TEKS DAN TAFSIRNYA

Dwi Pranoto

“Namun permasalahan sastra dengan sains dan teknologi punya sisi yang lebih sederhana juga, lebih praktis, namun sekaligus lebih meradak ke dalam soal hidup mati sastra; letaknya, fungsinya dalam kehidupan sehari-hari”. (Sastra, Sains, dan Teknologi, paragraf ke 4, Y.B. Mangunwijaya).

Dua puluh tahun yang lalu dalam Temu Sastra di Taman Ismail Marzuki Y.B. Mangunwijaya menulis makalah dengan mengemukakan pertanyaan menantang sekaligus “melecehkan” mengenai keberadaan sastra dalam masyarakat yang dirundung oleh fakta-fakta kemajuan sains dan teknologi yang mengagumkan. Y.B. Mangunwijaya membeberkan sejumlah pemfaktaan realitas imajiner kesusastraan oleh sains dan teknologi. Fungsi kesusastraan yang berupa “rekreasi alternatif-alternatif dunia imajiner” telah dikeringkan oleh sains dan teknologi. Produk-produk dari sains dan teknologi merupakan fakta material dari gagasan imajiner masa lalu yang disimbolkan dalam sosok Icarus, Gatutkaca, Raja Midas, Werkudara, Antareja atau Promotheus. Sains dan teknologi bukan saja telah merealiasi gagasan imajiner masa lalu tersebut, namun telah melampauinya. “Bahkan kini, dalam teknologi genetika, manusia sudah diambang pintu Firdaus Hilang, seolah-olah ingin menantang kitab-kitab keramat dengan mengulangi perbuatan Adam tetapi sekarang tanpa kebodohan Adam, dan berambisi menyaingi Tuhan…”. Y.B. Mangunwijaya ternyata tidak sekadar menghubungkan antara kesusastraan dengan sains dan teknologi pada tataran pemfaktaan imaji-imaji saja, namun tanpa terelakkan ia juga telah tiba pada “pertimbangan nilai”.

Nirwan Ahmad Arsuka dalam Sain, Sastra, Keraguan menulis; “… bahwa jika manusia kelak hancur di tengah revolusi dahsyat ilmu dan teknologi, kehancuran itu tidak disebabkan oleh revolusi ilmiah dan teknologi itu sendiri, tetapi oleh sistem nilai konservatif yang tak mampu menampung revolusi ilmu dan teknologi”. Hal yang ditulis oleh Nirwan Ahmad Arsuka tersebut seolah hendak memberikan penegasan yang pasti mengenai “nilai” kesusastraan dalam realitas (revolusi) ilmu dan teknologi yang dibiarkan mengambang oleh Y.B. Mangunwijaya di balik pembeberan fakta-fakta teknologis dan kritik atas kebudayaan kaum intelektual borjuis atau kebudayaan priyayi campur ningrat.

