MENGEMBALIKAN NIAT SUCI, XIV: I – CIX

(kpm) Mengembalikan Niat Suci
(Interpretasi puisi Nurel Javissyarqi yang bertitel
“Mengembalikan Niat Suci” dalam “Kitab Para Malaikat”)
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Tahun: 2013, Ukuran: A4
Media: Crayon on Paper

Nurel Javissyarqi *
http://pustakapujangga.com/?p=207

Jalanan pekabutan menidurkan daun-daun, burung terbang tertutup gelap,
isyarat cerecahnya mengikuti musim, di mana bebijian berkembang-biak (XIV: I). Continue reading “MENGEMBALIKAN NIAT SUCI, XIV: I – CIX”

ASRUL SANI: KONSEPTOR SURAT KEPERCAYAANG GELANGGANG

Maman S. Mahayana *

Ketika kita bicara soal Polemik Kebudayaan, serta-merta nama yang segera muncul dalam ingatan kita adalah Sutan Takdir Alisjahbana. Tokoh inilah yang menggelindingkan perdebatan kultural saat bangsa ini dilanda kegandrungan romantisisme. Harapan untuk mendirikan dan merumuskan kebudayaan Indonesia menjadi sebuah keniscayaan yang mengejawantah di dalam perjuangan politik pergerakan dan berbagai gagasan mengenai kebudayaan Indonesia. Nama Alisjahbana lalu menjadi semacam mitos dalam perjuangan kebudayaan. Continue reading “ASRUL SANI: KONSEPTOR SURAT KEPERCAYAANG GELANGGANG”

Tahanan

Goenawan Mohamad
Tempo, 18 Agus 2008

Ketika Mahmoud Darwish meninggal, apa yang kita ingat? Sajak-sajaknya? Atau nasibnya yang seperti nasib Palestina: terkurung, melakukan apa yang dilakukan para tahanan dan dikerjakan para penganggur–yakni mengolah harap? Continue reading “Tahanan”

Jiwa Merdeka

D. Zawawi Imron *
Jawa Pos, 28 Sep 2008

ORANG yang kurang suka membuka sejarah, jarang yang tahu bahwa Proklamasi Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945 bertepatan dengan bulan Ramadan. Tak heran kalau ada yang mengatakan bahwa Ramadan, selain bulan penuh ibadah juga bulan kemerdekaan. Apalagi kalau dihubungkan dengan proses pencerahan diri, puasa adalah perjuangan kemerdekaan bagi tiap pribadi dari belenggu egoisme yang tak pernah mengenal orang lain sebagai saudara dalam kemanusiaan. Continue reading “Jiwa Merdeka”

Menimbang Diponegoro dalam Fiksi

Grathia Pitaloka
Jurnal Nasional, 12 Okt 2008

Bercermin pada realitas masyarakatnya, karya sastra Indonesia juga mengeksplorasi kisah dan perjalanan pahlawan.

Ingatan masyarakat Indonesia mengenai sosok Pangeran Diponegoro boleh jadi kian pudar tergerus roda zaman. Lalu, karena tak ingin tokoh yang dikaguminya hilang tersapu waktu, Remy Sylado mencoba menyegarkan kembali ingatan masyarakat tentang semangat kebangsaan Pangeran Diponegoro melalui novel. “Diponegoro sosok yang sangat menarik. Sekarang ini saya belum pernah menemukan orang yang memiliki rasa kebangsaan seperti dia,” kata Remy kepada Jurnal Nasional, Selasa (7/10). Continue reading “Menimbang Diponegoro dalam Fiksi”

Bahasa »