Jejak 1965: Identitas Keindonesiaan Sastrawan Eksil

Munawir Aziz *
Kompas, 16 Feb 2014

Kisah politik Indonesia dalam narasi September-Oktober, 48 tahun yang lalu, masih berdampak pada gelanggang sastra masa kini. Tidak hanya pada ranah ideologi, antara pendukung Lekra dan Manikebu, tetapi juga pada sastrawan eksil yang terkena dampak tragedi politik 1965. Kisah-kisah tentang sastrawan yang menempuh studi di luar negeri, mayoritas di negeri-negeri Balkan, menjadi narasi penting tentang pertumbuhan sastra Indonesia. Mereka yang menjadi eksil masih menyimpan harapan untuk pulang ke negeri asal. Imaji dan narasi keindonesiaan sastrawan eksil berkontribusi penting untuk merawat identitas kebangsaan dalam sastra Indonesia masa kini. Continue reading “Jejak 1965: Identitas Keindonesiaan Sastrawan Eksil”

Dari Nietzsche dan Nihilisme ke Wacana Autosuperamento

(Analisis Semantis Puisi-puisi Kristo Suhardi)
Hans Hayon *
Flores Pos, 22-23 April 2014

Mengenal Kristo Suhardi
Kristo Suhardi (Lahir di Ruteng, 2 Mei 1988) menaruh minat pada dunia sastra semenjak belajar di Seminari Menengah Pius XII Kisol, Manggarai Timur (2001-2007). Setelah menamatkan Sekolah Menengah Atas, ia lalu belajar filsafat di STFK Ledalero (2009-2013). Selain menulis puisi, ia juga gemar menulis cerpen dan membuat beberapa tafsiran singkat filosofis atas beberapa karya sastra. Continue reading “Dari Nietzsche dan Nihilisme ke Wacana Autosuperamento”

Pemeduli Sastrawan dan Sastra Indonesia Warna Daerah NTT

AG Hadzarmawit Netti
kupang.tribunnews.com

Catatan Pengantar
Judul tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengkultusindividukan seorang yang bernama Yohanes Sehandi, yang bekerja sebagai dosen tetap pada Universitas Flores di Ende; yang mengasuh Mata Kuliah Teori Sastra, Menulis Artikel, Retorika, Keterampilan Menulis, dan Ilmu Sosial dan Budaya Dasar pada Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Flores. Continue reading “Pemeduli Sastrawan dan Sastra Indonesia Warna Daerah NTT”

Selamat Datang Kritikus Sastra NTT

Yohanes Sehandi *
Flores Pos (Ende), 15 Okt 2012

“NTT butuh kritikus untuk pengembangan seni dan budaya.” Pernyataan ini merupakan benang merah pendapat tiga orang sastrawan/budayawan Indonesia, Putu Wijaya, Radhar Panca Dahana, dan Gerson Poyk pada waktu ketiganya tampil dalam “Seminar Nasional Seni Budaya dan Pembangunan” yang diselenggarakan Komunitas Rumah Poetika di Taman Budaya NTT, Kupang pada 11 April 2012 yang lalu (Victory News, 12 dan 13 April 2012). Continue reading “Selamat Datang Kritikus Sastra NTT”

Seorang Hujan

Afrizal Malna

AKU ingin hidup dalam tubuh seseorang, dalam kenyataan orang lain. Aku tahu itu tidak mungkin. Aku tahu itu sebuah dusta yang berusaha aku buat untuk diriku sendiri. Dusta murahan yang membuat manusia menjadi bahan olok-olok di dapur rumahnya sendiri. Suara panci, piring, gelas dan sendok yang menjadi gaduh. Continue reading “Seorang Hujan”

Bahasa »