Dimuat bersambung di harian Sinar Harapan, edisi 27 Maret-10 Mei 2002
Teguh Winarsho AS
SATU
MALAM dingin. Kersik angin, ranting patah, daun gugur, tetes embun, menimbulkan irama lain di malam pekat itu. Mengalun merdu. Sesekali meliuk-liuk, menukik-nukik bagai belati terlempar di udara subuh tertimpa cahaya lampu. Lalu sunyi. Sunyi itu mengalirkan kenangan masa lalu. Satu persatu peristiwa kemudian saling berdesakan di kelopak mata seperti ingin minta dibaca dan dikenang kembali. Tapi masih adakah waktu untuk mengenangnya lagi? Adakah sebuah tempat yang nyaman untuk sekadar berbagi rasa kepada seorang sahabat, saudara, anak atau istri sembari minum kopi di warung atau teras rumah tanpa dicurigai? Continue reading “Novel Orang-Orang Bertopeng (1)”



