DADA WAKTU


Taufiq Wr. Hidayat *

Afrizal Malna menulis puisi berjudul “Dada”.

DADA
Afrizal Malna

Sehari. Waktu sama sekali tak ada, Dada. Bumi
terbaring dalam tangan yang tidur. Ingin jadi manusia
terbakar dalam mimpi sendiri. Sehari. Semua terbaring
dalam waktu tak ada. Membaca, Dada. Membaca kenapa
harus membaca, bagaimana harus dibaca. Orang-orang
terbaring dalam tubuhnya sendiri, orang-orang terbaring
dalam pikirannya sendiri. Mengaji, Dada. Mengaji.
Keinginan jadi manusia, menulis dan membaca di tangan
sendiri.

Sehari. Waktu tidak menanam apa-apa, Dada. Hanya
hidup, hanya hidup membaca dirinya sendiri; seperti
anak-anak membaca, seperti anak-anak bertanya.
Menulis, Dada. Menulis kenapa harus menulis,
bagaimana harus ditulis. Orang-orang menjauh dari
setiap yang bergerak, Dada; seperti menakuti setiap yang
dibaca dan ditulisnya sendiri. Membaca jadi mengapa
membaca, menulis jadi mengapa menulis.

Sehari. Aku bermimpi aku jadi manusia, Dada. Sehari.
Dada. Sehari.

1983

Ada dunia yang disempitkan. Diminiaturkan pada kata. Ia seperti melihat “dadaisme” yang tubuh, tapi yang tak tersentuh. Orang hilir-mudik. Waktu tak kuasa dirumuskan kembali. Orang dan waktu—sepertinya dalam kepala Afrizal yang botak, berkejar-kejaran. Waktu memergoki orang. Dan orang memergoki waktu. Tapi tak saling tangkap. Hanya dalam mimpi waktu diperinci. Dalam kenyataan, waktu dan orang tak berdekap. Orang di dalam waktu. Atau waktu di dalam orang. Namun orang terbirit dikejar waktu. Orang coba sembunyi, tapi kepergok lagi. Ketangkap basah waktu.

Puisi tak selalu perkara cinta. Memang! Tapi juga perkara terasi. Seringkali puisi menjauh dari orang-orang. Kalau mendekat, ia terjerembab dalam slogan. Ada hati yang terluka di dalam dada, lukanya menjadi puisi. Ia hendak meraih yang mustahil dengan kata-kata. Wahyu Hidayat menulis puisi “Selamat Datang”.

SELAMAT DATANG
Wahyu Hidayat

Aku berusaha menjadi tubuh sungai tatkala engkau tiba sebagai air. Silakan melewati sekujur tubuhku, sepanjang apapun engkau mau, sampai seluruh sisa dari dirimu menemukan jeluk paling baka di akhir muara.

Aku tak peduli dari mana engkau lahir; dan mari kita mulai.

Aku telah sedia menumpu debitmu, menjaga berikut yang kaubawa, dan mengalirlah sebagaimana anggur menemukan rambatannya, seperti tangis bayi yang reda pada dekap dan belai ibunya.

Kukabarkan padamu: akan ada banyak kelokan pada tubuhku. Ikutlah bersamaku, mengalirlah seumpama irama sasando yang dipetik seseorang dari Rote.

Kelak bila engkau membenci keterlambatan, aku akan merelakan sebagian dari dasarku tergerus, menjelma landai agar engkau lekas sampai. Maka bawalah segala yang paling keji dan paling suci. Dan bukan urusan dari mana mereka berasal.

Sesekali aku akan lebih curam, sehingga sepenuh limbah akan segera menjadi netral di lautan.

Lautan adalah tempat engkau pulang. Tempat kita bersama saling berpisah dan meninggalkan. Asal kemarau tak benar-benar panjang, kita akan masih berjumpa di antara kepingan siklus hidrologi; dari seluruh presipitasi.

Sebab engkau air. Dan aku tak pusing bertanya dari mana engkau hadir.

Kelak apabila kita telah saling terbiasa, punggungku akan pelan-pelan menumbuhkan pohon-pohon juga gulma. Akar mereka akan mencengkeram sebagian dari tubuhku–menjauhkan kepedihan longsor dan bencana. Sehingga kita akan lena dan sejahtera. Para ikan akan begini sentosa.

Aku berusaha menjadi tubuh sungai, tatkala engkau tiba sebagai air. Mengalirlah pada tubuhku; telah kurelakan diriku menumpu sepenuh debitmu.

Dan biarkan aku seperti tangis yang reda; tatkala di pelukmu.

Tegalsari, 15 Mei 2020

Kenapa “selamat datang” yang Wahyu Hidayat nyatakan? Barangkali ia hendak menghibur luka hatinya yang berdarah-darah. Atau luka hati tetangganya. Mencoba tetap tegar di dalam hati yang patah itu. Tapi upaya tersebut ganjil, lantaran ia mempertahankan dirinya dengan cara menjelma sungai. Ia tak menjelma laron untuk mendapatkan cahaya. Tapi sungai. Alangkah luhurnya alangkah muramnya. Ia bagai manusia yang belajar menghadapi ramai, sebab selalu bersembunyi di dalam sepi. Ia mengintip dunia dari tempat persembunyiannya yang wingit, tak ada siapa-siapa. Ia selalu terlihat waspada pada ramai, karena tak terbiasa. Meski selalu malu-malu berhadapan dengan tatapan dunia. Dunia yang selalu ia reduksi di dalam sepi. Menjadi ratapan yang tak ingin dimengerti.

Saya bayangkan sosok badut. Badut yang memang selalu tertawa. Kedua sudut bibirnya selalu tertarik ke samping kiri dan kanan. Di tempat ramai, ia jadi idola. Menghibur siapa saja, bahkan secara ajaib menyulap kepedihan menjadi kebahagiaan. Namun di tempat sepi, dengan bibir yang tetap masih tertarik ke samping kiri dan kanan pada kedua belahan pipinya, ia menangis tersedu-sedan, sesenggukan sendirian meratapi segala impian yang tak pernah berhasil dimilikinya. Atau kehilangan yang ampuh. Air mata membasahi kedua belah pipinya dalam sepi, meratapkan nasib yang tak punya tempat mengadu, selain kembali membungkus kepedihan demi kepedihan di dalam tawa, di dalam sendiri menjadi puisi. Tapi puisi yang tak pernah ingin ia tunjukkan siapa-siapa, lantaran takut segala rahasianya diterka dunia.

Oh alangkah cengengnya dunia layar!

Tapi sungai yang muram itu, mencipta ratap. Ratap yang tak boleh siapa pun tahu. Padahal sesungguhnya tak akan ada yang tahu, segala sangsi dan luka hati telah menjelma puisi. Siapa yang dapat menerka puisi? Ia mungkin ditafsir. Sayang puisi “Selamat Datang” ini dihapus setelah tiba ke hadapan dunia. Untungnya saya, sebagai orang yang selalu sigap, telah berhasil mencuri puisi itu. Wahyu Hidayat masih kalah sakti. Sebab ke mana ia sembunyi, saya tahu. Tapi selalu pura-pura tidak tahu. Lantaran sungainya itu, sejatinya menuju laut. “Lautan adalah tempat engkau pulang. Tempat kita bersama saling berpisah dan meninggalkan,” katanya. Kenapa saling berpisah? Lalu kenapa perjumpaan harus dalam bentuk lain yang tak mudah terjelaskan? Ah! Alangkah absurdnya. Oh nasib penyair, kata seseorang ke telinga saya. Entah siapa. Ia menjelma kupu-kupu di dada waktu.

Namun kecemasan lain, tiba juga di dalam kerapuhan manusia. Manusia yang merasa ditelan kota-kota, kesibukan, dan tekanan-tekanan dari setiap pilihan yang dipilih tanpa pilihan. S.A.W. Notodihardjo menuliskannya dalam “Riwayat Lemon Tea”.

RIWAYAT LEMON TEA
Saw Notodihardjo

Angin menyandar pada malam yang tak bisa luntur oleh lampu-lampu. Rembulan bundar. Berkecipak pada segelas lemon tea. Aku tak tahu ke mana segelas kopi. Juga asap rokok yang biasa menggenapi percakapan sepi.

Sekelebat bayanganku tiba-tiba muncul dari kertas lusuh. Puisi-puisi berkeringat. Menuliskan riwayat. Namun segelas lemon tea tetap hangat. O, perkenalan. Hujan. Angin. Malam. Memperluas persimpangan.

Segelas lemon tea. Tumpah pada dadamu. Ditumbuhi lumut-lumut harapan. Ciuman cuma batu-batu bibir. Mungkin hantu-hantu pada matamu yang sangsi. Di situ aku menemukan diriku yang lain. Puisi-puisi berkeringat. Membawaku kepada malam ini.

