Kisah Pemburu Cinta

S. Jai

INI malam ke ribuan kali. Orang-orang tua itu menghajar mejanya dengan kartu. Bukan untuk mengenang masa silam yang kelam karena matanya, pikirannya cuma tertahan pada angka enam. Kakek-nenek itu tanpa bosan membariskan domino melukis totol macan. Tiada yang diacuhkan. Yang penting malam berlalu tanpa harus tahu untuk apa sebenarnya melaju. Continue reading “Kisah Pemburu Cinta”

HAH

AS Sumbawi

Hah. Aku tersentak. Bangun dari tidur. Buru-buru kuraba dada. Hah. Tanganku berlumuran darah. Ternyata bukan hanya mimpi. Benar. Aduh, bagaimana ini?! kataku sendiri. Pikiranku kelam mendung. Bingung.

Kulihat jendela terbuka dengan tirai yang tak tergerai. Sinar rembulan menerobos ke dalam kamar. Sementara udara terasa cukup dingin. Continue reading “HAH”

Foto Ibu

Ratih Kumala
cetak.kompas.com

Sudah kupikir masak-masak; jika aku kelak membuat tato, maka tato itu adalah wajah ibuku. Akan kuukir di kulit punggungku, lebih tepatnya lagi di bagian tengah punggung agar tak kelihatan jika aku memakai baju berpunggung agak rendah, atau kaos yang terlalu tinggi potongan pinggangnya, atau baju renang. Aku tak ingin ibuku melihatnya. Continue reading “Foto Ibu”

Beringin Cinta

Joni Ariadinata
Batam Pos 09/07/2003

Langit menepi. Malam pasti basah. Suara sirine melengking dalam jauh: lamat, dan menyakitkan. Irene memindahkan chanel televisi, berisik, berpindah-pindah; lalu ia matikan. Klik. Sepi. Beranjak ke kamar, melihat kaca: tak ada senyum. Bunga kacapiring di luar jendela bergoyang-goyang. Malam pasti basah. Malam pasti…“Irene. Irene. Irene…” Continue reading “Beringin Cinta”

Telaga Lara atau Hikayat Kesetiaan

Teguh Winarsho A.S.
lampungpost.com

SETIAP malam perempuan itu menangis di tengah lapangan. Ia menangis ketika orang-orang sudah lelap tidur. Ketika kampung telah menjadi begitu senyap seperti liang kubur. Suara tangis perempuan itu terdengar keras, melengking, seperti leher angsa digorok. Seperti denyit roda kereta api saat berhenti mendadak. Pekak, ngilu, menyayat, menggetarkan tubuh, membuat hatimu teriris-iris. Perempuan itu terus menangis hingga subuh datang bersama kabut. Bersama embun dan daun gugur. Lalu, sebelum matahari benar-benar rekah perempuan itu tiba-tiba lenyap. Continue reading “Telaga Lara atau Hikayat Kesetiaan”

Bahasa »