Sekali Lagi: ‘Bekhidmat pada Sains’

Dwi Pranoto

Di gerbang masuk akademi Plato di Athena ada tulisan yang kira-kira berbunyi demikian: “Tak seorangpun yang tak mengenal geometri boleh masuk”.

Pertama-tama harus saya katakan bahwa posting saya ‘Heidegger dan Pengabaian Goenawan Mohamad’ mengabaikan presentasi Goenawan Mohamad dalam diskusi ‘Berkhidmat pada Sains’. ‘Heidegger dan Pengabaian Goenawan Mohamad’ hanya didasarkan atau merespon tulisan AS Laksana ‘Sains dan Hal-Hal Baiknya’ dan tanggapan Goenawan Mohamad (GM) atas tulisan AS Laksana ‘Sains dan Masalah-Masalahnya, Sulak dan Dua Kesalahannya’. Padahal, tulisan GM dan AS Laksana berangkat dari pernyataan-pernyataan GM dalam ‘Berkhidmat pada Sains’. Hal ini tentu tidak benar. Menanggapi dengan mengabaikan duduk perkara yang menjadi muasal perdebatan adalah tidak benar. Oleh karenanya, seperti membayar hutang, tulisan ini hanya membahas presentasi GM dalam diskusi dan tanggapan AS Laksana.

Masalah pertama adalah apakah ‘Sains dan Hal-Hal Baiknya’ menanggapi dengan tepat pernyataan-pernyataan GM dalam diskusi ‘Berkhidmat pada Sains?’ Diskusi yang diselenggarakan oleh Perhimpunan Dokter Umum Indonesia tanggal 20 Mei 2020 tersebut, seperti dikatakan oleh moderatornya, adalah merupakan upaya untuk menggugah semangat saintifik hari ini berkait dengan memandang dan menangani pandemi covid-19 atau meletakan sains sebagai landasan untuk penanganan pandemi covid-19 di Indonesia dengan berkaca pada sejarah Kebangkitan Nasional yang dipelopori oleh para dokter Stovia. Dengan demikian ‘Berkhidmat pada Sains’ didasarkan pada fakta-fakta historis mengenai keunggulan sains dan martabat manusia berpengetahuan di sekitar peristiwa dan pelaku Kebangkitan Nasional. Dalam hal ini, dr. Cipto Mangunkusumo yang berjasa menanggulangi wabah beri-beri menjadi subyek historis ideal yang diajukan mengenai bagaimana sains diterapkan untuk melawan wabah dan sekaligus dianggap sebagai dasar dari sikap kebangsaannya. Bertentangan dengan Prof. Farid Anfasa Moeloek dan Prof. Sangkot Marzuki yang mengafirmasi ‘Berkhidmat pada Sains’, GM menolak berkhidmat pada sains. Menurut GM, sains tidak disikapi dengan khidmat, tapi kritis. Bertopang pada Einstein, Husserl, Heidegger, Popper, GM ingin menyatakan bahwa sains atau ilmu tidak menyelesaikan semuanya. Bagi GM sains hari ini diarahkan untuk memecahkan soal dan menyisihkan peran menafsir. Berkaitan dengan dr. Cipto, GM mengamini jasa dr. Cipto dalam mengatasi wabah, tapi ia menolak dr. Cipto mengunggulkan ilmu. Kita tangguhkan dulu untuk memeriksa pernyataan-pernyataan GM tersebut, saat ini kita akan menjawab pertanyaan apakah AS Laksana tepat dalam menanggapi GM? Alih-alih menanggapi pernyataan-pernyataan GM, AS Laksana menggeser persoalan ke masalah benturan antara sains dan agama. Dalam ‘Sains dan Hal-Hal Baiknya’ AS Laksana tidak hanya memaparkan keunggulan sains dari agama dalam menyelesaikan masalah-masalah umat manusia, bahkan ia menampilkan wajah agama yang kejam, seperti pada kasus Galileo dan perawan Orleans. Fokus baru, benturan antara sains dan agama’ yang muncul dari ketidaktepatan AS Laksana menanggapi GM ini kemudian memicu serangkaian tulisan-tulisan tanggapan lain. Tentu saja perdebatan menjauh dari diskusi ‘Berkhidmat pada Sains’.

Benturan Sains dan Agama

Masalah ketidaktepatan dalam menanggapi GM pada gilirannya membawa AS Laksana pada benturan antara sains dan agama. Entah dari mana AS Laksana menganggap keberatan GM untuk ‘Berkhidmat pada Sains’ berangkat dari pandangannya pada agama. Tidak ada satupun pernyataan GM yang membenturkan sains dengan agama. Keberatan GM untuk ‘Berkhidmat pada Sains’ didasarkan pada bahwa sains bukan segalanya, sains tidak menyelesaikan semuanya, metode-metode saintifik – seperti matematika – membuat manusia berjarak dengan kehidupan, dan karena sains lebih diarahkan untuk memecahkan masalah. Oleh karenanya, benturan antara sains dengan agama, dengan memposisikan sains lebih unggul dari agama dalam membantu dan memecahkan masalah-masalah kehidupan manusia, yang digunakan AS Laksana untuk meruntuhkan keberatan GM kehilangan relevansinya.

