PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (19)

: Sejarah Sastra Indonesia yang Maskulin?
Djoko Saryono

Gambaran ketimpangan peran gender – yaitu ketidakseimbangan hubungan peran gender maskulin dengan peran gender feminin – dalam historiografi sastra Indonesia tersebut mengakibatkan timbulnya kesan atau anggapan bahwa perempuan Indonesia tak berbakat dan cocok menjadi sastrawan Indonesia. Anggapan ini demikian meluas dalam dunia kesusastraan Indonesia. Ini mengakibatkan adanya atau terjadinya hegemoni maskulinitas dalam sejarah perkembangan dan historiografi sastra Indonesia. Hegemoni maskulinitas di sini dalam arti kuatnya kekuasaan pandangan yang ditentukan oleh laki-laki atau parameter kelelakian. Adanya atau terjadinya hegemoni maskulinitas ini membuat sastra Indonesia seolah-olah menjadi lapangan laki-laki Indonesia.

Lebih lanjut, hegemoni maskulinitas tersebut mendorong terjadinya ketidakadilan gender dalam sejarah sastra dan historiografi sastra Indonesia. Ketidakadilan gender ini setidak-tidaknya dapat dilihat dalam wacana sejarah sastra Indonesia dan wacana kritik sastra Indonesia sebab kedua macam wacana ini dapat dianggap sebagai representasi ketidakadilan gender dalam dunia sastra Indonesia. Ketidakadilan gender yang terepresentasi dalam wacana sejarah sastra Indonesia dan wacana kritik sastra Indonesia berupa marginali¬sasi peran dan sumbangan perempuan Indonesia dalam dunia sastra Indonesia, subordi¬nasi peran dan sumbangan perempuan Indonesia dalam dunia sastra Indonesia, dan pelabelan negatif terhadap sumbangan perempuan Indonesia dalam sastra Indonesia.

Wacana sejarah umum sastra (novel) Indonesia terutama historiografi sastra Indonesia dan wacana kritik sastra Indonesia bisa dikatakan masih memarginalisasikan, mensubordinasikan, dan melabeli secara negatif peran dan sumbangan yang telah diemban dan diberikan oleh perempuan sastrawan Indonesia dalam dinamika sejarah perkem¬bangan sastra Indonesia. Hal ini terbukti dari sedikitnya ruang dan porsi pembahasan perempuan sastrawan Indonesia dengan karya-karyanya, pandangan-pandangan yang dikemukakan penulis wacana tentang perempuan sastrawan Indonesia dengan kualitas karya-karyanya, dan prospek kepengarangan perempuan sastrawan Indonesia.

Buku Sastra Baru Indonesia I, Sastra Baru Indonesia II karya Teeuw, Sejarah Sastra Indonesia karya Zuber Usman, Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia karya Ajib Rosidi, Linatasan Sejarah Sastra Indonesia karya Jakob Sumardjo, Kesusas-traan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei I s.d. IV karya H.B. Jassin, dan Langit Biru Laut Biru suntingan Ajib Rosidi – sebagai contoh – sedikit sekali membahas perempuan sastrawan Indonesia dan karya-karya mereka, sedikit sekali memberikan ruang pembahasan bagi perempuan sastrawan Indonesia dan karya-karyanya, dan isi pembahasan yang rata-rata menganggap rendah kualitas karya-karya perempuan sastrawan Indonesia. Sastra Indonesia Baru I dan II karya Teeuw, sebagai contoh khusus, hanya membahas beberapa perempuan sastrawan Indonesia dalam sekitar 20-an halaman dari tebal buku sekitar 500 halaman. Lagi pula kualitas karya-karya perempuan sastrawan Indonesia yang dibahas dipandang masih di bawah kualitas karya-karya laki-laki sastrawan.

Ketidakadilan gender dalam wacana sejarah sastra Indonesia, historiografi sastra Indonesia, dan wacana kritik sastra Indonesia tersebut jelaslah tidak menguntungkan bagi perempuan Indonesia. Itu sebabnya, ketidakadilan tersebut perlu sedikit demi sedikit dikurangi. Untuk itu, diperlukan suatu upaya dekonstruksi wacana sejarah-umum sastra Indonesia, historiografi sastra Indonesia, dan wacana kritik sastra Indonesia. Upaya dekonstruksi ini dapat dikerjakan dengan dua jalan.

Jalan pertama adalah menulis ulang sejarah-umum sastra Indonesia, historiografi sastra Indonesia, dan wacana kritik sastra Indonesia yang berperspektif gender. Untuk bisa menulis ulang sejarah-umum sastra Indonesia sekaligus historiografi sastra Indonesia yang dari segi gender dikatakan adil diperlukan kajian-kajian tentang perempuan sastrawan dan karya-karya mereka. Untuk bisa menulis ulang wacana kritik sastra Indonesia yang dari segi gender dikatakan adil diperlukan kajian dan pembahasan perempuan sastrawan Indonesia dan karya-karya mereka secara lebih intensif dan ekstensif. Ini menuntut para ilmuwan sastra dan kritikus sastra Indonesia terutama ahli sejarah sastra Indonesia untuk lebih banyak memperhatikan perempuan sastrawan Indonesia dan karya-karya yang dihasilkannya.

Jalan kedua upaya dekonstruksi wacana sejarah sastra Indonesia, historiografi sastra Indonesia, dan wacana kritik sastra Indonesia adalah meningkatkan peran gender feminin dalam dunia kesusastraan Indonesia. Ini berarti perlu peningkatan peran perempuan Indonesia dalam dinamika sejarah perkembangan sastra Indonesia. Kreativitas dan produktivitas perempuan sastrawan Indonesia dalam menghasilkan sastra perlu dioptimalkan sebab kreativitas dan produktivitas mereka masih kalah dibandingkan dengan laki-laki novelis. Di samping itu, intensitas dan ekstensitas keterlibatan mereka dalam dunia kesusastraan Indonesia juga perlu ditingkatkan sebab intensitas dan ekstensitas keterlibatan mereka juga masih kalah dibandingkan dengan laki-laki sastrawan. Dengan demikian, diharapkan ketimpangan peran gender makin mengecil dalam dunia kesusastraan Indonesia.

Bersambung…

2 Replies to “PENULISAN SEJARAH SASTRA INDONESIA (19)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *