MASALAH ANTOLOGI 100 PENYAIR/100 LEBIH PENYAIR INDONESIA MODERN (VERSI REVISI)


Ahmad Yulden Erwin

Semua nama yang saya cantumkan di sini (ada 146 nama) atas prakarsa saya sendiri, kemudian diikuti oleh para editor lain setelah kami membaca karya-karya mereka, kami berusaha objektif saja menurut pikiran kami dan teori-teori sastra tertentu, siapa pun bisa menolak namanya kami cantumkan di sini. Bila menolak, maka namanya tak akan saya hapus dari daftar, tetapi puisi-puisinya tak bisa masuk ke dalam antologi ini. Saya tidak memaksa. Saya tak bermaksud menghina dengan mencantumkan nama-nama penyair di sini, bukan juga dalam rangka hendak membuat “kanon sastra” seperti sangkaan beberapa orang. Ini hanya bentuk penghargaan dari saya sebagai pembaca puisi kapada para penyair yang telah menulis karya-karya puisi dengan bagus menurut saya. Dan saya tidak tergabung dengan institusi sastra apa pun.

Jika sebagian besar setuju, maka sekitar sebulan lagi, saya akan kirimkan undangan untuk mengikuti antologi puisi ini kepada Insya Allah semua nama (146 orang) yang tercantum di atas bila masih hidup, setiap penyair diharapkan memberikan 20 puisi terbaiknya (boleh puisi lama atau baru, tema bebas). Dan kelak akan dipilih jadi 10 puisi setiap penyairnya. Waktu penyerahan puisi sekitar 1 atau 2 bulan, terima kasih. Dan Insya Allah pada bulan Desember 2020 buku antologi puisi ini sudah bisa terbit lengkap dengan esai pertanggungjawaban dari editornya.

7 orang editor itu adalah (satu orang sedang dalam konfirmasi), yaitu:

1. Ahmad Yulden Erwin (aditor wilayah Sumatera)
2. Ahda Imran(editor wilayah Banten, DKI, dan Jabar)
3. Triyanto Triwikromo (editor wilayah Jateng, Solo, dan Yogyakarta)
4. Tan Lioe Ie (editor wilayah Bali, NTB, dan NTT)
5. Aslan Abidin (editor wilayah Sulawesi, Kalimantan, Ambon, dan Papua)
6. Komang Ira Puspitaningsih (editor untuk peserta perempuan)
7. Sunlie Thomas Alexander (Sekertaris editor dan wilayah Jatim)

Di samping 7 editor itu. Diharapkan para senior juga mau jadi pembina kami dan mau memberikan nasehat/saran serta tak ragu menegur bila kami ada salah, seperti:

1. Goenawan Mohamad
2. Prof. Dr. Abdul Hadi WM
3. K. H. A. Mustafa Bisri
4. Sutardji Calzoum Bachri
5. Toety Herati Noerhadi
6. Umbu Landu Paranggi
7. Taufiq Ismail.

Pembagian wilayah ini untuk memudahkan tugas. Keputusan nanti akan diputuskan bersama di antara 7 editor.

Sebagai epilog nanti akan ada satu esai kritis dari guru sastra saya dan sahabat baik saya, Nirwan Ahmad Arsuka. Terima kasih banyak.

Saut Situmorang menolak puisinya dimasukkan ke dalam antologi ini. Silakan saja, tapi seperti saran Malkan Junaidi, namanya tak akan saya hapus, walau puisinya tak bisa saya masukkan, karena hak cipta tetap ada di tangan penyair.

Tapi alasan penolakan Saut Situmorang banyak yang keliru. Misalnya, nama Agam Wispi sudah sejak lama saya masukkan, banyak penyair-penyair LEKRA yang saya masukkan namanya juga dari awal. Dan antologi ini mau berpegang pada aspek estetika, bukan pada perseteruan politik dalam sastra (rapat editor I). Putu Vivi Lestari namanya sudah dimasukkan ke dalam daftar pada rapat editor kemarin. Soal nama Sitok Srengenge dan Isbedy Stiawan Z S, mereka dimasukkan namanya karena karya mereka memang bagus, lagi pula sampai saat ini perkara Sitok Srengenge tak pernah disidang (hanya tuduhan Saut Situmorang yang terus bergema, tanpa bukti apa pun), jika memang ada buktinya, maka laporkan saja ke polisi. Selesai.

