KUDA TROYA CERPEN

Binhad Nurrohmat
Kompas, 1 Jul 2012

Sejak lama diyakini banyak orang, sekurangnya oleh pakar komunikasi Marshall McLuhan, bahwa media merupakan pesan itu sendiri (medium is the message). Keyakinan ini memendam nalar atau dimensi politik tersembunyi atau terang-terangan yang terselenggara juga dalam penciptaan karya seni. Continue reading “KUDA TROYA CERPEN”

Mendamba Organisasi atau Kritik Sastra?

Dhoni Zustiyantoro *
Suara Merdeka, 31/12/2017

JIKA diibaratkan, mencari kritik sastra kita hari ini sama halnya dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Kritik sastra, baik secara kuantitas maupun kualitas, dipastikan menurun karena produktivitas para kritikus berkurang. Dalam sejarah sastra Indonesia, nyaris hanya HB Jassin yang tertabalkan sebagai penggawa kritik sastra. Kini, alih-alih mencari kritik sastra di media massa, kita justru acap disodori analisis mengenai sebab-sebab ketiadaan dan bukan kehadiran kritik sastra itu sendiri. Continue reading “Mendamba Organisasi atau Kritik Sastra?”

Sutan Sjahrir: Etos Politik dan Jiwa Klasik

Orasi mengenang Sutan Sjahrir, 8 April 2006, TIM, Jakarta
Ignas Kleden

Dalam dua pucuk suratnya yang ditulis dari penjara Cipinang dan dari tempat pembuangan di Boven Digoel, Sjahrir mengutip sepenggal sajak penyair Jerman, Friedrich Schiller. Dalam teks aslinya kutipan itu berbunyi: und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein— yang maknanya: hidup yang tak dipertaruhkan, tak akan pernah dimenangkan. Menurut pengakuannya, kalimat-kalimat yang indah itu dikutipnya dari luar kepala, jadi kita dapat menduga petikan tersebut sangat disukainya dan besar artinya buat hidupnya. Continue reading “Sutan Sjahrir: Etos Politik dan Jiwa Klasik”

“AKU YANG BERKAOS OBLONG”: MENYINGGUNG PERASAAN ORANG KARENA MISKIN

Hasnan Bachtiar
kataitukata.wordpress.com

Hai sobat pembaca. Aku hanyalah aku, orang biasa yang punya hak untuk mengungkapkan segala hal yang pernah kualami. Kesakitan, kepedihan, penderitaan, malu, hingga apa yang kurasakan sebagai kebahagiaan.

Sebagai pekerja serabutan, tentu saja gajiku kecil (hanya 1 juta, seratus ribu rupiah). Hampir mustahil untuk membiayai seluruh keluargaku dengan cara hidup yang standar (semua tersedia). Mungkin cukup untuk membeli beras, kerupuk, gas, membayar listrik, menabung untuk menyewa rumah, dan membayar uang sekolah anak-anak yang kuasuh. Selebihnya, tidak ada. Sudah habis. Bahkan untuk mengurus diriku sendiri. Continue reading ““AKU YANG BERKAOS OBLONG”: MENYINGGUNG PERASAAN ORANG KARENA MISKIN”

Bahasa »