8-10 Pentigraf Siwi Dwi Saputro

8. Luka Yang Setara

“11. Kepergianku memberi bekas di keningmu.”

Aku paling suka memainkan rambutmu yang panjang saat-saat aku resah dan kau memelukku, memberi rasa aman yang entah. Engkau paling suka memainkan anak rambut dan bulu-bulu lembut di keningku yang meremang, saat-saat kau kecup.

Luka keduanya setara. Terasa sampai ulu hati. Rambutmu yang panjang tak lagi tergerai, dan tanganku tak sanggup menggapai. Kini kau menggelungnya, menaruhnya tinggi seperti harga dirimu. Semua luka itu tak ada yang semu.

Itu tak seberapa, ternyata. Luka yang kau buat lewat lisanmu lebih menyayat. Seperti kepergianmu yang membekas di mataku, ia juga membekas di keningku, menganga di hatiku. Sungguh menyiksa ketika yang bersembunyi di dalam benak mengajak bertarung dengan suaraku.

SDS. 06.01.2021

9. Aku Wanita Yang Selalu Jatuh Cinta

“234. Wahai kaum hawa, apa geloramu agar aku setiai jalan menanjak di sekeliling rahasia.”

Jangan pernah kau tanya padaku, bagimana cara kau akan menyetiaiku? Pertama tanyakan dulu pada hati dan niatmu, benarkah kamu memilih setia? Lelaki berhidung mancung itu pernah mengumpat dahsyat, katanya wanita adalah makhluk yang paling jahat. Tidak seperti anjing betina yang minta dikasihani hanya ketika birahi, atau burung yang minta dicarikan makan ketika mengerami telurnya, wanita mengikat selamanya.

Masih kata lelaki itu, lelaki lembut yang jantan, lelaki adalah makhluk paling bodoh yang mudah digoda sepotong daging dan rela diterkam seumur hidupnya. Kalau kamu adalah mangsaku yang rela kuterkam seumur hidup dan berkubang di jalanan menanjak disekeliling rahasia yang kupunya, kau bisa apa? Masih berniat untuk setia? Kurasa kau terlalu berhalusinasi dan terjebak di labirin fatamorgana.

Aku wanita yang selalu jatuh cinta dan aku setia. Aku setia pada keputusanku untuk selalu jatuh cinta. Aku mencinta boneka atau juga bunga-bunga dan anak-anak kecil, dimana segala harapmu kau tanamkan di rahimku. Ketahuilah, bahkan ketika kau menolak untuk setia pun, kau telah terjebak untuk menyetiaiku. Kamu bisa melihat aku yang penuh gelora berpindah ke dekapan Adam lain?

SDS. 07.01.2021

10. Lelaki Yang Menunggu Kata Ya Dariku

“138. Bedakan pengingkaran dengan penolakan.”

Dia mengedipkan matanya. Menggenggam tanganku. Aku terpuruk sedemikian rupa. Upayaku untuk ingkar selalu menguras tenaga. Aku sungguh tak pernah bisa menolaknya, dan aku mengingkarinya. Dia hanya perlu sepatah kata ya dariku dan mencium aroma bunga yang menguar dari mulutku.

“Tidak cukupkah tujuh tahun berlalu, untukmu tahu jiwaku?” tanyanya yang membuatku semakin menestapa. Aku masih mengingat semuanya, malam itu dia tergopoh-gopoh menemuiku, melindungiku, memberiku perisai, memberiku pedang dan memberiku cap kerajaan. Aku dibebaskan untuk menjajah hatinya. Menjajah hidupnya. Tapi apa yang kulakukan? Aku tak pernah bisa. Bukan karena aku tak mencintainya, bukan pula karena aku orang baik, tapi semua karena dia terlalu baik.

Alasan yang kukemukan justru membuatnya murka. Dia menuduhku menganggap dia tak cukup layak bagiku. Dia menganggapku telah melakukan penghinaan terhadapnya. Terhadap rasa dan perhatiannya. Menuduhku tak peka. Aku lara. Andai dia tahu yang kurasa. Bukan dia yang tak layak untukku tapi aku yang tak layak buatnya. Lelaki yang telah memerdekakanku dan memberiku kebebasan mutlak, bagaimana aku bisa menolakmu? Aku hanya mengingkarinya. Kenyataan ini yang membuat kita bertahan selama tujuh tahun ini. Kita sama-sama belajar untuk menerima penolakan dan pengingkaran adalah sesuatu yang beda.

SDS. 08.01.2021

Keterangan:
* Kata-kata pembuka yang bertanda petik merupakan “Ujaran-Ujaran Hidup Sang Pujangga,” yakni sebuah kitab kumpulan kata mutiara yang ditulis Nurel Javissyarqi selama 10 tahun (1994-2004), cetakan ke IV, Desember 2020 oleh Penerbit PUstaka puJAngga dan Pustaka Ilalang, Lamongan.

Sebelumnya: https://sastra-indonesia.com/2021/01/6-7-pentigraf-siwi-dwi-saputro/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *