Kisah Sastra Tanah Pasundan

Dwi Fitria
Jurnal Nasional 1 Feb 2009

Agar tak punah, sastra daerah memerlukan perhatian khusus pemerintah.

SASTRA Sunda merupakan sebuah khasanah kekayaan sastra Indonesia tersendiri. Geliat sastra daerah ini telah terasa sejak masa awal sebelum kemerdekaan. Pengarang-pengarang Sunda seperti DK Ardiwinata dan Yuhana memberikan sumbangan tersendiri dalam khasanah sastra daerah dengan menelurkan karya-karya sastra berbahasa Sunda dengan tema dan eksplorasi yang tak kalah dari kanon-kanon sastra yang diterbitkan Balai Pustaka, semisal Azab dan Sengsara, atau Sitti Nurbaya.

Hadiah Rancage yang digagas Yayasan Rancage pimpinan Ajip Rosidi memiliki peran amat besar memunculkan kembali sastra Sunda ke permukaan. Sejak 1989, yayasan yang didirikan Ajip sekembalinya ia dari Jepang itu memberikan hadiah pada buku-buku sastra Sunda terbaik setiap tahunnya. Perhatian terhadap sastra daerah kemudian juga diperluas ke bahasa-bahasa lain seperti bahasa Jawa, Bali juga Lampung.

Rancage dan LBSS

Rancage memang berjasa dalam merevitalisasi sastra daerah yang jika tidak mendapatkan perhatian akan punah begitu saja. Karena Rancage-lah nama-nama seperti Godi Suwarna mendapatkan penghargaan sebagaimana mestinya. Memenangkan hadiah Rancage sebanyak tiga kali adalah salah satu hal yang makin melambungkan nama pengarang ini ke dunia sastra Indonesia.

Salah satu karyanya, Sandekala, bahkan kemudian dipentaskan oleh Mainteater, sebuah kelompok teater pimpinan sutradara Wawan Sofwan yang kebetulan juga berasal dari Bandung. Lakon Sandekala ditampilkan dalam dua bahasa Sunda dan Indonesia pada Juli 2008 lalu. Wawan Sofwan saat itu mengakui selain muatannya yang sarat dengan kritik sosial, kemenangan Sandekala dalam Rancage-lah yang membuat novel karya Godi Swarna itu ia angkat ke atas panggung.

Godi Suwarna mengakui bahwa Rancage memiliki peran yang amat besar dalam mengangkat dan melestarikan kekayaan sastra daerah. Sedikit menjadi batu sandungan adalah Rancage khusus memilih karya-karya yang telah berbentuk buku.

“Menerbitkan sebuah novel berbahasa Sunda bukan perkara gampang. Untuk Sandekala saja hingga akhirnya buku itu diterbitkan, saya harus menunggu sekitar sembilan tahun,” ujar Godi. “Untuk orang setua saya, agar buku kemudian diterbitkan, kita mungkin harus punya kesabaran yang luar biasa.”

Keharusan memiliki karya berupa buku inilah yang kemudian menurut Godi menjadi salah satu halangan bagi Rancage untuk menjangkau para penulis dari generasi yang lebih muda. Banyak dari para penulis generasi baru yang menurut Gody cukup menonjol semisal Tony Lesmana dan Nazarudun Ashar, belum lagi terjangkau oleh penghargaan tahunan tersebut karena belum ada karya mereka yang diterbitkan berupa buku.

Godi justru melihat Lembaga Bahasa dan Sastra Sunda (LBSS) memiliki peran lebih besar dalam meningkatkan kegairahan menulis sastra dalam bahasa Sunda di kalangan para penulis yang lebih muda.

LBSS mengadakan sayembara berkala dengan tujuan utama memberikan penghargaan pada karya sastra terbaik yang dimuat di kolom budaya koran-koran berbahasa Sunda semisal Mangle. Penghargaan LBSS membukakan kesempatan yang lebih luas pada bakat-bakat baru penulis berbahasa Sunda.

“LBSS lah yang menggairahkan anak-anak muda itu untuk tetap menulis dalam bahasa Sunda. Sayangnya karena keterbatasan dana, penyelenggaraan penghargaan LBSS tak bisa dilakukan rutin setiap tahunnya. Kadang dua tahun sekali LBSS baru bisa menyelenggarakan lagi,” ujar Godi.

Keterbatasan dana pula yang menyebabkab LBSS kesulitan menerbitkan karya-karya pemenang hadiah berkala itu dalam bentuk antologi, laiknya yang biasa dilakukan penghargaan sastra di tanah air. Tahun 1997 lalu, LBSS sempat menerbitkan sebuah buku, tapi hal itu tak berlanjut.

Sastra Sunda dan Kaum Muda

Kurangnya media promosi, tak terdistribusinya buku-buku sastra berbahasa Sunda dengan baik menjadi jejaring yang menyulitkan perkembangan ke depan sastra Sunda. Meskipun ini tidak berarti tidak ada pengarang muda berbakat yang membuat karya-karya sastra berbahasa Sunda.

Menurut Godi Suwarna para pengarang dari generasi lebih muda sesungguhnya memiliki bakat yang tak kalah dari para seniornya. Akses informasi luas yang terbuka dengan adanya internet bahkan menjadi nilai tambah bagi generasi yang lebih muda ini. “Mereka memilki kesempatan yang tak dimiliki generasi yang lebih tua seperti saya,” ujar Godi.

Yang patut disayangkan adalah kekayaan kosa kata bahasa Sunda yang menurut pandangan Godi makin lama makin menyempit di kalangan para penulis lebih muda. Sedikit terjadi pemiskinan kosa kata dalam karya-karya para sastrawan muda kini.

Godi bisa memaklumi karena di kota-kota besar seperti Bandung, penggunaan bahasa Sunda mengalami beberapa distorsi. Oleh karenanya bahasa yang digunakan tak sekompleks bahasa Sunda di daerah-daerah lain. “Tapi dengan keterbatasan itu pun, perjuangan mereka untuk melahirkan karya-karya berbahasa Sunda tetap patut diacungi jempol.”

Godi menyebut lagi nama-nama Tony Lesmana dan Nazarudin Azhar sebagai bakat yang perlu diperhatikan. Karya-karya mereka memiliki kekayaan tema dan eksplorasi bentuk yang berbeda dibandingkan para penulis segenerasinya. “Wawasan mereka cukup luas, tema-tema pun banyak berhubungan dengan masyarakat Sunda. Selain itu bentuk karya mereka tak hanya realis, seperti pengarang-pengarang lainnya.”

Sama seperti sastra dimana pun, sastra Sunda menurut Godi harus memiliki kekhasan tersendiri. Godi misalnya, sudah sejak tahun 70-an mengangkat dan kemudian menulis ulang cerita-cerita rakyat. Sosok jenaka Kabayan, di tangan Godi diubah menjadi seorang yang serius yang sesungguhnya tak suka jika ditertawakan orang.

Hilang dalam Penerjemahan

Dalam esainya Sastra Sunda yang Kian Mengilap, Maman Mahayana menyatakan bahwa salah satu kekuatan dan kekhasan sastra Sunda terletak pada rasa bahasanya yang memesona. Ia secara inheren melekat pada berbagai kecap anteran, morfem yang berfungsi menegaskan atau menambah kesan tertentu. Sastra Sunda memiliki kosa-kosa kata yang bisa menjelaskan nuansa kata tertentu dengan khas.

Usaha penerjemahan kerap menghilangkan kekhasan ini. “Dalam bahasa Sunda, gerak jalan yang berbeda memiliki kosa kata yang berbeda pula, begitu juga dengan memandang misalnya, ada memandang dengan mesra atau memandang dengan marah.” Dalam proses penerjemahan ke bahasa Indonesia kerap terjadi penyempitan makna.

“Dalam proses penerjemahan itu saya merasa karya-karya saya seperti ayam yang telah dicabuti bulunya. Ada banyak sekali hal yang hilang di dalamnya,” kata Godi.

Menanti Perhatian Pemerintah

Sastrawan Soni Farid Maulana beranggapan bahwa usaha yang dilakukan oleh Yayasan Rancage sudah maksimal. Ajip Rosidi dan yayasannya telah membangkitkan kegairahan terhadap karya sastra Sunda dan sastra daerah lainnya. Ironisnya di sisi lain, karya sastra pemenang Rancage tak mendapat respons positif dari pemerintah.

Meskipun Bahasa Sunda sudah lama dijadikan kurikulum wajib di sekolah-sekolah, perhatian pemerintah terhadap karya sastra Sunda bisa dikatakan nyaris tak ada. “Tak ada dukungan pemerintah, semisal dengan mewajibkan buku-buku sastra Sunda di sekolah-sekolah,” ujar sastrawan yang juga menaruh perhatian besar terhadap perkembangan sastra Sunda itu.

Selama ini menurut Soni, Rancage berjalan sendirian. Tanpa adanya dukungan pemerintah, buku-buku yang diterbitkan hanya terjangkau oleh orang-orang yang kebetulan berminat. Tidak ada upaya khusus untuk mendorong distribusi buku-buku sastra Sunda. Sehingga kemudian penjualan buku-buku ini pun amat sulit. Dari 1000 eksemplar misalnya, dalam setahun kemungkinan besar baru akan terjual 300 eksemplar saja.

Dampaknya, generasi muda menjadi kurang mengenal sastra Sunda. Bahkan di perguruan-perguruan tinggi yang memiliki jurusan Sastra Sunda seperti Unpad dan UPI.

Tapi pandangan yang lebih cerah dikemukakan Godi Suwarna. “Memang, peminat sastra daerah tak bisa dibilang banyak. Tetapi peminat itu tetap ada. Buku saya Sandekala, di Gramedia Bandung Indah Plaza, orang yang ingin membelinya harus masuk daftar tunggu terlebih dulu.”

Menurut Godi keberhasilan karya itu meraih hadiah Rancage berpengaruh cukup besar meningkatkan minat beli khalayak pembacanya. “Atau mungkin karena mereka tahu bahwa pengarangnya adalah seorang yang eksentrik,” ujar Godi setengah berkelakar.

Haruskah minat yang semakin meredup menjadi sebuah batu sandungan yang membuat sebuah kekayaan sastra menghilang? Ini boleh jadi sebuah pertanyaan yang harus dijawab bersama: masyarakat yang lebih luas lagi, dan juga pemerintah!
***

Dijumput dari: http://beautifulworldwithoutborders.wordpress.com/2011/08/15/kisah-sastra-tanah-pasundan/