Cinta dalam Religiusitas Gus Mus

Munawir Aziz *
Suara Karya, 9 Nov 2013

MEMBACA sajak-sajak KH Musthofa Bisri (Gus Mus) adalah seperti menyelam dalam kejernihan batin. Sajak-sajak Gus Mus merefleksikan kedalaman jiwa, olah rasa dan refleksi atas kondisi sosial yang jadi sengkarut hidup umat manusia. Sajak Gus Mus sering dianggap “balsem”, dapat menyengat untuk menawarkan panas di tubuh dan telinga, sekaligus mencipta ketenangan. Continue reading “Cinta dalam Religiusitas Gus Mus”

Anjung Seni Idrus Tintin, Nasibmu Kini?

Zuarman Ahmad *
Riau Pos, 3 Nov 2013

ADA satu nama yang mengabadikan nama Ediruslan, yakni Kampus Akademi Kesenian Melayu Riau Ediruslan Pe Amanriza, di komplek Bandar Serai. Sekarang akademi itu naik statusnya menjadi Sekolah Tinggi Seni Riau (STSR) yang beralih kelola dari Yayasan Pusaka Riau ke Yayasan Sagang. Apakah nama kampus itu masih memakai nama Ediruslan? Jawabnya adalah tidak. Kenapa? Karena gedung itu sudah rata dengan tanah. Continue reading “Anjung Seni Idrus Tintin, Nasibmu Kini?”

Paradoks

Kasnadi *

Dalam Tesaurus Bahasa Indonesia “paradoks” mengandung makna konflik, kontradiksi, inkonsistensi, pertentangan, polaritas. Berdasarkan makna tersebut -jika kita mau merenung sejenak- perilaku kita sehari-hari, banyak yang masuk dalam lingkup paradoks. Kita ingin kaya, tetapi tidak mau bekerja. Kita suka menjadi orang sukses tetapi malas berusaha. Kita senang prestasi, tetapi tak pernah mencari. Kita suka kualitas, tetapi lebih suka jalan pintas. Kita sering berjanji, tetapi kita lebih sering mengingkari. Kita cintai damai, nyatanya lebih suka membantai. Continue reading “Paradoks”

Arus Balik Nusantara: Pram, Pengagum Kemanusiaan

Arie MP Tamba
Jurnal Nasional, 3 Nov 2013

‘Saya pegang ajaran Multatuli bahwa kewajiban manusia adalah menjadi manusia.‘ (Pramudya Ananta Toer, Tempo, 1999)

KETIKA Alice Munro, cerpenis Kanada yang piawai mengolah dan mengurai “jiwa perempuan” sampai ke sela-sela terdalamnya, dan menampilkannya ke permukaan dalam untaian cerita bergaya realis yang memukau menyabet Nobel Sastra 2013, seorang penulis di dunia maya menulis, “Saya suka, tapi saya tetap menjagokan Pramudya Ananta Toer.” Suatu pernyataan yang bagi saya “membangunkan” pertanyaan dan mengingatkan saya pada sebuah tulisan tentang karya Pram, Arus Balik. Continue reading “Arus Balik Nusantara: Pram, Pengagum Kemanusiaan”

Bahasa »