Menjadi Jawa dalam Hibriditas Budaya

Yusri Fajar
jiwasusastra.wordpress.com

Suatu hari ada seorang politisi yang dinilai ‘melecehkan’ etnis tertentu. Politisi yang mulai dikenal dengan gaya santun ini, tiba-tiba tampak sedikit emosional ketika berdebat di Televisi. Kesantunan yang oleh beberapa pengamat dinilai sebagai upaya untuk melakukan ‘penetrasi’ ke lingkaran hegemoni politik Jawa dalam partai dimana dia berada, tiba-tiba berubah menjadi ungkapan kemarahan yang bersifat menyerang, mirip ‘preman’. Continue reading “Menjadi Jawa dalam Hibriditas Budaya”

MEMBACA PENELITIAN MELALUI NOVEL

Misbahus Surur *
Jawa Pos, 22 Jan 2017

Kalamata adalah jenis novel yang dikerjakan secara “tidak biasa”. Berkisah tentang pengalaman Made (mirip nama penulisnya), saat diminta sahabatnya, Irana, menuliskan biografi perempuan tokoh seni sekaa dalang, Ni Rumyig. Penulisan biografi ini tak mudah dilakukan, tersebab si tokoh—yang sejarah hidupnya hendak ditulis—disambangi demensia (jenis penyakit gangguan ingatan). Continue reading “MEMBACA PENELITIAN MELALUI NOVEL”

Menulis Puisi: Mudah Tapi Susah

Aditya Ardi N *
adityaan.wordpress.com

“Seniman lebih primitif dan sekaligus
lebih beradab daripada orang-orang sezamannya” (TS.Eliot).

Selama ini kita telah mengenal sosok utama dalam peta perpuisian indonesia, melalui Amir Hamzah, Chairil Anwar, Sutardji, Rendra, Goenawan Mohamad, Sapardi, hingga Afrizal Malna. Sejarah mencatat mereka sebagai penyair garda depan indonesia. Kemudian disusul nama-nama seperti Wiji Thukul yang getol menyuarakan perlawanan kaum buruh dalam puisinya. Continue reading “Menulis Puisi: Mudah Tapi Susah”

IMAJINASI AGAMA DAN MASYARAKAT SASTRAWI

Fauzi Sukri
100tahunhbjassin.wordpress.com

/1/
Pada sesuatu hari yang biasa namun juga luar biasa, sekitar Agustus 1968, terjadilah sejenis musyawarah di antara para pensiunan-nabi di Sorgaloka. Dari musyawarah itu, akhirnya mereka memutuskan membuat petisi (hanya permohonan dan bukan menuntut) kepada Tuhan agar mereka diberi cuti bergilir sebagai pensiunan-nabi dan turun turba ke bumi kembali yang pada tahun-tahun itu semakin ramai dan gaduh terkhusus di Jakarta—ingat geger 1965 yang belum selesai atau malah baru dimulai dan merembet di berbagai daerah. Continue reading “IMAJINASI AGAMA DAN MASYARAKAT SASTRAWI”

IQRA’ JASSIN

Mutimmatun Nadhifah *

Untuk membuktikan tidak ada terjemahan yang radikal dalam Bacaan Mulia sebagaimana dulu pernah dituliskan Peter G. Riddell dan beberapa intelektual lain, kita bisa membuktikan dari terjemahan wahyu pertama yang diturunkan kepada Muhammad: iqra’. Jassin menerjemahkan ayat pertama surat al-‘Alaq dengan tetap menggunakan frasa yang biasa digunakan oleh kebanyakan ahli tafsir dan penerjemah Alquran di Indonesia. Continue reading “IQRA’ JASSIN”

Bahasa »