Sastrawan Narsis

Anwar Noeris *
Minggu Paagi, Okt 2014

Belakangan ini sepertinya karya sastra sedang meletus dan kepingan-kepingannya berhamburan ke media-media, baik media online maupun media cetak, dengan begitu mudahnya kita dapat menjumpai karya sastra dan membacanya. Perkembangan zaman dan tegnologi telah begitu dirasa majunya. Kita dengan begitu mudah mempublikasikan karya kita di media kemudian dengan mudah pula dapat dibaca oleh masyarakat luas. Continue reading “Sastrawan Narsis”

Catatan Perjalanan ke Jogja: Untuk Tuban yang Kurang Akrab Terhadap Literasi

Zubaidi Khan *
tubanliterasi.com 15 Sep 2017

Jambore Mojok —sebuah kegiatan yang diadakan oleh Mojok.co beberapa waktu lalu— itulah yang menjadi alasan utama saya pergi ke Jogja. Adapun kegiatan-kegiatan lain yang saya lakukan diluar Jambore Mojok, merupakan bonus. Namun meskipun begitu, bonus juga tak kalah seru dengan misi utama saya. Mengapa demikian? Karena masih berada di Jogja. Bagi saya, sejauh ini, semua kegiatan itu belum familiar di Tuban. Maksud saya tentu tentang dunia literasi, seputar tulis menulis. Continue reading “Catatan Perjalanan ke Jogja: Untuk Tuban yang Kurang Akrab Terhadap Literasi”

Sastra dan Ruang Publik

Alunk S Tohank *
republika.co.id 28 Okt 2014

Ada sebuah pertanyaan yang sangat menyentuh dari seorang pengamat politik pada acara diskusi sastra, Ahad, 19 Oktober 2014, di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta. “Di manakah peran sastra dan sastrawan terhadap ruang publik?” Bukankah sering kita dengar John F Kennedy mengatakan, “Jika politik bengkok, puisi akan meluruskannya.” Tapi, apakah pada kali ini puisi telah meluruskan politik itu sendiri atau jangan-jangan tidak mempunyai pengaruh apa-apa? Continue reading “Sastra dan Ruang Publik”

Mendedah Sastra dan Difabel

Shohebul Umam JR *
Minggu Pagi 07/10/2016

Sebagai sebuah karya yang adiluhung, karya sastra merupakan satu entitas yang demikian kompleks. Karya sastra menjadi kenyataan yang demikian subtil karena ia tidak berdiri secara otonom samasekali, ia tidak tercerabut dari realitas-realitas di luar dirinya, realitas sosial tentunya. Sejauh ini karya sastra galib disadari sebagai karya yang memuat saban peristiwa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, Continue reading “Mendedah Sastra dan Difabel”

Di Hadapan Penyair dan Sejarahnya

Anwar Noeris *
Riau Pos, 29 Mar 2015

Sisi baik dari penyair adalah sadar diri bahwa proses penciptaan puisi bukan lantaran pekerjaan yang menjadikan subyek memiliki profesi tetap dengan penghasilan ekonomi tetap. Dalam kasus ini baiknya puisi kita kembalikan pada hakikatnya: yaitu proses mencari.

Semangat modernisme pada perkembangan kesusastraan mutakhir yang diawali pesatnya ilmu pengetahuan memiliki pengaruh besar dalam perubahan dan perkembangan masyarakat. Tidak bisa dipungkiri pergeseran nilai dan cara pikir masyarakat pada kesusastraan turut berkembang. Khususnya Indonesia. Pada dekade kali ini, industrialisasi perbukuan kita semakin hari semakin pesat, beberapa buku dalam setahun yang telah terbit, berapa puisi dan esai-esai kesusastraan yang telah masuk daftar editor dan penerbit? Continue reading “Di Hadapan Penyair dan Sejarahnya”

Bahasa »