Sangat mengesankan sekali, sastra tidak pernah lepas dari persoalan nilai (nilai ilmu, nilai sosial, nilai estetik…). Teks sastra begitu banyak membuka dirinya dari segala jenis tafsir, dan terbuka untuk hampir semua jenis pengetahuan yang dihubungkan padanya. Tafsir sains dan teknologi yang diterapkan atas sastra hanya merupakan satu bagian dari sebagian besar dari jumlah tafsir atas sastra. Teks sastra sebagai objek telah dimulai sejak penyelidikan bahasa mengarahkan perhatiannya pada tiga komponen yang mengalasi praktik komunikasi: produsen–bahasa–penerima. Berdasarkan atas tiga komponen dalam praktik komunikasi tersebut berkembang menjadi tafsir yang kompleks. Bagaimanapun orientasi tafsir yang didasarkan pada bahasa (meski hal ini bukan berarti meniadakan dua komponen yang lain) telah mengalami perluasan yang hebat sejak formalisme-Roman Jacobson di masa perkembangan seni futuris sampai dekonstruksi – Derrida. Dimulai dengan pudarnya pamor romantisme karya sastra bukan lagi dianggap sebagai cerminan langsung dari pengalaman hidup pengarang, asumsi karya sastra sebagai “anak kandung” pengarang tiba-tiba menjadi runtuh. Pengarang tidak lagi berhak atas karyanya. Status istimewa pengarang sebagai bahan rujukan tafsir teks sastranya dan sebagai sumber karya sastra yang hidup telah tamat. Hal ini bukan saja dikarenakan usia teks sastra lebih panjang dari pengarangnya, tetapi juga dalam realitas verbal ternyata karya sastra sebagai suatu materi dapat diproduksi, dipublikasi, dan direproduksi tanpa kehadiran pengarang. Walter Benjamin menganggap bahwa potensi reproduktif karya seni (sastra) yang langsung menghujam pada metoda kreatifnya tersebut telah memisahkan seni dari “ritual” dan membukanya terhadap politik. Dalam esai panjangnya yang berjudul “The Work of Art in The Age of Mechanical Reproduction”, Walter Benjamin mempresentasikan bagaimana karya seni (dalam konsep estetiknya atau dalam bentuk seninya) berfungsi dalam gagasan politis yang berhubungan dengan teknik produksi sastra pada masanya. Namun Benjamin tidak seperti kubu komunis yang terlalu keras menundukkan teks sebagai suatu instrumen propaganda politis. Walter Benjamin lebih memusatkan perhatiannya pada revolusi teknik artistik dan “nilai kebenaran” teknik artistik yang dibasiskan pada kombinasi sejarah kemasyarakatan dan evolusi-evolusi teknis yang kompleks. Berbeda dengan kaum “realisme romantik” yang memperlakukan teks sastra sebagai instrumen politik yang didasarkan pada Marxisme yang deterministik, seperti pidato pengarahan Andrey Zhdanov pada Kongres Komunis Internasional tahun 1934. Zhdanov mengingatkan pada para penulis bahwa Stalin kelak akan menjuluki mereka sebagai insinyur-insinyur jiwa. Gagasan komunisme mengenai teks sastra yang meletakkan politik sebagai penglima tersebut terlalu dangkal menerapkan gagasan Karl Marx yang tidak pernah “sempat” menulis konsep estetik yang penuh. Namun, rupanya konsep pertentangan kelas dalam sejarah pada gagasan Marx telah cukup bagi Lukacs untuk menyerang karya-karya sastra modern yang ditulis oleh Joyce, Kafka atau Beckett. Realisme sosialis yang dikembangkan Georg Lukacs tersebut mengecam percobaan montasial, dialog internal, teknik “arus kesadaran” dalam sastra modern. Lukacs tak menyadari bahwa teks sastra modernis yang individual tersebut telah mencapai bentuk realisme dalam masyarakat sosial yang didera keterasingan.

Konsep sistem tanda dalam bahasa yang digunakan masyarakat yang dirumuskan oleh Saussure merupakan landasan teoritis yang dikembangkan oleh kaum strukturalis. Teori bahasa yang dikembangkan oleh Saussure tersebut menolak kata-kata berhubungan secara referensial dengan benda-benda sebagai suatu arti. Namun unsur-unsur bahasa memiliki makna hanya dalam sistem tanda yang tersusun dari tanda yang tertulis atau yang diucapkan dan tanda yang dipikirkan yang merupakan suatu kesatuan yang membentuk hubungan secara sembarang.

Kaum strukturalis mengoperasikan teorinya dalam teks sastra dengan menyelidiki aturan naratif yang menguasai sebuah cerita. Dengan merumuskan sintaksis naratif yang disusun dari subjek dan predikat kaum strukturalis hendak menundukkan semua teks sastra ke dalam suatu aturan umum yang menguasainya. Kaum strukturalis menggiring teks sastra pada pemahaman obyektifitas yang kaku. Ambisi ilmiah yang buta tersebut mengusir semua aspek sejarah yang terdapat dalam teks, mengingkarinya dengan membagi teks dalam sejumlah bagian-bagian sintaksis. Seperti permainan Puzzle, kaum srtukturalis memperlakukan teks sastra dengan membongkar bagian-bagiannya dan menamai tiap bagian yang mereka dapatkan. Namun, ketika bagian itu dibagi lagi dalan bagian-bagaian yang kecil dengan potongan bidang yang sama mereka kebingungan mengoperasikannya dalam sebuah sistem tanda yang mendasari pembagian sintaksis mereka. Mereka gagal membangun sebuah nilai ilmiah umum untuk semua teks sastra.

