Akhudiat, Sang Dramawan yang Penyair

Aming Aminoedhin Continue reading “AKHUDIAT dan SKOLAH SKANDAL”
Cangel
Akhudiat, Sang Dramawan yang Penyair

Aming Aminoedhin Continue reading “AKHUDIAT dan SKOLAH SKANDAL”
Taufiq Wr. Hidayat *
Pada suatu petang, jalanan itu telah ditinggal pergi sang penyair. Bersama tasnya yang kumal. Celana, baju kusut. Rambut yang panjang yang tak pernah dipotong atau diatur oleh kekuasaan. Ia pergi. Akan ke mana. Entah. Lampu-lampu. Dan bunga-bunga ungu merekah. Langkah demi langkah. Kemudian tak tahu lagi ke mana langkah akan dibawa, meninggalkan luka hati, dan kerinduan panjang yang tak terjelaskan. Continue reading “PENYAIR MATJALUT”
Muhammad Yasir
Entah berapa kali lonceng gereja yang berjarak dua ratus kaki dari toko buku kami itu berbunyi dalam sejam. Setiap pagi, siang, dan sore dari beranda rumah atau ruang kerjaku di dalam toko, bunyinya terdengar begitu jelas dan setiap bunyi memiliki nada dan pesan yang berbeda-beda yang sukar kuterka. Pada hari kematian nenek dan bibi, bunyinya seperti mengatakan: “Kau adalah kesedihan dan pesakitan. Jalanmu akan panjang, hingga berujung penyerahan diri!” Continue reading “Tidak Ada yang Bisa Kuceritakan Kepadamu Selain Kesedihan dan Pesakitan”
Taufiq Wr. Hidayat *
Dialah seorang kiai dengan ilmu-ilmu agama yang mumpuni. Penguasaannya pada ilmu-ilmu agama Islam tak diragukan, menjadi rujukan banyak orang perihal masalah-masalah keagamaan. Tapi kiai ini punya selera humor yang tinggi, tak segan tertawa terbahak, hari ini mirip Kiai Fadhol Umbulsari, Wongsorejo. Sedikit saja humor sudah membuatnya tertawa. kalau berbicara, wajahnya tampak seakan-akan menahan tawa atau tampak selalu tersenyum. Sangat cair. Dan mengasikkan. Continue reading “KIAI YANG TERTAWA”
Muhammad Yasir
Ini pagi yang ramai! Orang-orang senja usia, lelaki dan perempuan, tampak menguasai jalan utama gang tempat kami tinggal, di jantung Surabaya bagian Barat. Aku tertarik mengamati setiap gerak orang-orang senja usia ini, karena bukan sejengkal maut dari mata mereka yang terbatas itu yang menjadi soal, tetapi bagaimana cara mereka akan dimatikan Allah. Aku tidak memiliki keberanian untuk meremehkan mereka. Tentu saja, orang-orang senja usia adalah pemikir bisu yang hidup penuh dengan pertimbangan. Continue reading “Catatan Perjalanan dan Tetangga di Sebelah Toko (VII)”