Yusri Fajar
jiwasusastra.wordpress.com
Suatu hari ada seorang politisi yang dinilai ‘melecehkan’ etnis tertentu. Politisi yang mulai dikenal dengan gaya santun ini, tiba-tiba tampak sedikit emosional ketika berdebat di Televisi. Kesantunan yang oleh beberapa pengamat dinilai sebagai upaya untuk melakukan ‘penetrasi’ ke lingkaran hegemoni politik Jawa dalam partai dimana dia berada, tiba-tiba berubah menjadi ungkapan kemarahan yang bersifat menyerang, mirip ‘preman’. Continue reading “Menjadi Jawa dalam Hibriditas Budaya”