Problem kaum strukturalis sebenarnya telah tampak ketika Saussure merumuskan sistem tanda dengan mensubordinasikan ujaran individual pada bahasa. Hal ini tak terlihat menjadi persoalan ketika sistem simiotika kata berkembang lebih luas menjadi sintaksis pada kalimat, namun kesalahannya menjadi nyata ketika berkembang menjadi kecil dalam aturan fonemik dalam huruf. Pembedaan yang menjadi basis terdasar dari bangunan tanda menjadi hal yang enigmatik saat diterapkan pada pelafalan yang sama pada dua (lebih) huruf yang berbeda yang membentuk dua (lebih) kata yang memiliki arti yang berbeda. Pembongkaran kesalahan pada sistem tanda dikerjakan dengan mengesankan sekali oleh Derrida dalam bukunya yang berjudul “S/Z” yang mengambil bunyi desis Sarrasin karya realisme Balzac. Konsep sistem tanda yang kaku dan terasing dari realitas terbuyarkan dengan “pembebasan” ujaran individual dari subordinasi bahasa. Dan kekacauan semakin menjadi-jadi ketika Derrida mensejajarkan antara ujaran individual dan bahasa, di mana posisi keduanya dapat dilepaskan dan di balik.

Pengertian strukturalis selalu mengandaikan pusat arti. “Pusat” yang menjamin sebuah kehadiran, menguasai struktur dan dengan begitu pusat tidak ditundukkan oleh analisa struktural. Hal ini memberantakkan kestabilan sistem tanda, karena pusat tersebar di sekujur tubuh teks dan kita bisa memulai penafsiran dari pusat mana pun dengan mengikuti konteksnya. Namun, kita tidak akan pernah bisa menumbangkan pusat, jika kita merongrong pusat berarti kita sedang membangun pusat baru. Namun kita tidak bisa berpikir di luar konsep pusat.

Pada jantung struktural ini gagasan strukturalis dikuburkan. Dari ujaran individual yang dibebaskan terhadap subordinasi bahasa tumbuh berbagai jenis tafsir yang mengungkapkan jejak sejarah tekstual yang menyimpan lautan makna.

SAINS, SASTRA, KERAGUAN

Apa yang menarik bagi saya dalam tulisan Nirwan Ahmad Arsuka yang dimuat Bentara, Kompas, tanggal 6 April 2001 itu adalah bagian tafsiran atas Frankenstein Or The Modern Promotheus dalam sub-judul Adam yang Iblis. Hal ini menjadi menarik karena novel Frankenstein yang menghubungkan dirinya dengan narasi besar Yunani dihubungkan lagi oleh Nirwan dengan narasi besar Arab/Yahudi. Monster listrik yang diciptakan oleh Victor Frankenstein bukan Adam bukan iblis sekaligus Adam juga iblis. Monster listrik itu adalah Adam karena ia lain dari makhluk-makhluk ciptaan yang sudah ada. Monster itu bukan Adam karena ia bukan makhluk yang sempurna, tidak bahagia dan tidak sejahtera. Monster tersebut adalah iblis karena ia merasa sedih, ditolak oleh penciptanya dan ditampik oleh masyarakat. Namun Monster listrik yang kesepian bukannya bukan iblis. Persamaan untuk membuktikan monster listrik adalah Adam yang iblis ternyata macet, karena Frankenstein adalah iblis. Tapi persoalannya tidak berhenti di sini, sosok iblis yang diambil oleh Nirwan bukanlah sosok iblis yang terdapat pada saat Adam diciptakan, namun sosok iblis yang terdapat pada puisi sufi; sosok iblis yang didekonstruksikan. Iblis yang hadir pada awal penciptaan Adam adalah iblis yang menolak penciptanya dengan tidak mematuhi perintah-Nya, iblis yang marah karena merasa dilecehkan. Namun bukan berarti Monster listrik adalah Adam yang iblis tidak terijinkan. Dengan memberikan atribut “nilai” pada dua subyek terbanding, kita bisa mendapatkan bahwa Adam adalah “baik” dan iblis adalah “buruk”. “Baik” dan “buruk” merupakan dua pusat yang menguasai penafsiran sekaligus. Dua pusat yang berlawanan tersebut jika kehadirannya serentak merupakan kehadiran yang saling meniadakan. Namun bukan dua pusat itu saja yang dapat “dibunyikan” pada tubuh teks. Permulaan dan keberakhiran merupakan dua pusat lain yang ada pada teks yang merujuk pada penciptaan dan kematian. Tafsiran lain bisa saja membunyikan pusat lain yang bermuara pada pembacaan psikoanalisa Freud dengan pengaruh libido sebagai sumber bencana yang ditebarkan oleh monster listrik. Kehadiran pusat-pusat yang tersebar pada sekujur tubuh teks tersebut membuktikan adanya sejarah tekstual yang melimpah di dalam teks novel yang berupa katup-katup ingatan intertekstual.

Adapun latar belakang novel yang merupakan fakta-fakta teknologis merupakan hal yang sedikit sekali berarti. Saat penulisan novel di dalam sejarah material sains adalah suatu kebetulan. Saat penulisan merupakan hal plastis, waktu penulisan dapat maju ke depan atau mundur ke belakang melalui lintasan waktu yang tak terhingga dan terbatas. Teks tidak merujuk pada realitas fisik di luar dirinya secara ketat dan kaku menuruti garis waktu yang linear. Pada makalah kuliahnya, An Author and His Interpreters, Umberto Eco menuliskan bahwa jauh sebelum Perestrojka sejumlah penterjemah blok Timur menghubunginya dan mengatakan bahwa mereka sulit menerjemahkan pembukaan novel The Name of The Rose yang melukiskan invansi Rusia ke Cekoslovakia. Umberto mengatakan bahwa ia tidak menyetujui setiap perubahan teksnya. Kemudian ia mengatakan sebagai suatu guyonan: “Aku letakkan Praha pada permulaan karena kota itu adalah salah satu di antara kota-kota yang menakjubkanku. Namun aku juga suka Dublin. Letakan Dublin untuk mengantikan Praha. Hal itu bukanlah suatu perbedaan”. Para penterjemah bereaksi bahwa Dublin tidak pernah diinvansi Rusia. Lalu Umberto menjawab bahwa hal itu bukan kesalahannya. Sebagai suatu fakta fisik invansi Rusia atas Cekoslovakia sudah berlalu dan menguap, namun teks mengawetkannya dan menyebarkan ke dalam ingatan orang-orang yang bahkan belum lahir saat invansi Rusia itu terjadi. Jika seseorang memaknai invansi Rusia ke Cekoslovakia orang tersebut tidak memaknai kejadiannya namun memaknai teks invansi Rusia ke Cekoslovakia yang tersusun dari teks-teks lain.

Teks merupakan “realitas” majemuk yang melintasi waktu dengan perjalanan ulang-alik yang sembarang. Teks berlaku pada sejarah masa lalu di dalam proses penulisannya yang misterius, dan berlaku pada sejarah yang akan datang dalam proses pembacaan yang tak terkendali melalui pintu-pintu ingatan yang menyediakan ruang penjelajahan tekstual yang melimpah. Pada pintu-pintu ingatan itu teks berhubungan dengan individu-individu yang merupakan “kerajaan bahasa”. Di balik pintu-pintu ingatan itu proses pembacaan menjamin suatu “kehadiran semu” atau “makna tak lengkap” di mana setiap hasil pembacaan tidak kebal terhadap proses pembacaan berikutnya.

Pada dasarnya membaca adalah “sama” dengan menulis. Proses pembacaan melalui pintu-pintu ingatan, begitu juga proses penulisan. Teks tidak pernah dibuat cuma untuk dibaca tanpa sekaligus dapat ditulis ulang. Jika saya tidak menyukai kemalangan yang menipa Gregor Samsa yang menjadi serangga saat bangun tidur di permulaan Metamorfosis-Franz Kafka, saya bisa mengubahnya menjadi seekor harimau secara diam-diam atau terbuka. Atau saya bisa mengubah Menak Jinggo menjadi tokoh pahlawan yang memenangkan pertempuran melawan Damar Wulan di serat Damar Wulan karena saya merasa Menak Jinggo adalah korban penipuan Ratu Kencono Wungu dan patihnya Logender. Atau mungkin saja seseorang menulis ulang cerita Frankenstein dan menceritakan bahwa Victor Frankenstein, pemuda yang gelisah itu, diciptakan oleh monster listrik.

Namun, apakah yang “mendorong” manusia untuk menulis? Menurut Palto dalam Phaedrus, Hermes yang menghadap Pharaoh Thamus memujikan teknik barunya yang memungkinkan manusia untuk mengingat apa yang telah mereka lupakan. Namun Pharaoh tidak senang dan mengatakan bahwa ingatan adalah berkah yang harus dijaga dengan melatihnya terus menerus. Dengan temuan Hermes orang-orang tidak lagi harus melatih ingatannya. Pharaoh menambahkan bahwa mereka akan ingat sesuatu bukan disebabkan oleh suatu perangkat internal diri, namun sekedar karena peralatan eksternal. Tulisan berbahaya karena hal itu melemahkan tenaga pikiran.

