Fenomena Sastra Kembar Siam

Maria M Bhoernomo
Suara Karya, 28 Des 2013

SEJUMLAH teks sastra Indonesia yang dipublikasikan di sejumlah media beberapa tahun terakhir ini mirip bayi kembar siam. Misalnya, puisi-puisi yang prosais dan cerpen-cerpen yang puitis yang makin banyak mewarnai rubrik-rubrik sastra di media cetak. Dan sebagaimana bayi kembar siam, banyak yang menganggapnya sebagai kelainan atau tidak normal. Continue reading “Fenomena Sastra Kembar Siam”

Melawan Malin Kundang

Mohammad Fadlul Rahman *
Suara Karya, 28 Des 2013

“BANGUNLAH, bangkitlah, kesaksian harus diberikan, supaya kebenaran terjaga”, demikian petikan sajak si Burung Merak WS Rendra. Sajak ini menunjukkan suatu ajakan kepada segenap komponen bangsa agar tetap menyalakan api atau semangat perjuangan dimana saja dan dalam keadaan apapun juga. Perjuangan tidak boleh meredup, temaram, apalagi sampai padam. Continue reading “Melawan Malin Kundang”

Desakralisasi Kata-kata dalam “Mantra Pejinak Ular”

Darwin *
Riau Pos, 29 Des 2013

SIHIR kata-kata adalah kekuatan para sastrawan. Di tangan seorang sastrawan, daya pikat kata adalah unsur terpenting dalam karya sastra, baik itu prosa maupun puisi. Kata-kata biasa bisa menjadi ‘berbunga’ di ujung pena seorang sastrawan. Kata-kata yang basi di mulut politisi, bisa menjadi berisi dalam setiap ucap para sastrawan. Itulah yang dilakukan oleh Sutardji Calzoum Bachri yang populer dengan ‘’puisi mantranya’’. Atau, di seberang lain ada Ayu Utami dengan teknik komposisinya. Tentunya tidak ketinggalan Chairil Anwar dengan permainan diksinya yang sulit mencari pembandingnya di zaman Twitter saat ini. Masih banyak lagi para ‘pemain kata’ yang tidak bisa semuanya disebutkan namanya di sini. Continue reading “Desakralisasi Kata-kata dalam “Mantra Pejinak Ular””

Menerawang Nasib Sastra Indonesia

Den Rasyidi *
Lampung Post, 1 Des 2013

Di Indonesia nasib sastra miris dan nyaris mati, bahkan sastrawan sulit untuk dihormati. Padahal, jauh di Negeri Persia, sastrawan satu tingkat di bawah Ilahi, karya-karyanya satu tingkat di bawah Alquran.

SAMPAI detik ini sastra semakin tak berarti di dunia akademi Indonesia. Sastra seakan tak punya gaung dan taring yang tajam untuk unjuk gigi ke permukaan, seakan tak punya makna dan nilai sosial, alhasil sastra mudah disingkirkan. Continue reading “Menerawang Nasib Sastra Indonesia”

Bahasa »