Nama Isbedy Stiawan Z S dimasukkan ke dalam daftar, karena karya beliau memang bagus, bukan karena keterlibatannya pada puisi esai karya Denny JA. Saya dari dulu juga menentang puisi esai Denny JA. Isbedy Stiawan Z S menjadi penyair jauh sebelum ada puisi esai dari Denny JA, bahkan sejak tahun 1987, ketika saya masih SMP dan baru belajar menulis puisi, nama beliau sudah me-nasional dan puisi-puisi beliau sudah masuk ke majalah sastra Horison.

Nama penyair-penyair Lampung (ada 8 orang penyair di dalam daftar, yaitu: Agit Yogi Subandi, Ahmad Yulden Erwin, Ari Pahala Hutabarat, Isbedy Stiawan Z S, Iswadi Pratama, Inggit Putria Marga, Jimmy Maruli Alfian, dan Fitri Yani). banyak masuk karena karya mereka menurut saya memang bagus, tapi banyak juga yang tak masuk meski mereka berteman dengan saya (misalnya Udo Z Karzi, Christian Saputro, Iwan Nurdaya, Syaiful Irba Tanpaka, dll). Nama-nama penyair dari Sumut seperti Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Agam Wispi, Sutan Takdir Alisyahbana, Iwan Simatupang, Thompson Hs, dan B. Y. Tand (ada 8 orang penyair dalam daftar) sudah masuk ke dalam daftar saya. Saya tak menghitung Saut Sitomurang dan Norman Erikson Pasaribu sebanyai penyair dari Sumut, karena mereka tinggal di daerah lain, meski mereka bersuku Batak. Kalau mereka tetap mau diperhitungkan juga sebagai penyair dari Sumut, maka berarti penyair dari Sumut ada 10 orang yang masuk daftar. Jadi tidak benar tuduhan Saut bahwa penyair Lampung lebih banyak masuk daftar daripada penyair dari Sumut. Sampai saat ini nama-nama (yang sudah masuk daftar ada 146 penyair) dan nama yang menolak antologi ini terdata 3 orang, yaitu:

1. Dea Anugrah
2. Heru Joni Putra
3. Saut Situmorang

Mereka memberikan alasan yang keliru dalam penolakannya, bahkan Heru Joni Putra tanpa alasan sama sekali, hanya ikut saja Dea Anugrah. Sedangkan nama Malkan Junaidi tetap ada, karena ia tak menolak dan masih ikut sampai sekarang, meski akunnya sudah saya blokir.

Soal daftar penyair LEKRA itu bukan hanya Agam Wispi (masuk dalam daftar penyair ke-II), ada yang lain juga seperti JJ Kusni, Rivai Avin, Sitor Situmorang (masuk dalam daftar penyair ke-I). Saya tak memasukkan nama Agam Wispi ke dalam daftar penyai ke-1, bukan karena disengaja, seperti sangkaan Saut, tapi karena saya lupa. Dan masuknya nama Agam Wispi ke dalam daftar penyair ke-II itu sudah cukup lama (satu hari setelah terbitnya daftar penyair ke-I), bisa dilihat juga dalam tulisan Dea Anugrah (yang mengambil daftar penyair ke-I dan ke-II). Serta kemungkinan ke depan masih ada lagi nama-nama penyair Lekra yang akan masuk. Masuknya nama-nama penyair Lekra itu bukan karena faktor ideologi. Tetapi, karena faktor estetika saja. Jadi, buat saya Saut tetap keliru.

Soal tuduhan “kanonisasi sastra” itu, dapat saya ambil bantahannya dari teman FB saya:

“Banyak orang yang menolak kanonisasi, tanpa tahu artinya, padahal selama ia bermain medsos, kanonisasi itu pasti langsung terbentuk juga. Sebab pasti ada yang suka dan tak suka, ada lambangnya juga di facebook. Jadi yang menolak itu justru cuma sekedar untuk mencari sensasi agar disukai orang. Begitu saja orang Indonesia itu tak mampu membedakannya. Pengertian kanonisasi itu sebenarnya, apa betul seperti yang kita duga selama ini? Saya coba cari di internet, dan saya mendapatkan ini di internet:

“1) Kanonisasi merupakan sebuah proses yang melibatkan pembuktian bahwa kandidat telah menjalani kehidupan dengan kebajikan heroik (heroic virtues) sehingga layak untuk dinyatakan sebagai santo atau santa. Hal ini dilakukan oleh Katolik Roma dan Ortodoks Timur, dan juga Ortodoks Oriental. (Wikipedia)

