling padaku, seperti dulu ia mengerling karena kucandai main pengantinan saat kami masih di Jakarta. “Ja telah banyak membantu masyarakat sini dengan membuka sawah dan mendidik anak-anak untuk maju. Dengan bentuan dana dari pemerintah, sawah telah menghasilkan. Gedung sekolah dibangun dengan megah. Ibu rasa kalian berdua cocok untuk disatukan di dalam sebuah rumah tangga bahagia.”

“Tapi Ja tak ingin seperti Siti Nurbaya,” aku pandang wajahnya. Cubitannya terasa pedas di pahaku. “Ibu belum tanyakan Ja dan aku, Bu.”

“Ja putri pamanmu Nemukorau. Kau anak almarhum ayahmu. Ayahmu dengan pamanmu Nemukorau masih sepupu sekali. Kau sepupu dua kali dengan Jautnlemit. Dari segi hubungan keluarga kalian berdua tak ada masalah. Jika kalian berdua setuju, kapan akad nikah?” suara Ibu benar-benar membuat aku terperangah.

Tak ada yang menolak, sebenarnya, karena kami memang pernah saling jatuh cinta. Hari-hari Jakarta yang penuh kebisingan tak membuat kami kehilangan mesra. Namun tiba-tiba Jautnlemit menghilang begitu saja, tanpa memberitahukan ke mana ia pergi. “Aku hanya ingin memberikan sesuatu pada orang-orang yang kukasihi,” suaranya sebelum ia menghilang. “Sebagai tanda bahwa aku pernah ada dan hadir di dunia.” Ia kemudian seperti ditelan bumi.

Jakarta memang sebuah rimba yang menyesatkan. Namun Jakarta juga sebuah jalan indah menuju kehidupan. Di jalan itulah aku mula-mula mengenal Jautnlemit, semasa masih menuntut pendidikan. Meskipun berlainan fakultas, entah mengapa, kami dapat saling mengenal dan saling jatuh cinta. Tapi, sungguh mati, aku tak tahu padanya aku masih punya hubungan keluarga. Dan, selepas ia lulus dari fakultas ilmu pendidikan, katanya ingin mengabdi sesuai jurusan, dan aku masih terkatung pada tingkat Magister.

Kurasa tuah langit telah membawaku pada kemujuran calon istri. Kata orang semua ahli surga akan dituntun pada kemujuran yang indah, karena memang telah tersedia jalan lempang ke rumah bahagia. Persiapan yang dilakukan oleh Ibu membuat aku kehabisan suara, selain menjalani apa yang dikatakannya. Cintaku menemukan cinta Ja, dan kami tak harus bersusah-payah memperebutkan hati yang ingin diberikan, karena Ibu telah menyiapkan jalan ke pusat kemujuran. Hanya tinggal bersanding dan memeluk kebahagiaan yang akan direngkuh di hari-hari penuh bunga.

“Mengapa kau membuang diri begini, Ja?” kugenggam tangannya saat ia membawaku melihat-lihat hasil kerjanya selama lima tahun di Beremai. “Kau tak pamit padaku. Tak memberitahukan aku di mana kau berada. Kau memang telah memiliki calon pemuda yang diidamkan hati dan jiwa?”

“Timangbura pemuda itu, Mang. Lima tahun aku di sini, Ibu yang tahu. Aku sibuk dengan sawah. Aku sibuk membangun gedung sekolah. Aku sibuk mengajar. Dan aku sibuk berdoa agar kekasihku kembali segera.”

“Jadi kau tahu kalau kita masih punya hubungan keluarga?”

“Kau yang terlalu kekota-kotaan. Kau seperti pemuda lepas akar!”
“Tapi aku mencintai Jautnlemit. Kau tak mencintaiku?”
“Cinta tak hanya diucapkan. Cinta dijalani di dalam kesetiaan.”
“Aku setia hingga kini tak mencari penggantimu, Ja. Meskipun aku benar-benar gamang kau sudah bersuami.”
“Aku yakin suamiku Timangbura.”

Kurengkuh ia sekilas pada pematang sawah yang kami pijak berdua. Luasan paya dan rawa tak berguna ternyata telah diubah Jautnlemit menjadi sawah yang sedang menguningkan padi. Di arah lou musik suka telah bernyanyi dalam udara yang diharumi buah padi. Segala persiapan pengantin tinggal menunggu duduknya raja dan ratu sehari.

