Kudeta Kritik Seni

Binhad Nurrohmat
Kompas, 23 Jan 2011

AMATIRISME ritik seni dari khalayak awam yang kian subur konon lantaran hawa segar demokratisasi pembacaan, itu tampaknya lebih bertendensi merebut agenda politis ketimbang meraih agenda estetis. Demokratisasi merupakan ide politik, bukan? Amatirisme kritik seni semacam itu oleh Walter Benjamin disinyalir sebagai oknum peruntuh aura seni. Continue reading “Kudeta Kritik Seni”

Paradigma Baru Majalah Sagang

Hary B Kori’un
Riau Pos, 30 Jan 2011

TEROBOSAN baru dilakukan Majalah Budaya Sagang. Memasuki usia tahun ke-13, Sagang melakukan terobosan dalam beberapa hal. Yang pertama adalah perubahan desain sampul dan isi, yang sudah dilakukan sejak edisi Oktober 2010 (N0 147). Ada perbedaan signifikan dibanding edisi-edisi sebelumnya dalam hal tata letak, termasuk pemilihan font (jenis huruf). Jika sebelumnya memakai huruf tradisional dan standar, yakni Time News Roman, kini huruf Georgia yang dipakai. Continue reading “Paradigma Baru Majalah Sagang”

PRT yang Tak Seindah Novelnya

Indra Tranggono
Kompas, 15 Jan 2011

IYEM, Turah, Karti, Bejo, Darman, Lasimin, atau siapa saja nama yang umumnya dimiliki pekerja rumah tangga itu selalu dikenang dengan penuh rasa kehilangan justru ketika mereka tidak ada. Misalnya ketika mereka mudik Lebaran.

Para Tuan dan Puan—keluarga menengah dan atas yang mempekerjakan mereka—pun akan pontang-panting mengatasi persoalan domestik: dari mencuci, menyapu, belanja, memasak, hingga soal tetek bengek lainnya. Continue reading “PRT yang Tak Seindah Novelnya”

H.B. JASSIN DAN DOKUMENTASI SASTRA INDONESIA

Soni Farid Maulana
Pikiran Rakyat, 18 Juni 2010.

Tumbuh dan berkembangnya sastra Indonesia pada satu sisi, tidak lepas dari peran H.B. Jassin, yang pada zamannya menempatkan diri sebagai kritikus sastra. Apa yang ditulis, H.B. Jassin saat memberikan ulasan terhadap apa yang telah dibacanya itu, sebagaimana dikatakan novelis Mochtar Lubis dalam buku H.B. Jassin 70 Tahun (1987) tidak membunuh, melainkan memberikan motivasi. Tujuannya adalah, agar di kemudian hari, sastrawan yang diulas karyanya itu bisa menulis lebih baik lagi. Continue reading “H.B. JASSIN DAN DOKUMENTASI SASTRA INDONESIA”

Bahasa »