CITRA PEREMPUAN DALAM SASTRA (7)

: Peran Gender, Ruang Domestik, dan Ruang Publik

Djoko Saryono

Salah satu konsekuensi logis yang penting dari integrasi kultural terhadap tradisi adalah penerimaan peran-peran gender perempuan yang sudah ditentukan secara turun-temurun oleh tradisi, sedangkan salah satu konsekuensi logis yang pen­ting dari resistensi kultural terhadap tradisi adalah penolakan peran-peran gender perempuan yang sudah ditetapkan oleh tradisi. Continue reading “CITRA PEREMPUAN DALAM SASTRA (7)”

CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (6)

: Keterpelajaran, Ketradisionalan, dan Kemodernan Perempuan

Djoko Saryono

Keterpelajaran dan keterdidikan perempuan-perempuan golongan menengah dan menengah-atas tersebut membuat mereka tampak memiliki rasionalitas, kesadaran dan daya hidup mandiri, dan sikap kritis terhadap keadaan-kenyataan sekeliling mereka. Dengan modal tersebut, mereka tidak selalu menerima, apalagi mengintegrasikan diri ke dalam keadaan-kenyataan tradisi budaya sekeliling mereka. Continue reading “CITRA PEREMPUAN DALAM FIKSI (6)”

CERITA KECIL DI PEDALAMAN HUJAN

Taufiq Wr. Hidayat *

Sahdan pada tepi sebuah hutan. Ada rumah kayu, halaman bunga. Sebuah sumur tua. Hutan pinus. Dan harum daunan. Gadis kecil berjalan kecil dengan kaki kecil di halaman berbunga yang kecil. Sendirian. Rambutnya yang halus dan ikal dielus angin. Kedua matanya mengerjap bagai bintang kejora. Rumah mungil. Sendiri. Sungai bening. Wangi kembang. Begitulah gadis kecil yang bernama Kembang Sepatu Anwar itu, berlibur di tepi hutan, bersama kedua orangtuanya. Continue reading “CERITA KECIL DI PEDALAMAN HUJAN”

Pantun Melayu: Keindahan dan Perlawanan

Seno Gumira Ajidarma *

Kanon keindahan adalah mitos, yang dilahirkan oleh suatu konotasi ideologis, yang dari waktu ke waktu telah terus-menerus disempurnakan, sehingga menjadi tonggak dalam sejarah sastra yang tidak bisa dihapuskan lagi—dengan suatu dampak sosial, bahwa bentuknya kemudian menjadi standar keindahan. Bagi para penulis yang telanjur beriman kepada suatu keyakinan atas standar tertentu, di dalam standar itulah terdapat ”substansi” atawa ”esensi” sastra, yang secara metaforik sering disebut sebagai ”roh”. Continue reading “Pantun Melayu: Keindahan dan Perlawanan”

Bahasa »