Udara pagi yang dingin, dan embun menyaput putih daun. Sesiang nanti barulah upacara pemberkatan nikah. Dulu rawa paya menakutkan di belakang lou – rumah satu-satunya – kini rumah-rumah penduduk sudah begitu banyak berjajar di sepanjang bentangan sungai. Benar-benar aku jadi pangling, betapa kemajuan telah merambahi kampung dan hutan, dan warga dapat bernyanyi mengenai anugerah masa depan. Apakah judi, narkoba, dan rajasinga telah terhapus dari hati kaum lelaki?

Kami turun ke arah saluran di bawah. Arah jauh tampak bentangan hutan seperti menggantung hingga mencapai ke kaki gunung. Arus air yang mengericik turun dari saluran yang dibuat dengan perhitungan teliti geometri. Dengan hitungan yang pasti – mungkin dilakukan Ja – air mencukupi untuk seluruh bidang sawah yang membutuhkan penyaluran.

“Dulu warga suka melepaskan ayam dan babi,” Ja menunjuk ke rumah-rumah penduduk. “Tapi setelah ayam dan babi itu sering hilang, warga tak usah lagi disuluhi. Mereka tahu sendiri bahwa binatang piaraan itu harus dikandangi.”
“Jadi sawah sempat dirusaki babi?”

“Ya. Itu dulu. Tiga tahun terakhir ini mereka nikmati sendiri hasilnya. Bahkan tahun ini kampung ini akan menghasilkan panen yang berlimpah. Mang lihat sendiri kuning padi seperti ombak emas yang dikipas dari tambang emas Kelian.”

Tiba-tiba aku dikejutkan gerak aneh pada batang padi disertai sesuatu yang licin saat Jautnlemit memekik minta tolong. “Tolong, aku dibelit ular. Tolong! Aku dibelit ular! Tooolllooooongng!”

Sempat kulihat sekilas ekor ular sawah yang badannya sebesar pokok pinang segera membelit calon istriku, dan aku coba menangkap badannya yang panjang, tapi selepas karena licin. Tanpa kuketahui dari masa asalnya, ada sesuatu yang menghantam dengan keras ke arah betisku, dan kakiku terasa sangat sakit. Segera belitan yang kuat seperti mengunci seluruh badanku, seperti mau meremukkan tulang-tulangku. Aku berusaha berteriak, tapi leherku sudah tercekik belitan seekor ular raksasa. Apakah badan ular itu sebesar pohon kelapa?

Apakah ular itu juga sedang bercinta seperti aku dengan Ja? Sebentar akan menikah? Atau ular itu kelaparan karena tak ada lagi babi dan ayam warga yang dilepaskan? Atau karena hutan habis digunduli untuk lahan HTI dan sebagian lahan HPH terbakar sehingga tak ada lagi binatang yang bisa diburu? Tak ada kodok tak ada tikus di sawah karena sudah dibasmi petani?

Sesiang nanti akad nikah.
Leherku makin tercekik. Dan Jautnlemit? Calon istriku itu juga seperti aku tak bisa melawan ular sawah sebesar pohon pinang? Aku tak bisa membantunya karena badanku segera dibeliti dengan kuat sekali. Kami berdua akan mati tercekik? Belum sempat menikmati malam pertama?

Tak kudengar musik suka di lou. Telingaku serasa berdenging. Lumpur dan batang bati kurasakan ikut membenamkan aku ke dalam belitan yang mematikan. Tak ada sebilah pun senjata untuk melawan. Bukankah di Jakarta dilarang keras membawa senjata tajam? Larangan itu terus kubawa ke Beremai! ***

Catatan:
taho = papan yang dibelah tebal;
lou = rumah panjang orang Dayak;
puser = ikatan khas pada sambungan kayu sebagai pengganti paku atau pasak;
ketinting = ces, perahu bermesin dengan as panjang yang bisa digerakkan ke sana-kemari;
tambang emas Kelian = tambang emas terbesar di Kalimantan Timur, tutup beroperasi 2004;
speed-boat = motor tempel;
logpond = tempat penumpukan kayu di sungai.

Dijumput dari: http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=128786