LENGA TALA: BETIS DAN KUTUKAN (100)

Sunu Wasono *

Karena ditunggu-tunggu belum juga bicara, Puntadewa menyambung kata-katanya. “Tidak ada waktu lagi. Sekarang katakan sejujur-jujurnya dan seterang-terangnya, apa alasan pasukan Ki Sanak berdua menggempur Hastina?”

Patih Andanawarsa langsung menjawab tegas. “Raja kami, Prabu Baratwaja, menginginkan kembalinya Kumbayana. Berdasarkan laporan telik sandi, Hastina memenjarakan Kumbayana. Kami yakin Kumbayana tidak melakukan kejahatan di Hastina. Kami akan melanjutkan pertempuran sampai gusti kami Kumbayana dibebaskan.”

“Waaaaa. Kau termakan gosip. Telik sandimu dungu. Percaya begitu saja pada berita bohong. Siapa bilang Kumbayana dipenjara. Jangan ngawur,” ujar Bima.

“Jangan sembararangan bicara. Telik sandi kami profesional. Mereka didikan orang-orang hebat di Atasangin. Laporannya selama ini selalu benar,” bantah Andanawarsa.

“Waaaaa…”

“Sebentar, Bima. Jangan wawe wawe saja. Biarlah aku yang menanggapi.”

Bima kesal sebetulnya, tapi tak bisa apa-apa kalau kakaknya sudah bicara macam itu. Ia hanya bisa memukul-mukulkan kepalan tangan kanannya ke telapak tangan kirinya sendiri. Sesekali tangannya mengelus-elus kuku pancanakanya. Kadang-kadang ia memelintir ujung kumisnya sendiri.

“Lalu bagaimana dengan Tuan Kerpa. Apa alasan pasukan Timpurusa ikut-ikut menyerang Hastina?” Kata Puntadewa.

“Bukannya kami ikut-ikutan aksi prajurit Atasangin. Kebetulan saja pasukan Timpurusa bertemu pasukan Atasangin di Hastina. Ketahuilah bahwa Raden Bambang Kumbayana itu sesungguhnya kakak ipar saya. Dia menikahi kakak saya, Kerpi. Sesudah menikah ia pergi. Anak dari perkawinan dengan istri sebelumnya, Bambang Aswatama, diasuh Kakang mbok Kerpi. Kakangmas Kumbayana sudah lama meninggalkan Timpurusa. Katanya waktu pamit istrinya, ia hendak menemui saudara seperguruannya di Pancalaradya. Sekian lama kami menunggu-nunggu kepulangannya. Sampai akhirnya terdengar kabar bahwa ia setelah tapa ngrame menjadi pendeta, tapi oleh penguasa Hastina ia dikriminalisasi tanpa sebab. Tindakan raja Hastina sewenang-wenang. Karena itu, harus dilawan dengan perang.”

Sebelum Puntadewa merespon kata-kata Kerpa, Andanawarsa menyela, “Lhoh, jadi Raden Kumbayana kini sudah menikah rupanya. Senang aku mendengar kabar ini. Perlu diketahui bahwa Raden Kumbayana pergi dari Atasangin karena tak mau menikah ketika ayahnya memintanya untuk segera menikah. Tak dinyana dia mendapatkan jodohnya di Timpurusa. Berarti kita bersaudara,” ujar Andanawarsa seraya mendekati Kerpa dan mengajak salaman. Andanawarsa bukan hanya bersalaman dengan Kerpa, tapi berangkulan.

Bersambung…

*) Dr. Sunu Wasono. M. Hum. lahir di Wonogiri 11 Juli 1958. Taman SMAN Wonogiri tahun 1976, S1 di Jurusan Sastra Indonesia Fak. Sastra Universitas Indonesia (UI) tahun 1985, S2 di Program Pascasarjana UI (1999), dan S3 di Program Studi Ilmu Susastra FIBUI (2015). Sejak April 1987, staf pengajar di Fak. Ilmu Pengetahuan Budaya UI, mengampu mata kuliah Sosiologi Sastra, Pengkajian Puisi, dan Penulisan Populer. Tahun 1992 (6 bulan) menjadi dosen tamu di La Trobe University, Melbourne, Australia. Mulai Oktober 2016, menjadi Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Fak. Ilmu Pengetahuan Budaya UI. Buku terbarunya “Seks sebagai Rempah dan Masalah serta beberapa kritik lainnya“.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *