Acep Zamzam Noor “Mengunjungi Puisi Perjalanan”

Idayati
http://www.journalbali.com

Menghadirkan penyair Acep Zamzam Noor, Bentara Budaya Bali (BBB) menggelar Sandyakala Sastra edisi 22 “Mengunjungi Puisi Perjalanan”, Selasa (29/5). Bertempat di Jln. Prof. Ida Bagus Mantra 88A Ketewel, dialog kali ini membincangkan hal-hal terkini dalam susastra tanah air, serta bagaimana catatan perjalanan dan pengalaman menjejaki tempat-tempat tertentu dapat menjadi inspirasi lahirnya sebuah puisi yang unggul.

Bahkan tak hanya dalam puisi, sering kita membaca novel, juga cerpen, yang menjadikan sebuah tempat berikut keunikan masyarakatnya sebagai tema utama maupun latar kisahan. Bali adalah salah satunya. Sebut saja karya Eat, Pray and Love, novel peraih bestseller yang dikreasikan menjadi film dengan bintang tersohor Julia Roberts. Juga Remy Sylado dengan novel Merah Kirmizi¬-nya, atau kisah detektif Keping Rahasia Terakhir dari novelis Perancis Jean Rocher, hingga karya-karya puisi dari penyair pemenang Nobel Rabindranath Tagore, Abdul Hadi WM, Kirdjomulyo, serta tak terbilang lagi sekian karya penyair terkini.

“Nyatanya memang tak sedikit tempat atau kota-kota di dunia yang menjadi inspirasi lahirnya karya-karya unggul, “ ujar Putu Aryastawa. Staf Budaya BBB ini menyebut, Bali dengan segenap keunikan adat-istiadat dan budayanya, terbukti sering mengilhami para seniman Indonesia maupun luar negeri. Sebutlah sekian nama maestro seni rupa kita, misalnya Affandi, Nashar, Dullah, Widayat, dan juga Hendra Gunawan, atau seniman luar seperti Arie Smith, Rudolf Bonnet, Walter Spies, Van Oel, dan lain-lain, belum lagi nama-nama perupa terkini yang tak henti menjadikan Bali sebagai sumber mata air penciptaannya.

Hal tersebut sebagaimana pula ditampilkan Acep Zamzam Noor, peraih Khatulistiwa Literary Award (2006-2007), dalam sajak-sajaknya yang banyak berangkat dari kota-kota yang pernah dikunjunginya kala melawat ke luar negeri, maupun tentang kampung halamannya di Cipasung, Tasikmalaya.

Namun menarik ditelisik lebih jauh, bahwa selain memunculkan gaya baru dalam penciptaan atau metafor-metafor segar, ada semacam paradoks di mana momen pertemuan yang sesaat tersebut bisa saja berakibat lahirnya karya-karya yang bersifat instan atau sekadar pandangan mata permukaan.

“Program Sandyakala Sastra ini rutin digelar di Bentara Budaya Bali. Selain memperbincangkan perihal proses kreatif seorang seniman, juga berupa mendiskusikan lebih jauh kekinian susastra di Indonesia, berikut kemungkinan-kemungkinan baru dalam penciptaan, ” ujar Juwitta K. Lasut, Penata Program BBB.

Acep Zamzam Noor memperoleh fellowship dari Pemerintah Italia untuk tinggal dan berkarya di Perugia, Italia (1991-1993), serta diundang ke berbagai negara seperti Filipina, Belanda, Cina, dan sebagainya. Buku puisinya antara lain Di Luar Kata (Pustaka Firdaus, 1996), Di Atas Umbria (Indonesia Tera, 1999), Dongeng Dari Negeri Sembako(Aksara Indonesia, 2001), Jalan Menuju Rumahmu (Grasindo, 2004), Menjadi Penyair Lagi (Pustaka Azan, 2007) serta sebuah kumpulan puisi Sunda Dayeuh Matapoe (Geger Sunten, 1993). Sejumlah puisinya telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris, Belanda, Jerman, Perancis, Portugal, Jepang dan Arab.

Penerima South East Asian (SEA) Write Award 2005 dari Kerajaan Thailand ini mendapat Hadiah Sastra LBSS (Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda), Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2000 dari Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional, Penghargaan Penulisan Karya Sastra 2005 dari Pusat Bahasa, Anugerah Budaya 2006 dari Gubernur Jawa Barat, serta Anugerah Kebudayaan (Medali Emas) 2007 dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI. (/JB)
***