SASTRA SEBAGAI DULANG RENUNGAN FILOSOFIS (4)

: Manusia dalam Novel Iwan Simatupang

Djoko Saryono

Anthropoligical constants merupakan dorongan-dorongan dan orientasi tetap manusia. Setidak-tidaknya ada enam anthropological constant yang bisa ditarik dari pengalaman sejarah umat manusia, yaitu (i) relasi manusia dengan kejasmanian, alam dan lingkungan ekologis, (ii) keterlibatan dengan sesama, (iii) keterikatan dengan struktur sosial dan institusional, (iv) ketergantungan masyarakat dan kebudayaan pada waktu dan tempat, (v) hubungan timbal balik antara teori dan praksis, dan (vi) kesadaran religius.

Keenam anthropological constants tersebut terungkap dengan jelas dalam novel-novel Iwan Simatupang. Relasi manusia dengan kejasmanian, alam dan lingkungan ekologis nampak jelas dalam novel Kering. Tokoh-tokoh yang terdapat dalam novel ini harus menghadapi kemarau yang berkepanjangan. Manusia harus menghadapi keadaan alam yang begitu menggelisahkan dan menyusahkan. Untuk dapat hidup dan bertahan mereka harus mampu menghadapi berbagai masalah yang berkenaan dengan keadaan alam, suatu kemarau panjang yang teramat kering.

Dalam Ziarah, meskipun hanya disinggung sedikit mengenai hubungan dengan keadaan alam, kehadiran alam yang terbatas sangat mengagumkan. Dua unsur alam yang sering disebut dalam novel ini adalah matahri dan laut. Kedua unsur alam itu digambar-kan sangat mempengaruhi hidup para tokoh dalam novel terutama tokoh utama, yaitu pelukis bekas.

Dalam pada itu, novel Kooong hu-bungan dengan kejasmanian nampak dengan sangat jelas pada peranan seekor perkutut dalam kehidupan tokoh utamanya, yaitu Pak Sastro. Selanjutnya dalam novel Merahnya Merah digambarkan bahwa keadaan alam yang harus dihadapi oleh para tokohnya adalah kemiskinan yang berlarut-larut.

Keterlibatan dengan sesama nampak jelas dalam semua novelnya. Dalam Merahnya Merah keterlibatan Tokoh Kita dengan kaum gelandangan, Pak Centeng, Pangdam, dan lain-lain menyebabkan peristiwa-peristiwa yang terjadi merupakan pengalaman sejarah yang harus dijalani oleh tokoh-tokohnya. Dalam Ziarah keterlibatan Tokoh Kita dengan opseter, aparat pemerintah, dan masyarakat sekitarnya menjadikan peristiwa-peristiwa yang terjadi merupakan pengalaman yang dijalani oleh tokoh-tokohnya. Demikian juga dalam Kering dan Kooong nampak jelas keterlibatan antartokoh dalam menghadapi peristiwa-peristiwa keseharian.

Keterlibatan dengan struktur sosial dan institusional juga tampak jelas dalam novel-novel Iwan. Ziarah merupakan novel Iwan yang paling kuat memperlihatkan keterlibatan tokoh-tokohnya dengan struktur sosial dan institusional. Merahnya Merah, Kering, dan Kooong tidak banyak memperlihatkan kerterlibatan tokoh-tokoh-nya dengan struktur sosial dan institusional.

Selanjutnya ketergantungan masyarakat dan kebudayaan pada waktu dan tempat terlihat dalam semua novel Iwan. Namun, yang digambarkan oleh Iwan bukanlah ketergantungan pada waktu dan tempat tertentu, melainkan ketergantungan pada waktu dan tempat yang mendunia. Karena itu, manusia sebenarnya tidak dibatasi oleh ru-ang dan waktu tertentu, bebas melakukan kegiatannya di dunia. Hal ini bisa dilihat dalam hubungan timbal balik antara teori dan praksis. Dalam Ziarah dan Kering diperlihatkan hubungan timbal balik antara teori dan praksis yang dalam kadar tertentu mengu-kuhkan kebebasan manusia terutama dari ruang dan waktu.

Sementara itu, kesadaran relegius dan pararelegius terungkap dalam Merahnya Merah dan Kooong. Dalam Merahnya Merah digambarkan peranan agama Kristen dalam kehidupan beberapa tokohnya, sedang dalam Kooong digambarkan peranan agama Islam dalam kehidupan beberapa tokohnya. Dengan demikian, meskipun novel-novel Iwan bukan novel religius, ihwal relegiositas tersirat juga di dalamnya. Dalam kadar tertentu agama Kristen dan Islam digambarkan memainkan peranan dalam kehidupan tokohnya.

Semua peristiwa dan persoalan yang termasuk enam anthropological constants tersebut dimaksudkan oleh Iwan untuk menunjukkan bahwa tokoh-tokoh dalam novel-novelnya merupakan manusia-manusia biasa yang menjadi simbol manusia pada umumnya. Di sini Iwan hendak mengatakan bahwa manusia selalu menyejarah dan menghadapi berbagai persoalan. Dalam konstelasi dan konteks seperti inilah manusia harus dipahami. Hakikat manusia harus diletakkan dalam konstelasi dan konteks kesejarahan dan persoalan hidup. Dengan demikian, hakikat manusia harus diletakkan pada keberadaan manusia di dunia, bukan pada konsep pra-ada manusia.

Hal tersebut berarti bahwa pencarian hakikat manusia harus di dalam keberadaannya di dunia. Tidak ada definisi pra-ada manusia karena hal ini akan menghilangkan dimensi kesejarahan manusia sekaligus keberadaan manusia di dunia. Keberadaan manusia di dunia di sini merupakan suatu conditio sin quanon bagi hakikat manusia. Itulah sebabnya, hidup manusia dan pergumulan hidup manusia dengan berbagai permasalahan — baik biasa-biasa saja maupun genting — menjadi penting.


Bersambung…

2 Replies to “SASTRA SEBAGAI DULANG RENUNGAN FILOSOFIS (4)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *