Menatap Potret Lama, Mencari Keindahan

Sirdjanul Ghufron *

“Anto dan Tono tinggal di kampung tak jauh dari pantai. Orang tua mereka bekerja sebagai pencari ikan. Pada usia 10 tahun, karena tertarik dengan profesi orang tuanya seorang pencari ikan, mereka ingin belajar berenang. Maka datanglah ke dua anak tersebut kepada Andi, pada saat mereka bersama-sama mandi di sungai serta meminta Andi untuk mengajarinya berenang. Mereka ingin belajar berenang dan menyelam di sungai, agar mampu bekerja seperti ayahnya. Maka mulailah belajar atas bimbingan Andi, yang 5 tahun lebih tua dari mereka. Dengan berpegangan pada tangan Andi, mereka belajar secara bergantian. Continue reading “Menatap Potret Lama, Mencari Keindahan”

Komentar Pramoedya Ananta Toer dan Hadiah Nobel

Z. Afif

Seingat saya pada tahun 1991 di Swedia terbit terjemahan Bumi Manusia Pramudya Ananta Toer dalam bahasa Swedia. Penterjemahnya seorang wanita keturunan Belanda kelahiran Surabaya dan menetap di Swedia. Dia adalah ibu kandung pengarang novel dan drama Agneta Pleijel, seorang Profesor bidang sastra dan filsafat. Ketika itu dia menjadi Ketua Pen-Club Swedia. Saat itu sastrawati Marianne Katoppo datang ke Swedia dan bertemu juga dengan Rondang Erlina Marpaung, mantan wartawan Sulindo dan salah seorang redaktur Berita Minggu di Jakarta sebelum kudeta militer atas pemerintah Sukarno. Marianne teman baik Agneta. Continue reading “Komentar Pramoedya Ananta Toer dan Hadiah Nobel”

Mengenal Alice Munro, Peraih Nobel Sastra 2013

Isyana Artharini
id.berita.yahoo.com

Kolumnis dan editor Roxane Gay, lewat akun Twitter-nya, mengatakan ada myopia budaya yang sering menyertai pemberian Nobel Sastra. Bahwa setiap kali penerima penghargaan bergengsi itu diumumkan, ada ketidaktahuan akan siapa sastrawan yang tahun itu dipastikan menerima Nobel. Namun, ketika nama Alice Munro diumumkan sebagai penerima Nobel Sastra 2013, bukan kebingungan yang muncul, melainkan rasa bahagia yang merata. Continue reading “Mengenal Alice Munro, Peraih Nobel Sastra 2013”

Bahasa »