“2) Kata kanon berasal dari bahasa Yunani, kanon; sedangkan dalam Bahasa Ibrani yang maknanya tidak berbeda jauh adalah qanah. Pada dasarnya pengertian kata ini adalah ukuran atau alat untuk mengukur. Kata itu sendiri sebenarnya berarti ukuran yang biasa dikenakan untuk mengukur kehidupan, asas atau undang-undang kepercayaan. Mula-mula kata kanon artinya daftar kitab-kitab yang disahkan oleh jemaat yang mula-mula. Kanonisasi (canonicitas) adalah proses menyusun kitab-kitab dalam Alkitab untuk diakui sebagai Firman Allah yang dapat menjadi pedoman bagi kehidupan manusia secara universal. Hal ini terjadi sebab Alkitab bukanlah kitab yang turun dari langit. Tetapi Alkitab ditulis oleh banyak orang yang oleh karenanya harus digumuli manakah kitab yang sungguh-sungguh merupakan ilham Roh Kudus dan diakui sebagai Firman Allah. (https://www.rehobot.org/beranda_renungan/kanonisasi/)

“Apa Bang AYE ingin para penyair Indonesia itu jadi santo, jadi orang suci, hanya dengan mengumpulkan puisi-puisi yang bagus dalam sebuah buku puisi? Saya rasa tidak. Apa benar Bang AYE mau menyusun semacam kitab suci dari puisi? Saya rasa juga tidak. Apa kanonisasi itu artinya sama dengan pemopuleran sesuatu, seperti saya katakan di awal status ini? Coba kita renungkan lagi, jangan asal suka saja.”

Itu tadi bantahan dari teman FB di status FB saya yang saya kutip untuk menjawab tuduhan soal “kanonisasi sastra” dari Malkan Junaidi dan sastrawan yang lain ,yang sudah terlanjur beredar di media sosial.

Jika saya harus memilih beberapa nama penyair Indonesia modern, yang karyanya bagus secara estetika dan bisa dipertanggungjawabkan secara teori sastra, baik dari ideologi kiri atau kanan atau tengah, maka akan ada 100/100 lebih nama penyair Indonesia modern. Jika saja seratus nama/seratus lebih nama itu dikumpulkan puisinya (paling banyak 10 puisi untuk 1 penyair, maka akan ada buku setebal 1.000 halaman lebih yang siap dicetak). Kiprah mereka dalam dunia sastra dan karyanya sudah teruji pada masanya. Penerbitan buku itu merupakan bentuk penghargaan kepada mereka, karena mereka telah menuliskan karya-karya sastra berupa puisi yang bagus dan inovatif secara estetika. Nama-nama mereka itu, serta tempat kelahirannya dan tempatnya sekarang tinggal, adalah:

A. Ahmad Yulden Erwin (Editor untuk Sumatra dan tambahan, ia lahir di Tanjungkarang, Bandarlampung, Lampung)
1. Agit Yogi Subandi (Lahir di Prabumulih, Sumatera Selatan, dan sekarang tinggal di Lampung)
2. Amir Hamzah (Langkat, Sumatera Utara)
3. Ari Pahala Hutabarat (Lahir di Palembang, Sumatera Selatan, dan sekarang tinggal di Lampung)
4. Asrul Sani (Rao, Sumatera Barat)
5. B.Y. Tand (Indrapura, Kabupaten Asahan, Sumatra Utara)
6. Isbedy Stiawan Z S (Tanjungkarang, Bandarlampung, Lampung)
7. Iswadi Pratama (Tanjungkarang, Bandarlampung, Lampung)
8. Norman Erikson Pasaribu (Jakarta)
9. Ibrahim Sattah (Tarempa, Pulau Tujuh, Riau)
10. Idrus Tintin (Rengat, Indragiri Hulu, Riau)
11. Gus TF (Payakumbuh, Sumatera Barat)
12. Hamid Jabbar (Kota Gadang, Bukittinggi, Sumatera Barat)
13. John Kuan (Pulau Rangsang, Riau)
14. Nezar Patria (Lahir di Sigli, Aceh, dan sekarang tinggal di Jakarta)
15. Taufik Ikram Jamil (Teluk Belitung, Bengkalis, Riau)
16. Ahda Imran (Editor untuk DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat,dan tambahan, ia lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, dan sekarang ia tinggal di Bandung, Jawa Barat)
17. Triyanto Triwikromo (Editor untuk Jawa Tengah, Solo, Yogyakarta, dan tambahan, ia lahir di Salatiga, Jawa Tengah, dan sekarang ia tinggal di Semarang, Jawa Tengah)
18. Sunlie Thomas Alexander (Editor untuk Jawa Timur dan tambahan, ia Lahir di Bangka, Kepulauan Bangka-Belitung, dan ia sekarang tinggal di Yogyakarta)
19. Tan Lioe Ie (Editor untuk Bali, NTB, NTT, dan tambahan, ia lahir di Denpasar, Bali)
20. Aslan Abidin (Editor untuk Pulau Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Papua, dan tambahan, ia lahir di Soppeng, Sulawesi Selatan)
21. Komang Ira Puspitaningsih (Editor untuk perempuan dan tambahan, ia lahir di Denpasar, Bali).