Tak dapat dipungkiri, secara historis hubungan sains dan agama banyak diwarnai oleh peristiwa-peristiwa kekerasan. Namun demikian, kekerasan antara sains dan agama tidak muncul dengan sendirinya atau tidak disebabkan oleh agama dan sains itu sendiri. Kekerasan gereja terhadap Galileo mungkin tidak hanya dipicu oleh pandangan heliosentris Copernikan Galielo yang meruntuhkan pandangan geosentris Ptolemyan, tapi lebih dipicu oleh karakter Simplicio dalam ‘Dialog Concerning the Two World System’ yang diidentifikasi sebagai olok-olok kepada Paus Paulus V. Jika pun bukan karena karakter Simplicio, pembuktian Galileo atas Heliosentris Copernikan dianggap telah merongrong doktrin geosentris yang menjadi salah satu dasar atau ekspresi dari otoritas gereja. Persoalan politis semacam ini mungkin menjadi lebih jelas saat gereja merespon pengajaran Bahasa Latin pada abad-abad sebelum Pencerahan. Dalam suratnya kepada Uskup Desiderius di Gaul, Paus Gregory menyebut mengajarkan Bahasa Latin adalah menjijikan dan menjengkelkan. “… bibir yang sama tidak akan dapat menyanyikan puji-pujian Jove (dewa Jupiter) dan puji-pujian Kristen’, tulis Paus Gregory dalam suratnya. Tapi saat itu gereja hanya dapat menggerutu di belakang kekuasaan Romawi yang kuat.

Tak sejak mula sains dan agama saling berpunggungan. Berabad-abad sebelum Masehi, di Mesir dan Babylonia para pendeta adalah sekaligus ilmuwan. Ilmu astronomi dan geometri yang mereka kuasai tidak hanya digunakan untuk membangun kuil-kuil dan penetapan hari-hari besar keagamaan, tapi juga untuk menentukan musim bercocok tanam dan menavigasi pelayaran. Para Bede (Rahib gereja Katolik Roma abad 16-17) di Inggris tidak hanya mengajarkan Kitab Suci, tapi juga mengajarkan tata bahasa, metrum, retorika, hukum, astronomi, retorika, sejarah alam, aritmatika, geometri, musik, dan puisi.

Kita tak hendak mengatakan benturan antara sains dan agama tidak pernah terjadi. Benturan tersebut tidak hanya terjadi dalam sejarah. Pada hari ini, pada musim pandemi ini, benturan itupun terjadi. Kita ambil contoh saja yang sederhana dari salah satu protokol penanganan penularan covid-19 yang merupakan kebijakan yang bertumpu pada sains ; larangan berkumpul atau berkerumun. Penanganan covid-19 non-farmasitis tersebut mendapatkan penentangan dari sejumlah pemeluk agama karena dengan mematuhi larangan tersebut berarti ibadah-ibadah keagamaan bersama, seperti shalat berjamaah, tidak dapat dilakukan. Tentu kita bisa menemukan dalil-dalil agama yang menyatakan menjalankan protokol penanganan tidak bertentangan dengan agama. Namun, kita juga tidak dapat mengabaikan adanya dalil-dalil agama yang membenarkan penentangan kepada protokol penanganan, seperti keutamaan shalat berjamaah dan, terutama, pasrah kepada kehendak Tuhan. Kedua argumentasi yang bertentangan tersebut dapat diperdebatkan. Namun, dalam hal ini, apa yang menjadi penekanan adalah fakta adanya penentangan kepada protokol penanganan dengan menggunakan dalil-dalil agama. Pertanyaan pentingnya adalah apakah benturan tersebut kita biarkan saja ataukah benturan tersebut memicu keingintahuan kita? Dalam konteks agama, keingintahuan mengenai benturan tersebut mungkin akan mengarah pada masalah keutamaan manusia dalam agama dan secara praktis mungkin akan menyebabkan terbitnya kaidah-kaidah keagamaan baru berkait dengan wabah. Sementara itu, dalam konteks sains sosial, sosiologi, mungkin akan mengarah pada masalah perilaku sosial yang secara praktis mungkin akan dapat menjadi dasar kebijakan penanganan wabah non-farmasitis agar mencapai keberhasilan. Artinya, benturan sains dan agama tidak hanya dapat dilihat secara politis sebagai pertarungan antara kekuatan hitam dan putih yang justru akan mungkin melestarikan benturan tersebut dan bahkan mungkin menjadi pemicu munculnya benturan-benturan berikutnya.

Pemaparan benturan sains dan agama oleh AS Laksana dalam ‘Sains dan Hal-Hal Baiknya’ yang mencela agama di hadapan sains yang terpuji dan melalaikan fakta-fakta historis hubungan mutual antara agama dan sains, lebih sebagai melestarikan benturan daripada memandang benturan sebagai pendorong pertumbuhan dan perkembangan agama dan sains.

Kacaunya Argumentasi GM

Persoalan utama GM bukan keberatannya “Berkhidmat pada Sains”, tapi argumentasi yang menopangnya. Pertama, GM menyatakan bahwa sains bukan segalanya. Dari mana GM menemukan klaim bahwa sains adalah segalanya? Semua tokoh besar yang ia kutip pernyataanya, dari Einstein sampai Heidegger – jika ia mengutip dengan tepat -, justru membuktikan sains bukan segalanya. Lantas apa fungsi kutipan-kutipan tersebut? Bila kutipan-kutipan tersebut hanya untuk mendukungnya, lalu GM itu menolak apa? Secara historis kita tahu beberapa ilmuwan berusaha menyusun teori umum, tapi kita tahu bahwa teori-teori umum yang diajukan tersebut tidak mencakup semua permasalahan hidup manusia atau teori-teori umum hanya terbatas pada disiplin-disiplin ilmu tertentu. Bahkan secara historis kita juga tahu bahwa kebanyakan teori umum itu gagal. Teori relativitas umum Einstein tidak berlaku dalam hukum penawaran dan permintaan ekonomi, teori tersebut hanya berlaku pada ilmu fisika, dan bahkan lebih sempit lagi, hanya berlaku untuk gravitasi dan menyisakan pertanyaan untuk gravitasi kuantum. Dari mana GM menemukan klaim sains adalah segalanya? Kedua, sains diarahkan untuk memecahkan soal, menyisihkan peran menafsir. Pernyataan GM kedua ini sangat tidak jelas; bagaimana bisa sains memecahkan soal dengan menyisihkan peran menafsir (realitas)? Bila GM bermaksud menolak fungsi pragmatis-tekhne dalam sains, telah sejak berabad-abad sebelum Masehi, di Babylonia dan Mesir, geometri dan astronomi melayani kebutuhan praktis, seperti untuk mendirikan bangunan kuil, menavigasi pelayaran, menentukan musim dalam bercocok tanam. Bahkan bila kita sepakat seni adalah sains, konsep mimesis Aristoteles bertumpu pada kebutuhan praktis untuk belajar-mempelajari. Dua contoh itu cukup kiranya untuk membuktikan betapa kacaunya argumentasi GM.

Persoalan berikutnya adalah alangkah GM mengabaikan publik dan situasi aktual yang dibayangkan untuk diacu dalam ‘Berkhidmat pada Sains’. Seperti pengantar diskusi yang dipaparkan oleh moderator, publik dan situasi aktual yang diacu dalam diskusi adalah publik yang tidak bertumpu pada sains dalam memandang dan menangani pandemi covid-19. Pernyataan GM bahwa sains untuk pandemi penting sesungguhnya jelas ia sepakat dengan peran penting sains dalam menangani pandemi. Namun, kenapa kemudian GM menambahkan pernyataan bahwa sains bukan segalanya? Bila ‘segalanya’ kita asumsikan di dalam pandemi; apakah ada hal lain di luar sains yang juga penting untuk menangani pandemi? GM sama sekali tidak menawarkan hal lain yang juga penting untuk menangani pandemi. Bila ‘segalanya’ berada di luar pandemi; untuk apa ia menegasi ‘sains penting untuk pandemi’ dengan ‘sains bukan segalanya’? Untuk apa ia bicara di luar publik dan situasi aktual yang dibayangkan? Apakah keberatan GM untuk ‘Berkhidmat pada Sains’ bermakna jika berada di luar situasi dan publik aktual yang dibayangkan?

Di penghujung saya ingin menjelaskan kenapa dipasang kutipan tulisan di gerbang masuk akademi Plato untuk membuka tulisan ini: kenapa orang yang tak kenal geometri tidak boleh masuk? Bagi Plato, geometri tidak hanya berguna untuk kehidupan sehari-hari. Geometri juga berguna untuk meningkatkan abstraksi dan melatih pikiran untuk berpikir secara tepat dan tegak. Artinya, sains matematika, dalam hal ini geometri, di samping berguna untuk hal-hal praktis juga berguna untuk filsafat. Saya hendak mengatakan, agama, sains, filsafat, mungkin dalam suatu momen berbenturan, namun pada momen lain mungkin saling menopang. Berkhidmat pada sains tidak menghalangi untuk juga berkhidmat pada agama, filsafat, dan hal-hal lain, kecuali bagi mereka yang berpikiran sempit.
***

6 Juni 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *