Sosialisme dari Tepi Sungai Elbe

Ignas Kleden *
Kompas, 6 Juli 1996

HARI itu tanggal 23 Juni 1996, dua hari setelah awal musim panas yang di Eropa selalu dimulai pada 21 Juni. Suhu masih pada 10 hingga 12 derajat Celsius, meski pun dalam keadaan normal suhu biasanya sudah di atas 30 derajat C. Setelah melewatkan seminggu konferensi European Collogium on Indonesian and Malay Studies ke-10 yang amat padat-acara di Universitas Humboldt, Berlin, (17 – 22 Juni 1996), para peserta membuat acara sendiri untuk mengisi waktu senggang mereka, sebelum kembali ke tanah air masing-masing: Australia, Inggris, Italia, Rusia, Belanda, Malaysia, Jerman, Swis dan Indonesia. Continue reading “Sosialisme dari Tepi Sungai Elbe”

PENGKHIANAT SEBELUM INDONESIA

Aprinus Salam *

Anggaplah keberadaan Indonesia mulai disepakati pada Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Bisa juga lebih awal sedikit pada masa kebangkitan nasional 20 Mei 1908, walau baru bersifat kesepakatan beberapa organisasi baik atas nama agama atau sosial-ekonomi.

Pada masa sebelumnya, belum ada kesepatakan yang secara eksplisit mengatasnamakan bangsa Indonesia. Bahkan sebagian masih menyebutnya sebagai wilayah atau kerajaan di Jawa, Sumatra, dan sebagainya. Continue reading “PENGKHIANAT SEBELUM INDONESIA”

KREATIVITAS PERSONAL DAN KREATIVITAS KOLEKTIF

(Jangan “Bermain-Main” dengan Main-Main A.S Laksana)

Dwi Pranoto *

Tulisan Wicaksono Adi yang diposting hari ini di status facebooknya; Karya, Nama, Media (Main-Main A.S Laksana); mungkin membuat A.S Laksana manggut-manggut setuju. (Apalagi dengan komentar Juru Baca yang menyatakan A.S Laksana “terlalu besar” untuk sastra nasional). Tinjauan Wicaksono Adi tampaknya mau melampaui pembahasan umum, dipicu oleh “Pengakuan Terbuka” A.S Laksana, yang berkisar antara plagiarisme dan pengujian. Continue reading “KREATIVITAS PERSONAL DAN KREATIVITAS KOLEKTIF”

KEKUASAAN, DIALOG, KECANTIKAN

Taufiq Wr. Hidayat *

Penguasaan mencengkeram sampai pada yang privat. Kecantikan yang privat, pada wilayah yang publik dikontrol kekuasaan. Tetapi kecantikan—bagi Maxim Gorky, bukan sebagaimana ajaran iklan kosmetik. Bukan tubuh yang diciptakan sabun, sampo, pemutih ketiak, lulur, bedak, obat pelangsing dan penyubur payudara. Bukan busana yang dibentuk modal kapital sebagai “mode-mode tahayul” guna mengontrol kaum hawa dalam menentukan kecantikan dirinya. Namun ke-bunda-an. Kehidupan tak dapat tumbuh, lantaran nilai-nilai kebundaan tak menyifati tubuh yang memelihara. Tatkala kecantikan ditawan sudut pandang tubuh belaka, ia kehilangan daya bebas dan membangun kesadaran pembebasan. Continue reading “KEKUASAAN, DIALOG, KECANTIKAN”

Bahasa »