B. Ahda Imran (Editor untuk DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan tambahan, ia lahir di Payakumbuh, Sumatera Barat, dan sekarang ia tinggal di Bandung, Jawa Barat)
1. Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya, Jawa Barat)
2. Agus R. Sarjono Full (Bandung, Jawa Barat)
3. Ahmad Faisal Imron (Bandung, Jawa Barat)
4. Ajip Rosidi (Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat)
5. Ayatrohaedi (Jatiwangi, Cirebon, Jawa Barat)
6. Beni Setia (Soreang, Bandung Selatan, Jawa Barat)
7. Cecep Syamsul Hari (Bandung, Jawa Barat)
8. Darmanto Jatman (Jakarta)
9. Eka Budianta (Lahir di Ngimbang, Jawa Timur, dan sekarang tinggal di Jakarta)
9. Dedy Tri Riyadi (Lahir di Tegal, Jawa Tengah, dan sekarang tinggal di Jakarta)
10. Goenawan Mohamad (Lahir di Batang, Jawa Tengah, dan sekarang tinggal di Jakarta)
11. Jamal D. Rahman (Lahir di Lenteng Timur, Sumenep, Madura, dan sekarang tinggal di Jakarta)
12. Joko Pinurbo (Lahir di Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat, dan sekarang tinggal di Yogyakarta)
13. Mochtar Pabotinggi (Lahir di Bulukumba, Sulawesi Selatan, dan sekarang tinggal di Jakarta)
14. Moh. Wan Anwar (Cianjur, Jawa Barat)
15. Nirwan Dewanto (Lahir di Surabaya, Jawa Timur, dan sekarang tinggal di Jakarta)
16. Toto St Radik (Serang, Banten)
17. Toto Sudarto Bachtiar (Palimanan, Cirebon, Jawa Barat)
18. Marhalim Zaini (Teluk Pambang, Bengkalis, Riau)
19. Ahmad Yulden Erwin (Tanjungkarang, Bandarlampung, Lampung).
20. Jimmy Maruli Alfian (Teluk Betung, Bandarlampung, Lampung)
21. L. K. Ara (Kutelintang, Takengon, Aceh Tengah)

C. Triyanto Triwikromo (Editor untuk Jawa Tengah, Solo, Yogyakarta, dan tambahan, ia lahir di Salatiga, Jawa Tengah, dan sekarang ia tinggal di Semarang, Jawa Tengah)
1. Ahmadun Yosi Herfanda (Kendal, Jawa Tengah)
2. Beno Siang Pamungkas (Lahir di Bojonegoro, Jawa Timur, dan sekarang tinggal di Semarang, Jawa Tengah)
3. Budiman S. Hartojo (Solo, Jawa Tengah)
4. F. Rahardi (Ambarawa, Jawa Tengah)
5. Hartojo Andangdjaja (Solo, Jawa Tengah)
6. K.H. A. Mustofa Bisri (Rembang, Jawa Tengah)
7. Kuntowijoyo (Sanden, Bantul, Yogyakarta)
8. Kriapur (Solo, Jawa Tengah)
9. Piek Ardijanto Soeprijadi (Magetan, Jawa Tengah)
10. Ook Nugroho (Jakarta)
11. Radhar Panca Dahana (Jakarta)
12. Ragil Suwarna Pragolapati (Pati, Jawa Tengah)
13. Ramadhan K.H. (Bandung, Jawa Barat)
14. Raudal Tanjung Banua (Lahir di Taratak, Pesisir Selatan, Sumatra Barat, dan sekarang tinggal di Yogyakarta)
15. Rendra (Solo, Jawa Tengah)
16. Tia Setiadi (Lahir di Subang, Jawa Barat, dan sekarang tinggal di Yogyakarta)
17. Timur Sinar Suprabana (Semarang, Jawa Tengah)
18. Wiji Thukul (Solo, Jawa Tengah)
19. Wing Kardjo (Garut, Jawa Tengah)
20. Gunoto Saparie (Kendal, Jawa Tengah)
21. Taufiq Ismail (Lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat, dan sekarang tinggal di Jakarta)

