Menanggapi Penolakanku (Saut Situmorang)


Saut Situmorang

Menanggapi penolakanku untuk diikutkan dalam antologi puisi 100/100 LEBIH PENYAIR INDONESIA MODERN, Ahmad Yulden Erwin mengatakan:

“Tapi alasan penolakan Saut Situmorang banyak yang keliru. Misalnya, nama Agam Wispi sudah sejak lama saya masukkan, banyak penyair-penyair LEKRA yang saya masukkan namanya juga dari awal. Dan antologi ini mau berpegang pada aspek estetika, bukan pada perseteruan politik dalam sastra (rapat editor I). Putu Vivi Lestari namanya sudah dimasukkan ke dalam daftar pada rapat editor kemarin. Soal nama Sitok Srengenge dan Isbedy Stiawan Z S, mereka dimasukkan namanya karena karya mereka memang bagus, lagi pula sampai saat ini perkara Sitok Srengenge tak pernah disidang (hanya tuduhan Saut Situmorang yang terus bergema, tanpa bukti apa pun), jika memang ada buktinya, maka laporkan saja ke polisi. Selesai.

Nama Isbedy Stiawan Z S dimasukkan ke dalam daftar, karena karya beliau memang bagus, bukan karena keterlibatannya pada puisi esai karya Denny JA. Saya dari dulu juga menentang puisi esai Denny JA. Isbedy Stiawan Z S menjadi penyair jauh sebelum ada puisi esai dari Denny JA, bahkan sejak tahun 1987, ketika saya masih SMP dan baru belajar menulis puisi, nama beliau sudah me-nasional dan puisi-puisi beliau sudah masuk ke majalah Horison.

Nama penyair-penyair Lampung (ada 8 orang penyair di dalam daftar, yaitu: Agit Yogi Subandi, Ahmad Yulden Erwin, Ari Pahala Hutabarat, Isbedy Stiawan Z S, Iswadi Pratama, Inggit Putria Marga, Jimmy Maruli Alfian, dan Fitri Yani). banyak masuk karena karya mereka menurut saya memang bagus, tapi banyak juga yang tak masuk meski mereka berteman dengan saya (misalnya Udo Z Karzi, Christian Saputro, Iwan Nurdaya, Syaiful Irba Tanpaka, dll). Nama-nama penyair dari Sumut seperti Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Agam Wispi, Sutan Takdir Alisyahbana, Iwan Simatupang, Thompson Hs, dan B. Y. Tand (ada 8 orang penyair dalam daftar) sudah masuk ke dalam daftar saya.”

Orang ini kayaknya purak-purak LUPA bahwa Daftar Penyair yang jadi rujukanku adalah daftar PERTAMA yang dia umumkan di Facebook, sementara daftar tersebut saat ini sudah mengalami beberapa perubahan termasuk adanya beberapa editor baru disamping dirinya sendiri! Ini untuk menjawab klaimnya bahwa dia “masukkan, banyak penyair-penyair LEKRA … dari awal.”

Di bawah ini aku muat lagi Daftar Awal tersebut:

“100/100 LEBIH PENYAIR INDONESIA MODERN
Ahmad Yulden Erwin

Jika saya harus memilih beberapa nama penyair Indonesia modern, yang karyanya bagus secara estetika dan bisa dipertanggungjawabkan secara teoritis, baik dari ideologi kiri atau kanan atau tengah, maka akan ada 100/100 lebih nama penyair Indonesia modern. Saya menafikan diri saya, karena saya yang memilih 100/100 lebih nama ini. Jika saja seratus nama/seratus lebih nama itu dikumpulkan puisinya (paling banyak 10 puisi untuk 1 penyair, maka akan ada buku setebal 1.000 halaman lebih yang siap dicetak). Kiprah mereka dalam dunia sastra dan karyanya sudah teruji pada masanya. Penerbitan buku itu merupakan bentuk penghargaan kepada mereka, karena mereka telah menuliskan karya-karya sastra berupa puisi yang bagus dan inovatif secara estetika. Nama-nama mereka itu adalah:

1. Abdul Hadi WM
2. Abdul Wachid Bs
3. Acep Zamzam Noor
4. Agit Yogi Subandi
5. Agus R. Sarjono Full
6. Ahda Imran
7. Ahmad Faisal Imron
8. Ahmad Nurullah
9. Ahmadun Yosi Herfanda
10. Ajip Rosidi
11. Amir Hamzah
12. Aslan Abidin
13. Asrul Sani
14. Ari Pahala Hutabarat
15. Ayatrohaedi
16. B.Y. Tand
17. Beni Setia
18. Beno Siang Pamungkas
19. Binhad Nurrohmat
20. Budiman S. Hartojo
21. Chairil Anwar
22. Cecep Syamsul Hari
23. D Zawawi Imron
24. Darmanto Jatman
25. Dedy Tri Riyadi
26. Dina Oktaviani
27. Dorothea Rosa Herliany
28. Eka Budianta
29. Emha Ainun Nadjib
30. F. Rahardi
31. Frans Nadjira
32. Goenawan Mohamad
33. Gus TF
34. Hamid Jabbar
35. Hartojo Andangdjaja
36. Ibrahim Sattah
37. Idrus Tintin
38. Isbedy Stiawan Z S
39. Iswadi Pratama
40. Inggit Putria Marga
41. JE Tatengkeng
42. Jamal D. Rahman
43. Jimmy Maruli Alfian
44. JJ. Kusni
45. Joko Pinurbo
46. John Kuan
47. K.H. A. Mustofa Bisri
48. Korrie Layun Rampan
49. Kuntowijoyo
50. Kriapur
51. Leon Agusta
51. L. K. Ara
52. M Faizi
53. Malkan Junaidi
54. Mochtar Pabotinggi
55. Moh. Wan Anwar
56. Nirwan Dewanto
57. Nezar Patria
58. Ook Nugroho
59. Piek Ardijanto Soeprijadi
60. Radhar Panca Dahana
61. Ragil Suwarna Pragolapati
62. Ramadhan K.H.
63. Raudal Tanjung Banua
64. Rendra
65. Rida K Liamsi
66. Rivai Apin
67. Roestam Effendi
68. Saini K.M.
69. Sanoesi Pane
70. Sapardi Djoko Damono
71. Saut Situmorang
72. Sides Sudyarto D.S.
73. Sitok Srengenge
74. Sitor Situmorang
75. Slamet Sukirnanto
76. Soni Farid Maulana
77. Sosiawan Leak
78. Subagio Sastrowardojo
79. Suminto A. Sayuti
80. Sunlie Thomas Alexander
81. Sutan Takdir Alisjahbana
82. Sutardji Calzoum Bachri
83. Tan Lioe Ie
84. Taufik Ikram Jamil
85. Taufiq Ismail
86. Tia Setiadi
87. Timur Sinar Suprabana
88. Toety Herati Noerhadi
89. Toto St Radik
90. Toto Sudarto Bachtiar
91. Triyanto Triwikromo
92. Umbu Landu Paranggi
93. Upita Agustine
94. Warih Wisatsana
95. Wayan Jengki Sunarta
96. Wiji Thukul
97. Wing Kardjo
98. Yudhistira ANM Massardi
99. Zeffry Alkatiri
100. Zen Hae”

Sementara nama “Agam Wispi” dan penyair-penyair lain cumak “musti sangat dipertimbangkan untuk masuk dalam daftar ini”! Begini katanya:

“Serta masih ada beberapa nama penyair lagi yang musti sangat dipertimbangkan untuk masuk ke dalam daftar ini berdasarkan karya dan kiprahnya di dalam dunia sastra, misalnya:

1. Agam Wispi
2. Gunoto Saparie
3. Abidah El Khalieqie
4. Ulfatin Ch.
5. Matori A Elwa
6. Ahmad Syubhanuddin Alwi
7. Aspar Paturusi
8. Boy Riza Utama
9. Diah Hadaning
10.Tengsoe Tjahjono
11. Riki Dhamparan Putra
12. Indrian Koto
13. Dinulah Rayes
14. Fikar W. Eda
15. Gunawan Maryanto
16. Iyut Fitra
17. Kiki Sulistyo
18. Thompson Hs
19. Wowok Hesti Prabowo
20. Yusrizal KW
21. Linus Suryadi AG
22. Oei Sien Tjwan
23. Acep Syahril
24. Fitri Yani
25. Hasan Asphani (Juru Baca)
26. Dea Anugerah
27. Heru Joni Putra
28. Jamil Massa
29. Kurnia Effendi
30. Hanna Fransisca
31. Norman Erikson Pasaribu
32. Esha Tegar Putra
33. Marhalim Zaini
34. Putu Fajar Arcana
35. Pranita Dewi
36. Komang Ira Puspitaningsih
37. Oke Rusmini”.

Kalian para pembaca saja yang menilai “kekeliruan”ku yang “banyak” itu. Malas aku menanggapi orang yang gak bisa konsisten dengan kata-katanya sendiri apalagi yang ingin jadi Editor sebuah antologi puisi yang berpretensi jadi sebuah bunga rampai sejarah puisi Indonesia! Kita masih belum lagi mempermasalahkan banyak hal lain, mulai dari terminologi “modern” yang dipakeknya dalam konteks Sastra Indonesia (emangnya ada “Sastra Indonesia” yang TIDAK modern, misalnya) sampek penambahan secara tiba-tiba beberapa nama untuk jadi Editor antologi tersebut (apa jugak berdasarkan “kiprah” mereka dan karya editorial mereka sudah teruji?).

Link-link terkait:

1. Penolakan Saut Situmorang, dan Dea Anugrah
2. MASALAH ANTOLOGI 100 PENYAIR/100 LEBIH PENYAIR INDONESIA MODERN

One Reply to “Menanggapi Penolakanku (Saut Situmorang)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *