Jaring Batu

Marhalim Zaini
Cerpen CWI 2006, dalam Antologi Lok Tong

“Betul-betul makan sumpah jaring batu ini, Cuih!” Ludahnya bau pahit kesumat. Tiap hari, bahkan tiap saat. Tiap ia teringat kepala kekasihnya tergolek bagai sebongkah kelapa, teregok-egok dalam gelombang laut Selat Melaka, teregok-egok pula dalam pasang air matanya. Entah telah berapa gantang ludah untuk menyumpah-nyumpah yang tumpah dari mulutnya, di sepanjang beting, sepanjang tepian pantai abrasi, sepanjang hari-hari sesenyap mati. Continue reading “Jaring Batu”

Jalan Simpang Kritik Sastra di Jawa Timur (Juga Indonesia)

Mashuri

“Seorang kritikus sastra adalah seorang sastrawan yang gagal,” demikian pernyataan seorang pesastra Surabaya yang menjadi moderator dalam sebuah bedah buku di TB Gramedia, Delta Plaza, beberapa waktu lalu. Pernyataan itu menerbitkan sebuah tanya sekaligus renungan yang dalam. Apalagi ‘ekologi’ sastra di Jawa Timur terbilang timpang, di mana porsi produk karya tak seimbang dengan kritik sastra. Continue reading “Jalan Simpang Kritik Sastra di Jawa Timur (Juga Indonesia)”

SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI, X: I- XCI

Sekuntum Bunga Revolusi
(Interpretasi puisi Nurel Javissyarqi yang bertitel
“Sekuntum Bunga Revolusi” dalam “Kitab Para Malaikat”)
Karya Lukisan: Andry Deblenk
Tahun: 2013, Ukuran: A4
Media: Crayon on Paper

Nurel Javissyarqi *
http://pustakapujangga.com/?p=215

Sebelum jauh tulisan ini melangkah, ingin menyapamu terlebih dulu;
apakah mimpi perlahan mulai sirna, oleh sorot matahari menempa jiwa,
entah masih ada, malam-malam lembut terjaga alunan sejati rasa (X: I). Continue reading “SEKUNTUM BUNGA REVOLUSI, X: I- XCI”

Lembah Kunang-kunang

Dian Hartati*

1. Nyanyian Alam di Suatu Sore
Sebuah perjalanan. Keberangkatan yang tak pernah direncanakan sebelumnya. Kepergian selalu dimulai petang hari. Tepat ketika matahari memutuskan diri untuk pulang setelah seharian menyinari bumi purba. Tak banyak perbekalan, tas punggung berwarna senja hanya berisikan sebotol air dan satu buah apel segar. Tak ada lagi yang dibawa selain satu senter kecil, korek api, sebuah peta lusuh, dan sebuah syal berwarna putih. Continue reading “Lembah Kunang-kunang”

Bahasa »