D. Sunlie Thomas Alexander (Editor untuk Jawa Timur dan tambahan, ia Lahir di Bangka, Kepulauan Bangka-Belitung, dan ia sekarang tinggal di Yogyakarta)
1. Abdul Hadi WM (Lahir di Sumenep, Madura, Jawa Timur, dan sekarang tinggal di Yogyakarta)
2. Abdul Wachid Bs (Lamogan, Jawa Timur)
3. Ahmad Nurullah (Sumenep, Madura, Jawa Timur)
4. Binhad Nurrohmat (Lahir di Lampung, dan sekarang tinggal di Jombang, Jawa Timur)
5. D Zawawi Imron (Sumenep, Madura, Jawa Timur)
6. Emha Ainun Nadjib (Jombang, Jawa Timur)
7. M Faizi (Sumenep, Madura, Jawa Timur)
8. Malkan Junaidi (Blitar, Jawa Timur)
9. Rida K Liamsi (Dabo, Singkep, Lingga, Kepulauan Riau)
10. Rivai Apin (Padang Panjang, Sumatra Barat)
11. Roestam Effendi (Padang, Sumatra Barat)
12. Saini K.M. (Sumedang, Jawa Barat)
13. Sanoesi Pane (Muara Sipongi, Mandailing Natal, Sumatra Utara)
14. Sapardi Djoko Damono (Surakarta, Jawa Tengah)
15. Saut Situmorang (Tebingtinggi, Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatra Utara, dan sekarang tinggal di Yogyakarta).
16. Putu Fajar Arcana (Lahir di Negara, Bali Barat, Bali, dan sekarang tinggal di Jakarta)
17. Esha Tegar Putra (Solok, Sumatra Barat)
18. Yudhistira ANM Massardi (Subang, Jawa Barat)
19. Zeffry Alkatiri (Jakarta)
20. Zen Hae (Jakarta).

E. Tan Lioe Ie (Editor untuk Bali, NTB, NTT, dan tambahan, ia lahir di Denpasar, Bali)
1. Frans Nadjira (Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, dan sekarang tinggal di Bali)
2. Sides Sudyarto D.S. (Tegal, Jawa Tengah)
3. Sitok Srengenge (Lahir di Grobogan, Jawa Tengah, dan sekarang tinggal di Yogyakarta)
4. Sitor Situmorang (Harianboho, Tapanuli Utara, Sumatra Utara)
5. Slamet Sukirnanto (Solo, Jawa Tengah)
6. Soni Farid Maulana (Tasikmalaya, Jawa Barat)
7. Sosiawan Leak (Surakarta, Jawa Tengah)
8. Subagio Sastrowardojo (Madiun, Jawa Timur)
9. Suminto A. Sayuti (Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah)
10. Sutan Takdir Alisjahbana (Natal, Mandailing Natal, Sumatra Utara)
11. Sutardji Calzoum Bachri (Lahir di Rengat, Indragiri Hulu, Riau, dan sekarang tinggal di Jakarta)
12. Umbu Landu Paranggi (lahir di Kananggar, Paberiwai, Sumba Timur, NTT, dan sekarang tinggal di Bali)
13. Warih Wisatsana (Lahir di Cimahi, Jawa Barat, dan sekarang tinggal di Bali)
14. Wayan Jengki Sunarta (Denpasar, Bali)
15. Leon Agusta (Nagari Tanjung Sani Maninjau, Sumatra Barat)
16. Fikar W. Eda (Takengon, Nangroe Aceh Darussalam)
17. Agam Wispi (Pangkalan Susu, Sumatra Utara)
18. Kiki Sulistyo (Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat)
19. Thompson Hs (Tarutung, Tapanuli Utara, Sumatra Utara)
20. Wowok Hesti Prabowo (Grobogan, Jawa Tengah)
21. Yusrizal KW (Padang, Sumatra Barat)

