Latah

Kasnadi *

Latah menurut Tesaurus Bahasa Indonesia (2006:365) bermakna “ikut-ikutan”. Sifat ini merupakan salah satu ciri bangsa Indonesia di samping ciri lain yang diungkapkan oleh Mochtar Lubis dalam buku Manusia Indonesia: Sebuah Pertanggungjawaban (1996). Mochtar Lubis telah menjelaskan bahwa manusia Indonesia mempunyai beberapa ciri, diantaranya, adalah hipokrit, tidak bertanggung jawab, malas, tak beretos kerja, suka menerabas, santai, berjiwa feodal, percaya takhayul, irasional, pendengki, dan boros. Sadar atau tidak ciri-ciri di atas telah tertanam dalam segala aspek kehidupan kita.

Latah, sebagai salah satu ciri manusia Indonesia, tentunya sudah mematri juga dalam kehidupan kita. Oleh karena itu, wajarlah jika pada akhirnya lahir pernyataan manusia latah, sosok latah, kampung latah, pondok latah, sekolah latah, pemerintah latah, birokrat latah, pemimpin latah, petani latah, pedagang latah, keluarga latah, masyarakat latah, kelompok latah, dan bangsa latah.
***

Tak sulit kita menemukan sifat latah.
Dekade 2000-an sinyalemen menarik perilaku berbalut religi tumbuh subur. Ritual-ritual berbaju religi menguat tampak di masyarakat. Manusia berduyun-duyun mendatangi KUA untuk mendaftarkan diri menjadi calon haji, sehingga antrian panjang berderet sampai tahun 2020 sudah penuh terisi. Seakan haji adalah ibadah puncak dan akhir segala ibadah. Para dermawan dengan seekor domba mendadak tiba dan Ibrahim menjadi idola. Tetapi, mengapa kemiskinan tetap menggila?

Lihat dan tengok barisan perempuan-perempuan masa kini.Tubuh mereka terbungkus jilbab secara rapat. Sampai-sampai sulit mencari segelintir perempuan yang tidak berjilbab. Mereka merasa malu jika tidak mengenakannya, meski dipadukan dengan kaos dan celana ketat. Kini, sungguh tepat apa yang dikatakan Mh. Ainun Najib dalam kumpualan puisinya Lautan Jilbab. Namun, sudahkah mereka menutup perilaku auratnya?

Sewaktu ramadan tiba, tempat-tempat ibadah berubah wajah, tenda-tenda baru berdiri menghiasi halaman karena tak mampu menampung jamaah. Mereka berduyun-duyun dan berjubel memenuhinya. Rumah-rumah kosong ditinggal penghuninya. Nada dan ritme ayat-ayat Tuhan menggema lewat pengeras suara. Amal dan zakat mengemuka. Sungguh pemandangan yang menggembirakan. Sudahkah ritual-ritual mererka dibarengi dengan perilaku yang semestinya? Mengapa korupsi, kolusi, dan nepotisme tetap merajalela? Mengapa fornografi dan fornoaksi masih juga menjadi tontonan murah dan luar biasa gampang diaksesnya? Sungguh manusia memang pandai bersandiwara.

Dalam sejarah seni sastra, misalnya, dalam tradisi teater Indonesia sekitar tahun 70-an dramawan Rendra berlatih teater di pinggir pantai dengan memasang tenda-tenda darurat. Tak begitu lama kelompok teater seantero Indonesia berduyun-duyun membawa tenda dan berlatih di pinggir pantai. Sewaktu penyair Sutarji Calzhom Bachri mencipta puisi aneh, berbondong-bondong penyair muda mencipta puisi aneh. Ketika novel percintaan berselimut agama menduduki rating atas, sungguh, dalam waktu hitungan jari novel-novel sejenis memenuhi rak-rak toko buku di seluruh kota. Sewaktu Ayat-ayat Cinta buah tangan Habiburrahman meraup finansial yang fantastis karena filmnya, segera disusul Ketika Cinta Bertasbih, Sajadah Cinta, Mihrob Cinta, dan karya sastra sejenisnya. Ketika Si Inul, Si goyang ngebor, menjadi pembicaraan banyak orang karena goyang ngebornya, dalam sekejab mata berpuluh-puluh penyanyi menggoyang pantatnya bak Inul Daratista bahkan lebih ngebor daripada Inul itu sendiri.

Dalam dunia pendidikan kelatahan terjadi ketika program pemerintah atas pentingnya RSBI. Sekonyong-konyong RSBI muncul di mana-mana, seakan-akan sekolah yang benar-benar sekolah hanyalah RSBI. Dampaknya kelatahan berbahasa Inggris menjadi-jadi. Demam berbahasa Inggris mewabah bak jamur di musim hujan. Sekian banyak tema kegiatan ditulis dengan bahasa Inggris. Slogan berbahasa Inggris nongol di sudut-sudut sekolah. Para siswa ber ”-cas-cis-cus” mengangkat prestise-nya. Apakah mereka sudah lupa bahwa bahasa Nasional kita adalah bahasa Indonesia? Oleh karenanya, sudah sepantasnya jikalau RSBI menjadi persoalan dalam dunia pendidikan kita.

Latah, memang sudah menggema. Saat ini kelatahan sudah menelesup pada semua sendi kehidupan manusia. Menjalar secara diam-diam bak api dalam sekam. Sulit untuk dihela dan dibendung kedahsyatannya. Mengapa? Nampaknya latah sudah menjadi tradisi kalau bukan ideologi masyarakat kita.

*) Penulis adalah Staf Pengajar STKIP PGRI Ponorogo.