Muncar, 010620

Ia bagai hendak mendalami hasrat manusia yang purba, yang selalu ganas di tempat sepi, tapi kalem dan terhormat di tempat ramai. Hasrat liar yang tak mungkin dikurung kota-kota dan perubahan-perubahan, juga lampu-lampu. Ia menyadari, manusia perlu mengabdi. Mengabdi pada kesejatian. Tapi ia selalu berontak pada keadaan yang tak pernah mendukung kesejatian itu. Keadaan yang dibangun dengan kepalsuan. Ia tak ingin kalah. Tak ingin tak berdaya. Maka dunia yang ideal yang ingin ia wujudkan dalam tekanan dan kepalsuan, ia ungkai dengan puisi. Puisi yang ia juga bacakan, meski tak banyak orang mendengar dan mengerti. Ah nasib penyair, siapa yang tahu kegelisahan di dalam dadanya?

“Segelas lemon tea. Tumpah pada dadamu. Ditumbuhi lumut-lumut harapan,” katanya. Dada waktu atau dada manusia? Segelas lemon tea yang tumpah itu, hendak mengisahkan peristiwa, sebab ia tumpah “pada dadamu”. Manusia penghuni waktu. Perkenalan. Pertemuan dan perpisahan. S.A.W. Notodihardjo sepertinya cemas, peristiwa demi peristiwa terjadi begitu saja di dada waktu. Di dada manusia. Saling menduduki, sebagaimana Afrizal cemas pada benda-benda yang menyusun kenangan dan biografinya sendiri.

Apakah kepedihan-kepedihan itu harus selalu menjadi detak hidup para penyair dari zaman purba? Kesepian membuatnya selalu mengutuk dunia dan mempertanyakan keadaan. Sebagian orang-orang sunyi itu, melihat apa pun tak sempurna. Seperti juga dirinya sendiri. Cimenk agaknya melihat luka basah. Ah pandangan yang sangsi.

LUKA TAK KUNJUNG KEMARAU
Cimenk Ilalang

Di benam matahari
Senja tak mengabarkan apa pun kecuali tetesan menghantam mata saat melangitkan muka
Langit tak tergambar baik di mata, kecuali ruang sunyi
Lantas aku berjalan meraba lubang-lubang sesak resah

Menggigil, kilat-kilat membuka jalan.
Panik, terasing sendirian
Langkah gemetar dan Guntur berdatangan
Aku tetap berjalan mendekap dada yang ranum bencana

Lalu di kaca kulangitkan muka
Terlihat luka tak kunjung kemarau, hujan masih saja tiba
Membentur, membenamkan ke dalam ingatan-ingatan

Apakah harus kuteguk anggur untuk melihat bulan dan bintang di langit terang?
Dan tenggelamlah aku ke dalam bayang-bayang

Jika tak kuhapus hujan
Malam tak menyajikan bintang dan bulan
Siang pun matahari tak pada keperkasaan.

Muncar, 17 Mei 2020

Puisi aneh-aneh saja. Gagap. Dan merindukan kemarau dalam becek luka. Ia cemas melihat kenyataan. Apakah luka itu becek dan basah seperti “lubang-lubang sesak resah”? Ia gagap meraba “lubang-lubang” yang basah dan becek karena luka. Diksinya terasa asam. Sehingga kemarau yang haus dan panas, baginya perlu untuk mengeringkan luka. Apakah luka harus dikeringkan? Luka di dada penyair. Di dada waktu yang kena tumpahan “lemon tea”. Ia melakukan perlawanan. Tapi seringkali terjatuh pada kesia-siaan. Lantaran ia tak sepenuhnya sadar, dunia memang tak dibangun menurut mimpi, diksi, dan kehendak penyair. Ia mengutuk, berteriak lantang, dan memarahi keadaan. Dadanya pedesaan. Sedang yang ia hadapi adalah kota dan kebusukan. Hidup yang selalu ia anggap dangkal dan klise. Tapi hatinya seperti sepotong roti, empuk dan mudah sekali digigit. Kadang tertawa. Sedang dada dunia tidak pernah lapang, tak pernah mau tertawa, dan lebih keras dari gigi manusia.

Mimpi penyair tak sama dengan mimpi ahli gigi. Mimpi yang lenyap dalam kenyataan, menjelma dalam kesepian. Tak ada lagikah di dunia ini selain ratapan ketakberdayaan?

MIMPI KITA
E P Albatiruna

Ke mana menghilang
semua mimpi mimpi kita.
Benang benang berlepasan
dari kain yang tertenun.
Wedar dari lubang lubang kancing baju
yang tersimpan rapi dalam lemari waktu.

Ke mana menghilang
semua angan angan.
Kisah kisah penantian panjang
yang disergap rindu.
Cerita cinta yang kita tuliskan
pada langit senjakala.

Tetapi waktu terus melaju.
Melesat, melintasi musim.
Meski begitu, segala yang pernah ada
akan menjejak.
Mengukir sejarah dalam ingatan ingatan,
ruang dan waktu yang telah berlalu.

Surabaya, 2019

Ia melihat mimpinya—entah dengan seorang perempuan atau harapan, seolah benang berlepasan, tapi “yang tersimpan rapi dalam lemari waktu”. Betapa kaku gigi manusia. Sehingga ia harus merelakan kehilangan, mempertanyakan ke mana “cerita cinta yang kita tuliskan pada langit senjakala”. Ah senja! Padahal ia baru saja keluar SMA. Melihat kenangan yang tertinggal, padahal kenangan itu masih dikunyah oleh gigi-giginya. Ia menghadapi kemungkinan dengan kenangan. Sedang kota-kota menghadirkan musim yang tak selalu mau ditundukkan oleh gigi dan dada seorang penyair.

Parodi itu. Parodi waktu. Ironi peristiwa. Dan dunia yang jumpalitan. Ia datang dari Palembang. Ke Banyuwangi berbekal puisi. Mengisahkan perjalanannya melewati kota-kota. Ia agaknya tak mengeti, kenapa semua tampak asing di matanya. Dan peristiwa dunia kembali “tumpah seperti lemon tea” di dada penyair. Di dada waktu.

KISAH TENTANG SEBUAH PERJALANAN
Ismail Marzuqi

perjalanan dirancang
Perjalanan terasa panjang

Seorang ayah mengendong anaknya
Seorang ibu sibuk dengan gajetnya.
Seorang anak mengunyah makanan,
seekor kucing mati kelaparan

perjalanan dirancang
perjalanan terasa panjang

seorang lelaki menenteng belanjaan
seorang perempuan berselfi ria
seorang pekerja mengepel lantai
seekor lalat mengotorinya

perjalanan dirancang
perjalanan terasa panjang

seorang bapak kelaparan
seorang ibu order makanan
seorang driver mengatar pesanan
seorang pemesan ngomel kemahalan

perjalanan dirancang
perjalanan terasa panjang

seorang pengamen bernyanyi kelelahan
seorang penumpang pura-pura ketiduran
seorang pengasong kecopetan
seorang copet bersedekah pada tetangganya

perjalanan dirancang
perjalanan terasa panjang

seorang pengemis hartanya tanpa batas
seorang pebisnis hutangnya melampaui batas
seorang petani ruginya tak pernah ter batas
seorang kuli gajinya selalu pas

perjalanan dirancang
perjalanan terasa kian panjang

seorang politikus menebar janji-janji
seorang penjual mangut-mangut tak peduli
seorang ustadz memberondong dalil-dalil
seorang pemabuk mencari ridho illahi

perjalanan dirancang
perjalanan terasa panjang

seorang dokter melarang merokok pasiennya
seorang perokok menyumbang dana kesehatan
seorang dermawan sedang pencitraan
seorang gelandangan menyumbang dana kemanusiaan

perjalanan dirancang
perjalanan terasa panjang

2015

Perjalanan memang selalu panjang. Dan orang-orang merancang. Kenapa dirancang? Ia mencurigai banyak peristiwa. Baginya barangkali, tak ada kebetulan. Semua sudah dirancang. Dirancang di dada waktu. Dada waktu yang tumpah di dada penyair. Penyair yang menertawakan dunia. Tetapi sering menangis kehilangan dalam sendiri, menjelma sungai dan lemon tea.

Muncar, 2020

_________________________
*) Taufiq Wr. Hidayat dilahirkan di Dusun Sempi, Desa Rogojampi, Kab. Banyuwangi. Taufiq dibesarkan di Desa Wongsorejo Banyuwangi. Menempuh pendidikan di UNEJ pada fakultas Sastra Indonesia. Karya-karyanya yang telah terbit adalah kumpulan puisi “Suluk Rindu” (YMAB, 2003), “Muncar Senjakala” [PSBB (Pusat Studi Budaya Banyuwangi), 2009], kumpulan cerita “Kisah-kisah dari Timur” (PSBB, 2010), “Catatan” (PSBB, 2013), “Sepotong Senja, Sepotong Malam, Sepotong Roti” (PSBB, 2014), “Dan Badut Pun Pasti Berlalu” (PSBB, 2017), “Serat Kiai Sutara” (PSBB, 2018). “Kitab IBlis” (PSBB, 2018), “Agama Para bajingan” (PSBB, 2019), dan Buku terbarunya “Kitab Kelamin” (PSBB, 2019). Tinggal di Banyuwangi, Sekarang Sebagai Ketua Lesbumi PCNU Banyuwangi.