F. Aslan Abidin (Editor untuk Pulau Kalimantan, Sulawesi, Ambon, Papua,dan tambahan, ia lahir di Soppeng, Sulawesi Selatan)
1. J. E. Tatengkeng (Sangihe, Sulawesi Utara)
2. JJ. Kusni (Kasongan, di pinggir Sungai Katingan, Kalimantan Tengah)
3. Korrie Layun Rampan (Samarinda, Kalimantan Timur)
4. Iwan Simatupang (Sibolga, Sumatera Utara).
5. Abrar Yusra (Lawang Matur, Agam, Sumatra Barat)
6. sindhuputra (Lahir di Bali, dan sekarang tinggal di NTB)
7. John Waromi (Papua)
8. Ajamudin Tifani (Banjarmasin, Kalimantan Selatan)
9. Remy Silado (Lahir di Makassar, Sulawesi Selatan, dan sekarang tinggal di Bandung, Jawa Barat)
10. Matori A Elwa (Magelang, Jawa Tengah)
11. Ahmad Syubhanuddin Alwi (Cirebon, Jawa Barat)
12. Aspar Paturusi (Bulukumba, Sulawesi Selatan)
14. Boy Riza Utama (Bukittinggi, Sumatra Barat)
15.Tengsoe Tjahjono (Jember, Jawa Timur)
16. Riki Dhamparan Putra (Pasaman, Sumatra Barat)
17. Indrian Koto (Lansano, Pesisir Selatan, Sumatra Barat)
18. Dinulah Rayes (Kalabeso, Kecamatan Buer, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat)
19. Gunawan Maryanto (Yogyakarta)
20. Iyut Fitra (Nagari Koto Nan Ompek, Kota Payakumbuh, Sumatra Barat)
21. Chairil Anwar (Medan, Sumatera Utara)

G. Komang Ira Puspitaningsih (Editor untuk perempuan dan tambahan, ia lahir di Denpasar, Bali)
1. Dorothea Rosa Herliany (Magelang, Jawa Tengah)
2. Toety Herati Noerhadi (Bandung, Jawa Barat)
3. Upita Agustine (Pagaruyung, Tanah Datar, Sumatra Barat)
4. Abidah El Khalieqie (Jombang, Jawa Timur)
5. Ulfatin Ch. (Pati, Jawa Tengah)
6. Diah Hadaning (Jepara, Jawa Tengah)
7. Fitri Yani (Tanjungkarang, Bandarlampung, Lampung)
8. Pranita Dewi (Denpasar, Bali).
9. Oke Rusmini (Lahir di Jakarta, dan sekarang tinggal di Bali)
10. Putu Vivi Lestari (Tabanan, Bali)
11. Hanna Fransisca (Lahir di Singkawang, Kalimantan Barat, dan sekarang tinggal di Jakarta)
12. Inggit Putria Marga (Tanjungkarang, Bandarlampung, Lampung)
13. Dina Oktaviani (Lahir di Lampung, dan sekarang tinggal di Inggris)
14. Linus Suryadi AG (Dusun Kadisobo, Sleman, Yogyakarta)
15. Oei Sien Tjwan (Kudus, Jawa Tengah)
16. Acep Syahril (Kuningan, Jawa Barat)
17. Hasan Asphani/ Juru Baca (Lahir di Handil Baru, Kalimantan Timur, dan sekarang tinggal di Jakarta)
18. Dea Anugrah (Lahir di Pangkalpinang, Kepulauan Bangka-Belitung, dan sekarang tinggal di Yogyakarta)
19. Heru Joni Putra (Payakumbuh, Sumatra Barat)
20. Jamil Massa (Gorontalo, Sulawesi Utara)
21. Kurnia Effendi (Lahir di Tegal, Jawa Tengah, dan sekarang tinggal di Jakarta)

***

Link-link terkait:
1. Penolakan Saut Situmorang, dan Dea Anugrah
2. MASALAH ANTOLOGI 100 PENYAIR/100 LEBIH PENYAIR INDONESIA MODERN
3. Menanggapi Penolakanku (Saut Situmorang)

Keterangan gambar:
Judul foto: “DNA Kepenyairan Afrizal Malna Hilang,” jepretan dari tukang posting.

One Reply to “MASALAH ANTOLOGI 100 PENYAIR/100 LEBIH PENYAIR INDONESIA MODERN (VERSI REVISI)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *