SUMBAWA
kepada Umbu Landu

kudengar ringkik kudamu, padang rumput
pegunungan gersang dan kesunyian
inilah setitik air mata dan senyum
di sudut tanah yang mengerang

orang-orang telah memasang jalan rata
lurus dan panjang
tapi pedatimu masih tersuruk-suruk
di jalan sempit berlubang
orang-orang telah membentang lapangan
terbang
tapi kau cuma bisa memandang jet dari jauhan

mungkin cuma kehijauan padang rumput
bisa kaupasang dalam senyum dan kenangan
tapi matahari kemarau terbaring di tanah kering
dan di atas punggung nasib anak negeri
yang lusuh sepanjang zaman

16 Agustus 1967

PASAR KEMBANG

di sini perempuan-perempuan menggadaikan
kemaluannya
tanpa bisa menebus kembali
sanggupkah kau menebuskannya?
kau pasti berpikir: aneh!
tapi itulah kenyataan
barangkali jalan Pasar Kembang
akan kian bertambah panjang
dan kian meluas arealnya
dan akan bertambah ratusan bahkan
ribuan perempuan-perempuan menggadaikan
kemaluannya
dan tanpa bisa menebus kembali
sampai kempis nafasnya berhenti

15 Juli 1990

(sumber: buku AUBADE karya Rachmat Djoko Pradopo, Penerbit Pustaka Pelajar, Yogyakarta, cetakan 1, September 1999) https://budhisetyawan.wordpress.com/2007/12/25/puisi-puisi-rachmat-djoko-pradopo/

Categories: Puisi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*