SAINS, SASTRA DAN TEKNOLOGI

Dalam Sastra, Sains dan Teknologi Y.B. Mangunwijaya melontarkan suatu pertanyaan mengenai fungsi sastra dalam masyarakat. Dengan sangat provokatif Y.B. Mangunwijaya menyatakan bahwa fungsi sastra yang terkandung dalam dunia imajinernya telah dikeringkan oleh sains dan teknologi. Sains dan teknologi merupakan pelaksanaan imajinasi sastra yang sempurna dan bahkan melampaui. Sains dan teknologi telah memberikan berkah yang sangat menakjubkan sekali pada kehidupan dengan menghadirkan perwujudan dari apa-apa yang hanya dapat diimajinasikan dalam teks sastra.

Y.B. Mangunwijaya membuat perbedaan antara yang imajiner dan yang faktual, membedakan antara immaterial dan material, dan membangun hirarki yang keras antara sastra dan teknologi pada tataran fungsi praktisnya. Namun Y.B. Mangunwijaya tidak sedang membangun pusat baru. Pertanyaan retoris yang diambangkan dalam teks Sastra, Sains dan Teknologi menegaskan “kehadiran” yang kuat pada sesuatu yang ditiadakan pada permukaan teks. Hal ini seperti sadar dan tidak sadar, bila sadar menjadi dominan dan mengingkari yang tak sadar, yang tak sadar akan menemukan jalan eksistensinya sendiri. Y.B. Mangunwijaya “berupaya” menggambarkan situasi “tidur” kesusastraan di mana mimpi yang merupakan wilayah kerajaan tak sadar dicapaikan secara dialektik. Dan dalam aktifitas sadar, potensi tak sadar hadir sebagai gangguan-gangguan disfungsi seperti dinyatakan (meski dalam suatu pengandaian) bahwa fungsi sastra saat ini adalah seperti aktifitas joging bagi dirut bank.

DI MUKA HUKUM

Dibuka dengan cerita penjaga pintu dan orang dusun, Di Muka Hukum-Franz Kafka 1), berlanjut pada fragmen percakapan yang “keras” antara pendeta dan K yang mendiskusikan tafsir cerita tersebut. Saat cerita penjaga pintu dan orang dusun selesai diceritakan, K dengan segera mengambil kesimpulan bahwa orang dusun itu diperdaya oleh penjaga pintu. Alasan K yang menyatakan bahwa penjaga pintu itu terlambat menyampaikan pesan karena pesan terakhir itu dikatakan kepada orang dusun yang menjelang ajal, dibantah oleh sang pendeta. Dengan mengingatkan K untuk mencamkan kata-kata di dalam cerita, pendeta membandingkan ucapan penjaga pintu di awal dan di akhir cerita yang merupakan jawaban dari pertanyaan orang dusun yang pertama dan yang penghabisan. Kemudian sang pendeta membeberkan tafsir cerita yang merupakan pertimbangan sejumlah ingatan tafsir lain mengenai penjaga pintu. Ulasan pendeta yang tampaknya membela penjaga pintu itu, dipahami K sebagai pendapat pribadi sang pendeta. Namun hal itu dibantah oleh sang pendeta dan mengatakan bahwa ia hanya menggemakan tafsir cerita tersebut yang dibuat oleh sejumlah orang. Dan pendeta tersebut membalik kesimpulan K dengan mengingat sejumlah tafsir lain yang menyatakan bahwa sebenarnya penjaga pintulah yang terperdaya.

Fragmen percakapan antara pendeta dan K yang merupakan upaya menafsir teks cerita penjaga pintu dan orang dusun menyingkapkan tafsir-tafsir lain yang dibuat sebelum upaya penafsiran yang didiskusikan oleh pendeta dan K. Memang, pada mulanya percakapan tersebut sepertinya hendak menjaga hubungan langsung dengan teks cerita. Namun, selanjutnya upaya penafsiran yang mereka diskusikan larut ke dalam upaya-upaya penafsiran lain sebelum mereka dan melepaskan hubungan langsung dengan teks cerita. Pendeta dalam fragmen percakapan tersebut merupakan “tempat persimpangan” (meminjam istilah Roland Barthes) teks-teks tafsir lain. Ia adalah dinding pantul yang menggemakan sejarah tafsir teks cerita tersebut. Namun, K yang seolah-olah sama sekali tak mengutip ingatan bukannya bukan tempat persimpangan teks-teks lain. Dengan menggemakan kembali konsepsi-konsepsi “nilai”, K menyingkapkan teks-teks lain yang berada dalam dokumen tak sadarnya.

Saat K kebingungan akan makna yang ambivalen dan tak teramalkan dari teks cerita, pendeta berkata; “Tidak perlu menerima semuanya sebagai benar, orang harus menerimanya sebagai sesuatu yang perlu”.

Sumber: Majalah Budaya Jejak 01 (Mei-Agustus 2002).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *