Sastra Indonesia Pascakolonial, Timah, Lada dan Mangan (1)

(Dari Temu Sastrawan Indonesia II, Pangkal Pinang, 30 Juli – 2 Agustus 2009)
Mezra E Pellondou
Pos Kupang, 23 Agu 2009

APA yang membuatku bergairah sekali ketika diundang mengikuti Temu Sastrawan Indonesia II (TSI II) di kepulauan Bangka Belitung? Apakah karena cerpenku masuk dalam buku Antologi Cerpen Temu Sastrawan Indonesia II dan akan segera diluncurkan pada acara tersebut? Atau karena aku akan melakukan sebuah perjalanan imajiner ke negeri Laskar Pelanginya Andrea Hirata?

Dua alasan tersebut memang menggairahkan, namun ada tiga alasan lain yang tak kalah pentingnya, yakni 1) Mimpiku untuk menginjak tanah yang terkenal dengan timah dan lada tercapai, 2) Tema pascakolonial yang diusung panitia TSI II tidak mampu menahan rasa penasaranku yang terus menerus pada sastra, 3) Ingin memahami lebih dekat dengan teks dan gerakan Sastra Bangka.

Semua hal itu membuatku telah berada di Bangka dua hari sebelum acara TSI II dibuka. Saat pesawat akan landing di lapangan terbang Depati Amir, dari atas pesawat yang mengangkasa aku menjadi sangat sedih saat memandang Kepulauan Bangka Belitung yang bopeng-bopeng.

Terlihat dengan sangat jelas penambangan dan penggalian timah telah meninggalkan akibat yang sangat buruk pada lingkungan hutan dan kehidupan di Pulau Bangka. Dan akibat tersebut kuat dugaanku telah merambat pada detak jantung para petani terutama petani Lada. Bukankah Bangka juga terkenal dengan lada putihnya?

Sejenak aku mencoba berbangga dengan semangat masyarakat Kota Kupang menyambut dan mempraktikan gerakan Clean dan Green. Juga semangat memerangi dampak global warming yang sedang dilakukan negara-negara di dunia. Dari kebanggaan itu kesedihanku sedikit berkurang dan kebanggaan itu telah meletupkan kembali gairahku untuk menginjak tanah Bangka ini tidak hanya untuk mengikuti TSI, namun ingin lebih jauh merekam wajah daerah tersebut lebih dekat terutama berkaitan dengan timah dan lada.

Aku pun mendarat di lapangan terbang Depati Amir di Pangkal Pinang. Saat tiba di Bangka, di setiap pojok jalan terpasang spanduk dan baliho-baliho menyambut kedatangan kami. Koran-koran terbitan Bangka dan beberapa koran nasional sepanjang minggu ini, setiap harinya telah menulis acara TSI ini.

Promosi buku antologi kami pun telah dilakukan para wartawan lewat medianya masing-masing. Aku membeli sebuah koran Bangka Pos dan dari koran tersebut aku mendapat informasi seputar peserta TSI yang diundang dari seluruh Indonesia. Juga buku antologi cerpen kami para sastrawan yang diberi judul Jalan Menikung ke Bukit Timah dan antologi puisinya berjudul Pedasnya Lada pasir Kuarsa. Wah, sampai di situ aku bergetar karena judul-judul tersebut juga menyentuh timah dan lada.

Aku juga mencoba menyimpan kebanggaan lain yang tak kalah mengairahkannya bahwa ternyata Pemerintah Kepulauan Bangka Belitung sangat menghargai sastrawan dengan segala keberadaan mereka. Semua pegawai pemerintahan propinsi dan Pemda Pangkal Pinang dari lingkup

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, bahu membahu bersama sastrawan Bangka terlibat dalam panitia dan mereka menyambut kami dengan sangat ramah, bahkan sangat peduli pada kami mulai dari informasi-informasi dan kebutuhan kebutuhan sekecil apa pun, padahal cek in baru akan berlangsung 30 Juli.

Bahkan kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bangka Belitung, Yan Megawandi, SH, M.Si, dengan senyumnya yang ramah kepada setiap peserta, langsung turun lapangan terlibat dalam kerja panitia. Aku pun mencoba membangun mimpi, seandainya Pemerintah NTT pun bisa mencontoh hal baik ini, jika seandainya keputusan TSI II ini NTT menjadi tuan rumah TSI berikutnya. (bersambung minggu depan)
***

Dijumput dari: http://jurnalis-ntt.blogspot.com/2009/09/sastra-indonesia-pascakolonial-timah.html