Catatan Perjalanan dan Kesunyian di Makam Sunan Drajat (VI)

Muhammad Yasir

Pada masa pendidikan lanjutan, aku pernah melempar seorang guru agama dengan sepatu. Bukan tanpa sebab. Belum semua kripik pisang laku terjual – untuk tetap bertahan hidup, Mamakku membuat kripik pisang untuk kujajakan di sekolah, dan keuntungannya yang tidak semahal hotel berbintang tiga untuk seorang perwakilan rakyat dan keluarganya! Perutku yang kurus mulai menuntut kewajibanku merawatnya. Baru saja aku hendak masuk ke kelas-kelas untuk menjajakan, bel sekolah berbunyi tanda pelajaran selanjutnya. Continue reading “Catatan Perjalanan dan Kesunyian di Makam Sunan Drajat (VI)”

Catatan Perjalanan dan Kesunyian di Makam Sunan Giri (V)

Muhammad Yasir

Aku pernah memelihara seekor anjing kampung, anjing pemburu, yang tidak perlu diperdebatkan kehandalannya. Semula, anjing itu milik seorang pemburu tua di tanah-airku. Karena melihat aku kerap memberi makan anjing itu, pemburu tua itu memberikannya padaku. Dan, dalam waktu tidak lebih dari dua bulan, aku menjadi anjing itu, pun sebaliknya. Kami menjadi akrab dan sukar dipisahkan. Continue reading “Catatan Perjalanan dan Kesunyian di Makam Sunan Giri (V)”

MERDEKA BERTUALANG

Aprinus Salam *

Yang saya bayangkan dengan merdeka bertualang sebenarnya setara dengan merdeka belajar. Merdeka belajar adalah satu paradigma melakukan hal belajar secara merdeka. Kebebasan, kemandirian, dan ketidakbergantungan hal apapun untuk belajar apapun.

Termasuk hal belajar di sini tentu saja merdeka untuk tahu, merdeka berpikir, merdeka memilih, merdeka berpendapat, merdeka berkeyakinan, merdeka melakukan berbagai aktifitas sebagai implikasi merdeka belajar. Continue reading “MERDEKA BERTUALANG”

Ilham

Fatah Yasin Noor *

Mencari ilham di rumah seniman patung, tadi malam. Tapi celaka, tak kutemukan patung sama sekali. Saya memang tidak ingin melihat patung, tapi mencari ilham. Saya pikir semua seniman patung pastilah punya karya patung di rumahnya. Perkiraan saya keliru. Seniman patung itu tak lain dan tak bukan adalah Saham Sugiono. Ia sering mematung di luar rumahnya. Seniman patung yang juga piawai melukis dan sesekali menulis puisi di percakapan grup dan di facebook. Menyebut namanya karena ia teman saya yang diselimuti kabut mistis. Ia tinggal dekat Balai Tajug, petilasan Buyut Cungking. Tapi di sini saya tak bermaksud membicarakan Saham Sugiono. Saya ingin mengulik tentang ilham. Continue reading “Ilham”

Bahasa ยป